Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa anak-anak usia prasekolah penderita alergi kacang mulai dapat menikmati makan kacang setelah diberi immunoterapi melalui mulut.

Temuan ini memastikan dan memperluas hasil temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa pemberian immunoterapi melalui mulut dapat melindungi anak dari reaksi anafilaksis (reaksi alergi yang menyerang lebih dari satu fungsi organ tubuh) yang berpotensi mengancam nyawa akibat terpapar dengan kacang.

Dua hasil uji klinis yang dipublikasikan secara online dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology, menunjukkan bahwa satu bulan setelah menyelesaikan protokol immunoterapi melalui mulut, hampir 80 persen peserta percobaan mencapai “mempertahankan kondisi tidak terjadi reaksi alergi,” angka persentase tertinggi yang belum pernah dilaporkan sebelumnya.

“Temuan ini, jika dipastikan dalam penelitian yang lebih besar, dapat mengubah cara merawat anak penderita alergi kacang sejak awal kehidupan,” kata Brian P. Vickery, peneliti utama percobaan dan asisten profesor ilmu penyakit anak di Universitas North Carolina di Chapel Hill, AS.

Sekitar 3 juta orang di Amerika Serikat melaporkan menderita alergi terhadap kacang tanah dan tree nut ( Almond, kacang Brazil, cashew, hazelnut, macadamia, pecan, pine nut, pistachio, dan walnut. Menurut sebuah penelitian yang dirilis pada tahun 2013 oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, alergi makanan pada anak-anak meningkat sekitar 50 persen antara tahun 1997 sampai tahun 2011.

Reaksi awal alergi terhadap kacang sering terjadi dalam tahun pertama atau tahun kedua kehidupan, dan kondisi tersebut terus berlangsung pada 80 persen penderita alergi terhadap kacang , sehingga seumur hidupnya berisiko mengalami reaksi anafilaksis.

Berdasarkan penelitian lain yang menunjukkan bahwa alergi kacang semakin memburuk dari waktu ke waktu, peneliti mendaftarkan 40 anak penderita alergi terhadap kacang yang berusia 9 bulan sampai 36 bulan dalam percobaan, penelitian pertama kali yang dilakukan secara khusus menargetkan anak-anak di bawah usia tiga tahun.

Anak-anak secara acak diminta untuk menerima dosis tinggi immunoterapi melalui mulut yaitu makan 3.000 miligram protein kacang atau dosis rendah 300 miligram protein kacang setiap hari.

Percobaan ini adalah double-blinded, artinya tidak satu pun baik peneliti atau peserta tahu siapa yang mendapat protein kacang atau yang mendapat plasebo. Peserta ada yang mengonsumsi 3.000 miligram protein kacang. Tetapi untuk peserta yang mengonsumsi dosis rendah 300 miligram, ditambahkan 2.700 miligram plasebo. Seperti pada penelitian sebelumnya, hampir semua peserta mengalami beberapa efek samping, yang sebagian besar adalah ringan dan diperlukan sedikit atau tidak ada perawatan.

Setelah mengonsumsi immunoterapi melalui mulut selama rata-rata 29 bulan, peserta dibebaskan dari paparan kacang selama empat minggu sebelum akhirnya menjalani tantangan paparan terhadap kacang di mana peserta diminta untuk menelan sejumlah kecil kacang dalam pengaturan terkontrol.

Jika tantangan paparan terhadap kacang ini berhasil, maka dokter akan memberi jumlah normal kacang , seperti selai kacang dan sandwich yang berisi jelly kacang ke dalam diet peserta. Setelah periode empat minggu, hampir 80 persen anak-anak yang mengonsumsi dosis tinggi maupun dosis rendah kacang tidak menunjukkan respons alergi dan kondisi tidak menunjukkan respons alergi ini terus berlangsung.

Anak-anak yang menerima immunoterapi melalui mulut dibandingkan dengan kelompok kontrol yang sesuai yang terdiri dari 154 anak penderita alergi kacang yang tidak makan kacang. Anak-anak yang menerima immunoterapi melalui mulut mengalami perubahan yang bermanfaat dalam respons kekebalan tubuhnya terhadap kacang dan 19 kali lebih berhasil menerima kacang ke dalam dietnya tanpa mengalami reaksi alergi.

“Alergi terhadap kacang dapat menyebabkan keadaan yang parah, dan alergi terhadap kacang semakin banyak diderita oleh anak-anak daripada sebelumnya. Kami berhipotesis bahwa anak-anak usia prasekolah yang baru saja didiagnosa menderita alergi terhadap kacang memberi respons yang lebih baik terhadap pengobatan, dan temuan kami menunjukkan bahwa memang demikian keadaannya. Immunoterapi melalui mulut yang diberikan secara dini adalah pendekatan yang sangat menjanjikan untuk pengobatan alergi terhadap kacang tanah yang sangat dibutuhkan.” kata Brian P. Vickery.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular