Baik buruknya kualitas kepribadian seseorang tercermin di antara kata yang diucapkan, jika ada seseorang yang berbicara seperti ini di sekitar Anda, kalau bisa menghindar sebaiknya hindari dan tinggalkan.

Orang yang terlalu jujur dan terus terang

Terkadang kejujuran dan keterus terangan orang seperti ini melampaui batas, bahkan suka menjadikan kejujuran dan keterus-terangannya itu sebagai alasannya untuk menyakiti orang lain, menganggap lidah tajamnya itu sebagai suatu maksud yang baik.

Tidak salah memang sebagai pribadi orang yang jujur dan terus terang, tapi kalau kejujuran dan keterus-terangan itu sampai menyakiti orang itu salah.

Ketika Anda bilang mau mengikuti ujian masuk ke perguruan tinggi, ia justru berkata : “Kau begitu bodoh, bisa lulus tingkat pra sarjana juga sudah lumayan” ; Ketika Anda menikahi seorang istri yang cantik, ia malah mengatakan : “Kau begitu jelek, tapi ada juga yang buta matanya” ; Ketika Anda mengatakan idola Anda adalah Mandra, ia justru berkata : “Orang jelek memang biasanya suka yang jelek juga”.

Mereka yang bicaranya blak-blakan (terlalu jujur), sekitar 80% juga tidak akan mempertimbangkan perasaan orang lain dalam pergaulannya, selama ia menganggap dirinya benar, ia akan berkata blak-blakan, tidak peduli dengan perasaan orang lain yang mendengarnya. Ada kalanya maksud baik dan menunjukkan perhatian (memahami situasi seseorang, baik secara fisik atau non-fisik) itu jauh lebih penting daripada kejujuran yang menyakiti perasaan.

Orang yang selalu bicara menurut kebenaran logikanya

Sosok orang seperti ini bagaikan semangkuk sup ayam yang berjalan, kerap menanamkan dalilnya ke telinga Anda :

Ketika seseorang meminta maaf setelah menyakiti Anda, ia akan berkata : “Maafkan orang lain, sama juga dengan memaafkan dirimu, berjiwa besar, toleran dan lapang dada.”

Ketika Anda belum menikah juga di usia kepala tiga, ia akan berkata : “Daripada hebat dalam pekerjaan apa pun, lebih baik menikah saja, menikah dan melahirkan anak-anak barulah hal yang paling utama bagi sepanjang hidup.”

Semua tahu dengan argumen atau dalil-dalil ini, tetapi jika memilih untuk memaafkan orang lain akan membuat diri kita terbelenggu, maka tidak perlu berpijak pada moralitas sebagaimana dalam pandangannya, yang hanya akan menambah luka lama Anda. Jika dalam usia tertentu belum juga menemukan sosok orang yang cocok, sebaiknya jangan sampai mengacaukan hati Anda karena mulutnya, mungkin asmaramu agak terlambat, tapi yang pasti akan tiba saatnya. Sosok orang yang selalu menggantungkan segala macam dalil di bibirnya ini, dipastikan dalam kesehariannya juga ibarat tong kosong nyaring bunyinya, memahami begitu banyak akan dalil-dalil kebenaran, tetapi kehidupannya sendiri juga tetap tidak lebih baik.

Sosok orang yang suka melamun/ tidak serius

Adalah hal yang sangat melelahkan bicara dengan orang seperti ini.

Masalah yang awalnya bisa diselesaikan dalam waktu beberapa menit, tapi tetap saja masih seputar masalah itu, meski sudah lebih dari dua jam bicara dengannya. Masalah yang baru saja dijelaskan masih saja ia tanyakan berulang kali, terkadang belum juga selesai bicara, pembicaraan itu telah dipotong olehnya.

Orang-orang seperti ini bukan bodoh, tapi sama sekali tidak memasukkan kata-kata Anda dalam hati, mendengarkan dengan serius dan menyimaknya. Komunikasi yang sebenarnya bukan terletak pada jumlah kata-kata, tetapi baik buruknya sikap, jika seseorang selalu tidak konsen pada suatu pembicaraan saat sedang berbicara, kerap memotong pembicaraan yang sedang berlangsung, maka Anda juga tidak perlu bicara banyak dengannya, karena dalam hatinya ia sama sekali tidak memandang Anda sebagai teman, bahkan rasa hormat yang paling dasar pun tidak ada pada dirinya.

Waktu semakin berharga, sebaiknya Anda menyaringnya dengan cermat, berikan saja kata-kata Anda itu kepada mereka yang bicaranya membuat rasa nyaman dan tidak melelahkan. (Secretchina/Jhn/Yant)

Share

Video Popular