Oleh Wen Shufan

Xi Jinping mengucapkan selamat melalui sambungan telepon kepada presiden baru AS Donald Trump pada Rabu (9/11/2016), berharap adanya hubungan AS – Tiongkok yang lebih baik di masa mendatang.

Dalam pesannya Xi Jinping mengatakan bahwa AS dan Tiongkok yang saat ini merupakan 2 negara berkembang dan memegang peran penting dalam perekonomian dunia membutuhkan sebuah hubungan jangka panjang yang sehat dan stabil sejalan dengan kepentingan kedua negara.

Mengharapkan kedua negara untuk memperluas kerjasama saling menguntungkan pada tingkat bilateral, regional dan global. Bersama-sama menangani perbedaan melalui cara yang konstruktif, dan mengawali sebuah langkah kemajuan yang lebih besar.

Li Yuanchao dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Partai Komunis Tiongkok juga menyampaikan selamat melalui sambungan telepon kepada Mike Pence yang terpilih sebagai Wakil Presiden AS yang baru.

Dalam pemilihan umum kali ini, Partai Republik AS selain memenangkan kursi presiden, juga memperoleh status mayoritas di 2 lembaga tertinggi AS yaitu DPR dan Senat. Ini berarti bahwa Partai Republik dalam beberapa tahun ke depan akan menjalankan pemerintahan yang konservatif.

Sebelum pemilihan presiden, kebijakan AS – Tiongkok yang akan diterapkan oleh Trump ataupun Hillary terus menjadi fokus perhatian masyarakat dunia.

Dalam kampanyenya, Trump berulang kali mengkritik dan menuduh Tiongkok melakukan persaingan yang tidak sehat.

Dalam kampanye yang berlangsung pada Maret tahun ini, Trump telah berjanji akan mempublikasikan kepada dunia pada hari pertama ia terpilih sebagai presiden bahwa Tiongkok adalah negara manipulator mata uang, dan akan mendesak adanya perubahan susunan kekuatan di Laut Timur dan Selatan Tiongkok.

Dalam wawancara dengan wartawan media pada 12 September lalu Trump mengatakan bahwa AS memiliki ‘Kemampuan sangat besar’ untuk dapat mengendalikan dan mengimbangi kekuatan Tiongkok, karena ekonomi Tiongkok akan memperoleh keuntungan dari produk keperluan sehari-hari yang mereka ekspor ke Amerika.

Trump berulang kali mengkritik Tiongkok berkaitan dengan kebijakan ekspor, devaluasi mata uang Renminbi, pencurian kekayaan intelektual milik AS dan isu lainya. Ia bahkan mengatakan bahwa jika sudah terpilih sebagai presiden nanti, maka ia akan menambah pajak bagi barang-barang yang diekspor Tiongkok ke AS. Selain itu, berusaha untuk mengurangi pajak bagi perusahaan-perusahaan AS, menurunkan jumlah hutang nasional. Ia berjanji akan meningkatkan kehadiran militer AS di wilayah Asia-Pasifik. Dengan demikian Trump percaya bahwa semua ini akan  memperkuat pembicaraan Washington di Beijing.

Sebelum pemilu, Ketua Republican National committeeman California, Shawn  Steel saat diwawancarai Epoch Times dan NTDTV mengatakan, “Trump menyadari bahwa rakyat AS yang menganggap dirinya adalah orang-orang khusus  yang berdiri di atas puncak, merasa mampu untuk memberikan  kebebasan nyata, kebebasan beragama kepada semua orang di dunia”.

Steel mengatakan, Partai Republik maupun Donald Trump mengetahui bahwa Tiongkok komunis adalah negara totaliter dan benar-benar korup. Komunis didominasi oleh sekelompok preman yang sangat licik, tidak ada bedanya dengan mafia di Italia.

Dalam menanggapi soal bagaimana Trump menangani isu penganiayaan Falun Gong setelah ia terpilih sebagai presiden, Shawn Steel mengatakan bahwa ada sejumlah ahli yang menguasai isu tersebut juga bergabung dalam barisan Donald Trump. Dan hampir semua orang Partai Republik tahu tentang (PKT) pengambilan paksa organ tubuh.

Dan menghadapi kelompok masyarakat yang beriman dan penuh rasa damai seperti Falun Gong, PKT yang terdiri dari orang-orang paling jahat di dunia melalui pembunuhan massal terhadap para praktisi Sejati-Baik-Sabar di Tiongkok sebagai tujuan PKT untuk mencapai hasil pembasmian, tambahnya.

“Setelah kita berkuasa nanti, kita harus mengedepankan dan membiarkan lebih banyak lagi orang tahu seberapa serius masalah tersebut”, demikian kata Steel. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular