Ada Lumba-Lumba Langka Tanpa Sirip di Perairan Kubu Raya

339
Finless Porpoise (Sumber Foto : MarineBio.org)

PONTIANAK – Mamalia laut yang terjaring oleh nelayan di wilayah perairan Kubu Raya pada bulan April 2016 di Kecamatan Padang Tikar, Kalimantan Barat, dipastikan adalah jenis lumba-lumba tanpa sirip (Finless Porpoise).

Hal ini dibuktikan dari hasil tes DNA yang selama 7 bulan terakhir dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Barat bersama WWF-Indonesia yang bekerja sama dengan Indonesian Biodiversity Research Centre Universitas Udayana.

Lumba-lumba tanpa sirip termasuk ke dalam kelompok Cetacean paling kecil, umumnya berukuran kurang dari dua meter. Mamalia laut lain yang termasuk ke dalam golongan Cetacean adalah paus, lumba-lumba dan pesut.

Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia, Albertus Tjiu mengatakan bahwa hasil tes DNA terhadap jenis lumba-lumba tanpa sirip – yang dijumpai di perairan Kubu Raya beberapa waktu lalu – sangat penting, mengingat minimnya data terkait satwa ini di dunia.

“Porpoise berbeda dengan Cetacean lainnya, ia merupakan hewan pemalu dan bukan hewan akrobatik, sehingga jarang terlihat di permukaan, kecuali saat ia ingin bernapas. Sedangkan lumba-lumba, umumnya interaktif, senang melompat tinggi sehingga sering terlihat dekat dengan nelayan dan bisa dilakukan pengamatan,” katanya dalam rilis WWF Indonesia, Selasa (8/11/2016).

Oleh karena itu, bagi WWF Indonesia, penelitian Porpoise menjadi sulit dilakukan mengingat minimnya perjumpaan terhadap satwa perairan jenis ini di berbagai lokasi di dunia, dan di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian khusus terhadap spesies ini.

Untuk itu, bagi WWF Indonesia, penemuan spesies ini di wilayah Kubu Raya menambah informasi penting tentang keberadaan dan sebaran spesies lumba-lumba tanpa sirip di Indonesia. Selain itu, informasi ini juga akan disampaikan pada acara 2nd Southeast Asian Marine Mammal Stranding Network Symposium – Workshop-Training.

Temuan mamalia laut lainnya, yaitu paus yang terdampar pada bulan Oktober kemarin di Padang Tikar, Kecamatan Batu Ampar, serta temuan pesut hasil survei WWF-Indonesia sejak tahun 2011, semakin membuktikan bahwa perairan Kubu Raya adalah habitat penting bagi mamalia laut. Dari 88 jenis Cetacean yang ada di dunia, 34 diantaranya terdapat di Indonesia, dan 3 diantaranya bisa dijumpai di wilayah perairan Kabupaten Kubu Raya dengan komposisi jenis yang lengkap.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sustyo Iriyono juga menambahkan bahwa temuan-temuan ini patut dibanggakan, karena semakin menunjukkan bahwa Kubu Raya menjadi wilayah yang memiliki keragaman spesies yang tinggi, mulai dari daratan sampai laut.

Menurut dia, sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat mengenai keberadaan mamalia laut ini perlu dilakukan sebagai rencana aksi bersama, mengingat hewan-hewan ini masuk ke dalam kategori hewan yang dilindungi berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 dan PP No. 7 tahun 1999. Di samping itu, perlu dijaga dan dilindungi habitatnya, sehingga habitat satwa tersebut bisa ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial.

Tingginya keanekaragaman hayati di Kubu Raya, perlu upaya konservasi yang komprehensif. WWF-Indonesia, sejak tahun 2015 telah mendeklarasikan wilayah penting yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi di Kubu Raya dengan sebutan Lansekap Kubu.

Pengelolaan berbasis lansekap atau bentang alam adalah bagian dari strategi WWF-Indonesia untuk menciptakan efektivitas pengelolaan di suatu wilayah. Sebutan Lansekap Kubu juga ditujukan sebagai upaya untuk menciptakan ikon suatu wilayah, sehingga masyarakat luas mudah untuk mengenalinya. (asr)