Baru-baru ini saya melihat sebuah video di Youtube dari Amerika Serikat: seorang pemuda yang sangat stylish, pertama sengaja berpakaian seperti gelandangan, pergi ke sebuah restoran besar, meskipun dia bilang dia bisa membayar, tetapi pelayan tidak mengizinkannya memasuki restoran, tetapi dengan sopan menyarankannya pergi ke tempat lain untuk makan malam. Dia mencoba beberapa restoran terjadi hal yang sama.

Lalu dia menukar bajunya dengan model modis, menyetir sebuah mobil sport mewah, dia pergi ke restoran yang tadi menolaknya, pelayan dengan sopan menyambutnya. Tetapi kemudian ia mengingatkan pelayan, dia tadi sudah datang tapi ditolak, dan berkata : “Saya tiba-tiba tidak ingin makan lagi, karena sikap Anda membuat saya muak,” lalu berlalu dari sana. Pelayan diomel-omeli didepan banyak orang itu sungguh merasa malu.

Ketika saya masih kecil melihat adegan demikian saya merasa sangat senang, karena dia telah membalas dendam dan seolah membela si miskin, sehingga membuat orang yang menilai orang dari penampilan luar mendapat  pelajaran. Tetapi sekarang saya benar-benar tidak berpikir demikian.

Setelah menonton video ini saya merasa sedih. Rupanya pemuda ingin melakukan sesuatu:”keadilan”, tapi dia memilih objek yang salah. Seorang pelayan apabila membiarkan gelandangan yang berpakaian compang-camping dan bau masuk ke restoran, dia akan segera dipecat. Pelayan saat ini tidak ada ruang pribadi untuk pilihan. Dia harus mempertimbangkan perasaan pelanggan lain dan bosnya. Meskipun dia sangat simpatik kepada gelandangan, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Tantangan aktor video ini adalah sistem nilai masyarakat, tapi dalam sistim ini dia memilih yang paling tak berdaya, kelas terendah. Dan metode yang diambil adalah profiling (dengan perbandingan dari dua sikap sopan pelayan yang luar biasa pada kasus yang berbeda, sehingga menempatkan mereka di masalah moral), tetapi dengan bahasa lain juga merupakan penghinaan. Pendekatannya tidak memberikan kontribusi untuk meningkatkan standar etika masyarakat, tetapi memaksakan menerapkan cara yang diinginkan untuk menangani penolakan dan penghinaan untuk melampiaskan keluhan dan kekesalannya. Membalas perlakuan tidak menyenangkan, untuk melampiaskan emosinya, tidak akan memecahkan masalah. Hasilnya hanya akan saling menyakiti, hanya akan membuat masalah moral sosial menjadi semakin buruk.

Lalu apakah masih ada cara yang lebih baik untuk melakukannya? Saya menemukan praktisi Falun Dafa bertindak berbeda dari masyarakat umum. Sebuah olah jiwa raga yang populer di Tiongkok dan telah menyebar ke seluruh dunia karena manfaatnya, namun saat ini didalam negeri Tiongkok tengah ditindas oleh partai komunis. Dalam menghadapi media propaganda partai komunis yang memfitnah mereka, atau dihina oleh kelompok orang yang berpikiran buruk karena termakan bualan partai komunis mengenai mereka, mereka tidak melarikan diri, juga tidak melawan. Tapi bertindak dengan kebaikan murni dalam berbagai cara untuk membuat orang untuk memahami kebenaran. Ketika saya tinggal di Tiongkok, saya mendapatkan brosur bahan klarifikasi Falun Gong yang secara diam-diam digantung di pintu, di luar negeri dapat melihat mereka latihan, bermeditasi atau dengan lembut dan ramah membagi-bagikan brosur dengan cara yang wajar dan tidak memaksa. Selama bertahun-tahun, mereka tidak hanya mendapat simpatik dari masyarakat, tetapi juga semakin banyak orang setuju dengan sepenuh hati pedoman Falun Gong “Sejati, Baik dan Sabar”. Mungkin ini adalah cara terbaik dan nyata untuk menyelamatkan moralitas manusia.

 

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular