Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang tiba di St, Petersburg pada Minggu (6/11/2016) siang untuk menghadiri pertemuan rutin Perdana Menteri Tiongkok – Rusia yang ke 21 dan kunjungan kenegaraan di Rusia.

Li Keqiang sudah meninggalkan Tiongkok sejak 2 November lalu, untuk melakukan kunjungan resmi ke Kyrgyzstan, Kazakhstan, Latvia dan Rusia. Selain itu ia juga menghadiri sejumlah pertemuan internasional seperti, Pertemuan Negara Anggota Shanghai Cooperation Organization yang ke 15, Pertemuan Pemimpin Tiongkok – Negara-negara Eropa timur dan tengah yang ke 5 dan lainnya. Rusia dijadikan stasiun terakhir dalam kunjungan panjang Li Keqiang kali ini.

Li Keqiang pada Senin lalu, telah bertemu dengan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev. Pertemuan kedua perdana menteri ke 21 itu juga dihadiri oleh para menteri dan pejabat berwenang Rusia yang bertanggung jawab atas investasi, energi, industri militer dan humaniora, pengembangan Timur Jauh, pembangunan perkeretaapian, eksplorasi minyak dan gas bumi, energi nuklir serta bidang lainnya. Pertemuan diakhiri dengan kedua belah pihak menandatangani serangkaian dokumen.

Perdagangan

Rusia dan Tiongkok ingin bersama-sama mengambil langkah untuk meningkatkan hubungan perdagangan bilateral yang telah cenderung menurun. Meskipun Tiongkok selama 6 tahun berturut-turut menjadi mitra dagang terbesar Rusia, tetapi andil Rusia dalam perdagangan luar negeri Tiongkok relatif kecil, hanya berada di urutan ke 16 dari mitra dagang Tiongkok.

Data resmi menunjukkan volume perdagangan bilateral dari akhir 2013 hingga akhir 2015 mengalami penurunan sampai lebih dari 30 % tinggal senilai EUR 55.3 miliar.

Akibat menurunnya harga minyak mentah internasional, ditambah lagi dengan serangkaian sanksi oleh negara Barat kepada Rusia atas krisis di Ukraina, membuat Rusia juga mengalami krisis ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Dmitry Medvedev kepada media lokal mengatakan bahwa penurunan jumlah perdagangan impor barang dari Tiongkok sangat dipengaruhi oleh melemahnya nilai Rubel.

Ekspor Rusia ke Tiongkok terutama adalah energi dan bahan mentah. Rusia selama bertahun-tahun mengharap adanya perubahan struktur ekspor tersebut, ingin mengekspor lebih banyak komoditas lainnya ke Tiongkok. Sejak tahun lalu, produk pertanian Rusia mulai memasok pasar Tiongkok, tetapi kerjasama di bidang tersebut tampaknya belum berjalan mulus.

Bidang energi

Sebagaimana dilaporkan oleh VoA bahwa sebuah perusahaan holding Beijing yang terdaftar di bursa Hongkong telah memutuskan untuk mengakuisisi 20 % saham sebuah perusahaan yang menguasai ladang minyak dan gas di bagian timur Siberia.

Perusahaan tersenut merupakan anak perusahaan minyak Rusia RussNeft. Ladang  tersebut sudah ditemukan di era Uni Soviet, tetapi karena letaknya di utara wilayah Irkutsk. Selain jarang penduduknya juga cuacanya sangat dingin, infrastruktur seperti jalan dan lainnya juga sangat tidak memadai.

Sementara itu, perusahaan energi milik negara Tiongkok lainnya juga sedang bernegosiasi untuk mengakuisisi sebagian saham dari salah satu anak perusahaan RussNeft yang memiliki ladang minyak dan gas alam di wilayah Yakutia.

Akibat dimusuhi Barat, Rusia belakangan lebih dekat dengan Tiongkok, tetapi tidak berarti bahwa Tiongkok dapat dengan mudah untuk mengakuisisi aset energi yang baik milik Rusia.

Salah satu anak perusahaan RussNeft yang menguasai ladang minyak berkualitas tinggi di Rusia, Vankor hampir 50 % sahamnya sudah dijual ke India. Walau Tiongkok juga terus berupaya untuk menguasai sebagian saham dari perusahaan tersebut, tetapi negosiasi selalu mengalami kegagalan. Minyak yang diimpor Tiongkok dari Rusia berasal dari ladang milik perusahaan Vankor.

Pengembangan Timur Jauh dan Timur Laut

Beberapa tahun lalu, Presiden Putin pernah menandatangani kerjasama dengan Hu Jintao untuk bersama-sama mengembangkan wilayah Timur Jauh dan Timur Laut. Tetapi proyek tersebut tidak berkelanjutan sampai sekarang baru disebut lagi akan diteruskan.

Li Keqiang telah berusaha untuk mengekspor perkeretaapian berkecepatan tinggi Tiongkok ke beberapa negara asing. Pembangunan proyek kereta api cepat antara Moskow dengan Kazan, Tatarstan sudah dibahas oleh kedua belah pihak sejak beberapa tahun lalu, tetapi masih terhambat  pada beberapa masalah dan tawar menawar masih dilakukan hingga kini.

Rusia juga ingin memperluas ekspor jenis produk pertanian mereka ke Tiongkok. Namun produk Rusia masih menghadapi berbagai kendala saat melewati Bea Cukai Tiongkok. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular