Oleh: Gao Tianyun

Sang pria memberikan setengah livernya, sang wanita membalas dengan sepenuh hati. Romantika cinta “dalam dirimu ada aku, dalam diriku ada kamu” itu begitu indah menyentuh hati.

Wanita Amerika bernama Heather Kruger berdiam di kota Frankfurter, Will County, Illinois AS. Pada 2014, Heather yang berusia 25 tahun menderita penyakit liver stadium empat dan hanya bisa bertahan hidup beberapa bulan.

Antrian menunggu donasi liver butuh waktu bertahun-tahun, dia sudah tidak bisa menunggu lagi. Banyak orang rela membantu, tapi tidak ada yang bisa melewati uji kecocokan, karena transplantasi liver hidup-hidup mutlak harus memenuhi tiga syarat: berbadan sehat, golongan darah sama, ukuran liver mendekati.

Di saat itulah seorang pria tak dikenal bernama Chris Dempsey seolah “turun dari langit”, ia menelepon Heather dan berkata, dirinya telah lolos uji kecocokan.

Ternyata, secara kebetulan Chris mendengar kondisi penyakit yang diderita Heather dari perbincangan seorang kerabatnya, Chris pun mengajukan diri untuk melakukan uji kecocokan. Setelah peristiwa itu Chris mengatakan pada reporter stasiun TV, ia pernah mengabdi di AL selama 4 tahun, dan belajar untuk tidak lari dari masalah apa pun. Ia berkata, “Jika saya bisa membantu, maka akan saya bantu.”

Kemudian, Chris mengajak Heather untuk bertemu, membahas soal transplantasi tersebut. Chris berkata pada Heather, “Kau tidak berhutang apa pun padaku.”

Pada Maret 2015, setelah melalui operasi selama 8 jam lamanya, seluruh liver Heather berhasil diangkat, dan dicangkokkan setengah dari liver Chris padanya. Pasca operasi itu, liver keduanya mengalami pertumbuhan kembali, dan kesehatan fisik mereka pun kembali normal. Sejak saling mengenal, baik Chris maupun Heather saling tertarik satu sama lain, perasaan itu pun kian bertambah kuat, dan terus berkembang menjadi cinta romantis.

Oktober tahun ini, keduanya melangsungkan pernikahan di gereja. Sambil meneteskan air mata, mempelai wanita berkata pada mempelai pria, “Kau adalah orang yang paling luar biasa yang pernah kukenal. Kau mempercayaiku, membuatku setiap hari merasakan kejutan. Karena kau, senyumku mengembang, dan berani memiliki impian lagi.”

Chris menyeka air mata Heather, memeluk dan menciumnya, semua teman dan kerabat bertepuk tangan dan bersorak meriah. Netizen yang antusias meninggalkan pesan, “Semoga ada lebih banyak kisah seperti ini!” “Peristiwa ini sungguh mengejutkan -hati manusia ternyata bisa sekaya ini.” “Betapa kisah yang manis! Semoga mereka berbahagia.”

Kini seiring dengan perkembangan teknik kedokteran, transplantasi organ menjadi suatu cara menyelamatkan pasien. Banyak organ tubuh manusia bisa dicangkokkan dari tubuh pendonor kepada penerimanya, antara lain jantung, liver, ginjal, retina, kulit, dan lain-lain. Pendonor bisa dari orang yang baru saja meninggal dunia, juga mungkin dari orang berbadan sehat yang masih hidup.

Cangkok organ mencakup aspek kedokteran, moralitas, dan harus memenuhi syarat “atas kerelaan” dari sang pendonor. Pemahaman dari para pakar dan masyarakat luas adalah: siapa pun tidak mempunyai hak untuk membunuh demi mendapatkan organ tubuh seseorang hanya untuk menyelamatkan pasien yang sekarat.

Di AS terdapat sebanyak 120 juta jiwa warga AS yang rela menjadi pendonor, akan tetapi ketersediaan organ tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan. Menurut laporan Departemen Kesehatan AS di tahun 2007, rata-rata masa tunggu untuk cangkok liver adalah 2 tahun.

Itulah yang membuat Heather putus asa begitu divonis mengidap penyakit tersebut. Dia berkata, waktu itu dia merasa dirinya telah “tertutup”. Karena kondisi seperti ini, banyak pasien yang membutuhkan cangkok organ menyebarkan informasi lewat internet dan jalur lain, dengan harapan ada orang berhati mulia memberikan bantuan.

Tapi meskipun ada orang dermawan, belum tentu bisa memenuhi kecocokannya. Untuk mencari pendonor yang sesuai lebih sulit daripada mencari jarum di tengah tumpukan jerami. Jadi munculnya Chris adalah jodoh dan takdir yang telah digariskan.

Kisah pendonoran yang mengharukan memang sudah tidak jarang terdengar, orang yang dermawan seperti Chris juga masih banyak. 30 Agustus 2016 lalu, CBS Amerika memberitakan hakim negara bagian Wisconsin bernama Derek Mosley menerima donor ginjal dari rekan kerjanya. Pada 2014 lalu Mosley telah didiagnosa menderita gagal ginjal stadium akhir. Dokter mengatakan padanya, ia bakal “segera” mendapatkan donor ginjal, tapi yang yang dimaksud dengan “segera” itu adalah penantian selama lima sampai enam tahun.

Rekan kerjanya, Hakim Joan Erin yang berusia 58 tahun memutuskan untuk membantunya. Cangkok ginjal berhasil dilakukan, kesehatan Mosley pun pulih. Erin berkata, “Saya hanya berpikir mengupayakan segala kemungkinan untuk membantu teman, saya tidak merasa seperti pahlawan. Ini adalah saya yang sesungguhnya, dalam proses pertumbuhan saya diajarkan begitu.”

24 Mei, guru sekolah dasar negara bagian Wisconsin bernama Jodi Schmidt mendonorkan sebuah ginjalnya pada seorang pelajar perempuan sekolah itu bernama Natasha Fuller. Schmidt menyatakan, mendonorkan ginjal pada Fuller adalah keputusannya yang paling membanggakan seumur hidupnya.

Akhir tahun lalu, wakil kepala sekolah sebuah sekolah lanjutan di negara bagian California bernama Christine Boer yang berusia 45 tahun mendonorkan ginjalnya bagi seorang pemuda bernama Sanders yang berusia 19 tahun. Lewat facebook Boer mengetahui bahwa Sanders didiagnosa mengalami penyakit ginjal stadium akhir, ia pun segera memutuskan untuk menolong mantan muridnya itu.

Waktu itu, rumah sakit yang melakukan operasi tersebut yakni Rumah Sakit University of California San Francisco, belum lama sebelumnya juga melakukan operasi cangkok organ yang menyebabkan seorang pendonor meninggal dunia, sehingga pihak rumah sakit memutuskan untuk menghentikan sementara operasa cangkok ginjal. Operasi cangkok ginjal Boer semestinya bisa dibatalkan, tapi ia bersikukuh untuk dilakukan. Suami dan kedua putrinya juga mendukung keputusannya. Ia bahkan memilih hari libur untuk melakukan operasi cangkok tersebut agar tidak mengganggu aktivitas kerja di sekolah.

Enam tahun lalu, walikota dari kota East New Haven di negara bagian Connecticut bernama Capone Almonte mendonorkan ginjalnya bagi seorang warga bernama Sanchez. Sanchez menderita penyakit diabetes yang menyebabkan gagal ginjal, di akun facebook-nya Almonte melihat pesan meminta pertolongannya, dan memutuskan untuk menolong warganya tersebut. Almonte menyatakan, hal ini tidak ada yang perlu dibesarkan, dirinya juga tidak merasa istimewa, setiap orang bisa saja berusaha membantu orang lain.

Mendonorkan sebagian dari tubuh kita bagi kerabat, teman, rekan kerja, bahkan orang yang tidak kita kenal untuk mengakhiri penderitaan dan menyelamatkan hidup mereka tanpa pamrih, tindakan seperti ini begitu mulia. Cerita tentang cangkok organ seperti ini, begitu suci dan bening, dan menghangatkan hati manusia. Di akhir acara yang memberitakan tentang Chris dan Heather, pembawa acara CBS berkata, “Jika Anda berbuat lebih banyak agar orang lain tetap hidup, maka Anda lebih mungkin memperoleh kebahagiaan.” (sud/whs/rmat)

Share
Tag: Kategori: SERBA SERBI

Video Popular