Morning Sickness atau mual di pagi hari yang dialami oleh ibu hamil ditakuti oleh calon ibu, yang sebenarnya merupakan pertanda baik untuk bayi di dalam kandungan, demikian yang dibuktikan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Wanita yang mengalami mual di awal kehamilan berkurang setengah risikonya untuk mengalami keguguran dan bayi lahir meninggal. Keguguran juga jarang dialami oleh wanita yang mengalami mual disertai muntah, namun wanita yang hanya mengalami mual jauh lebih jarang mengalami keguguran.

Dipimpin oleh peneliti di Institut Nasional Kesehatan Anak dan Pengembangan Manusia di Amerika Serikat, penelitian melibatkan hampir 800 wanita yang paling sedikit telah mengalami satu kali keguguran dan kemudian hamil kembali. Para wanita tersebut diminta untuk merekam gejala di buku harian setiap hari selama delapan minggu pertama kehamilan dan mengisi kuesioner bulanan sampai akhir trimester pertama kehamilan.

Stefanie Hinkle, penulis utama dan seorang peneliti di Institut Nasional, menyebut penelitian tersebut adalah penelitian yang paling terpaku untuk topik tersebut, tetapi juga mencatat bahwa tidak jelas apakah hasil penelitian akan berlaku untuk kehamilan pertama kali.

Hasil penelitian diterbitkan Senin, 26 September 2016 di JAMA Internal Medicine.

Ada 188 kasus keguguran dan bayi lahir meninggal, yang memengaruhi hampir 1 dari 4 kehamilan, yang mirip dengan estimasi nasional. Lebih dari 90 persen terjadi pada trimester pertama kehamilan.

Dari hampir 800 wanita hamil dalam penelitian ini, 443 wanita hamil menyelesaikan buku harian setiap hari, dan lebih dari setengahnya melaporkan mual sampai minggu kedelapan kehamilan, juga mirip dengan estimasi nasional. Sekitar satu dari empat wanita hamil mengalami mual dan muntah. Peneliti kemudian menggunakan analisis statistik untuk menghitung kejadian mual saja, atau kejadian mual disertai muntah, dikaitkan dengan berkurangnya risiko keguguran hingga 50 persen menjadi 75 persen.

Tidak seperti beberapa penelitian sebelumnya yang menghubungkan morning sickness dengan kasus keguguran lebih sedikit terjadi. Penelitian baru ini telah mendata para wanita sebelum mereka hamil, sehingga data mampu mencakup kasus keguguran yang terjadi segera setelah pembuahan. Beberapa penelitian sebelumnya meminta para wanita beberapa bulan kemudian untuk mengingat apakah mereka mengalami morning sickness — suatu metode yang lebih lemah dibandingkan dengan menggunakan catatan harian.

Penyebab morning sickness belum diketahui dengan pasti, tetapi telah dikaitkan dengan kadar hormon yang tinggi yang terjadi pada awal kehamilan. Bagaimana morning sickness mengurangi kesempatan terjadinya keguguran juga belum diketahui dengan pasti. Teori yang ada meliputi gagasan bahwa mual membuat wanita hamil menghindari zat berbahaya, termasuk makanan yang terkontaminasi dengan bakteri, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran.

Hinkle mengatakan hasil penelitian harus meyakinkan wanita yang khawatir bahwa morning sickness adalah berbahaya. Tetapi dia mengatakan bahwa wanita tidak terpengaruh akan hal ini tidak perlu khawatir.

“Setiap kehamilan adalah berbeda dan jika kehamilan tidak memiliki gejala tidak berarti kehamilan tersebut akan mengalami keguguran,” kata Hinkle.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular