Oleh Zhang Dongguang

Seiring dengan gagalnya negara-negara yang bergabung dalam OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) atau  Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi, untuk menyepakati dilakukannya pengurangan produksi minyak, harga minyak mentah West Texas (WTI) pekan lalu menurun sebanyak 9.5 %.

Harga  ditutup pada USD 44.07 per barel dari sebelumnya yang USD 50 per barel. Ini memecahkan rekor penurunan terbesar selama 10 bulan terakhir dan kian menjauhi harga batas psikologisnya yang USD 50.

Pertemuan untuk mengatur produksi minyak OPEC yang diadakan di Wina pada 28 Oktober 2016 lalu, tidak menghasilkan kesepakatan, sehingga membuat pasar gelisah. Ada laporan yang menyebutkan Arab Saudi mengancam akan menambah produksi minyaknya bila negara anggota lainnya tidak bersedia melakukan pemotongan produksi.

Meskipun rumor itu telah dibantah oleh Sekjen OPEC Mohammed Barkindo, tetapi belum mampu untuk menghentikan penurunan harga.

Mantan Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali Al Naimi memperingatkan bahwa pemotongan produksi yang dilakukan oleh negara-negara OPEC sendiri tidak dapat menstabilkan harga minyak di pasar, perlu adanya sinkronisasi pemotongan bersama-sama dengan negara penghasil minyak lainnya seperti AS dan Rusia baru akan efektif.

Namun masalah yang dihadapi sekarang adalah bahwa sebagian negara anggota OPEC masih saja menambah produksi minyak. Seperti Irak yang menyatakan produksi minyak mereka telah dinaikkan dari 4.59 juta barel menjadi 5 juta barel per hari.

Itu mereka lakukan, konon untuk mengkompensasi berkurangnya produksi minyak karena perang melawan IS/ Islamis State. Selain itu, negara anggota lainnya seperti Libya, Nigeria, Iran yang tidak ingin mengurangi produksi minyak bahkan pada Oktober juga meningkatkan produksi menjadi 400.000 barel per hari.

Jadi, faktor apa yang membuat pemotongan produksi minyak OPEC hanya diucapkan tapi tidak dilaksanakan?

Apakah itu karena mereka masih perlu untuk mewaspadai perkembangan minyak serpih (shale oil) AS?

Sebelum jatuhnya harga minyak pada 2014, produksi minyak serpih AS meningkat dengan kecepatan mencapai 1 juta barel per hari. Diperkirakan biaya produksi mereka adalah USD 60 per barel.

Jika saja harga minyak mentah di pasar meningkat cepat hingga melebihi angka tersebut akibat dari pemotongan produksi negara-negara OPEC, maka AS akan diuntungkan. Ini jelas menjadi bertolak belakang dengan pernyataan Arab Saudi pada 2014 yang menghendaki adanya peningkatan produksi dan meluncurkan perang harga, untuk mendesak AS keluar dari persaingan.

Faktor utama lainnya mungkin adalah ketika mobil listrik kian berkembang dan pemanfaatan energi surya bertumbuh pesat seperti saat ini, mereka telah meramalkan bahw permintaan minyak mentah akan menurun, dan harga secara jangka panjangnya masih mungkin untuk menurun.

Menurut laporan Komisi Energi Internasional (World Energy Council) bahwa permintaan akan bahan bakar minyak untuk kendaraan bermotor akan mencapai puncaknya pada 2030.

Pandangan Royal Dutch Shell (perusahaan energi terbesar kedua di Belanda) lebih pesimis, mereka bahkan memperkirakan bahwa puncak permintaan akan minyak mentah akan tiba 5 tahun dari sekarang (2021).

Dengan dilatarbelakangi oleh perkiraan bahwa puncak permintaan minyak mentah akan datang lebih awal, jadi tidak heran kalau OPEC sekarang menghadapi kesulitan untuk mengatur produksi minyak negara anggotanya. Dan para industriawan AS maupun Rusia kemudian berlomba untuk meningkatkan produksi minyak meski harga pasarnya sedang menurun.

Fluktuasi harga minyak mentah di pasar internasional baik sekarang atau di kemudian hari masih akan berlangsung  seiring dengan rumor pemotongan produksi. Tetapi setelah puncak permintaan telah dilalui nanti, harga akan menurun secara bertahap.

Dennis Gartman yang dijuluki ‘Raja Komoditas’ percaya bahwa OPEC sebenarnya sedang melakukan pembohongan terhadap pasar, pengurangan produksi minyak mereka tidak bisa dipercaya. Ia memperkirakan bahwa harga minyak USD 52 per barel dalam waktu dekat ini akan sulit untuk dapat ditembus. Tekanan jual akibat kepanikan mungkin saja akan membuat harga jatuh sampai USD 38 per barel. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular