Oleh: Qin Yufei

Tiongkok pernah menjadi negara kelahiran 4 penemuan besar: kertas, mesiu, percetakan dan kompas. Negeri Tiongkok zaman dahulu terkemuka dalam iptek sehingga diidolakan.

Pada abad ke-18, setelah misionaris Kristen membawa resep rahasia porselen Jingdezhen ke Prancis, pabrikan Prancis kala itu mendapatkan suatu motivasi yang luar biasa besar.

Tetapi kini, negeri Tiongkok lebih banyak digambarkan sebagai negeri pembajak. Di sana, Anda dapat membeli kemeja Superdry T dan Hi Phone bajakan, Anda dapat menyaksikan gerai retail 7-12, cafe Teabucks dan kedai ayam goreng KFG dimana-mana.

Harian “The Guardian” melaporkan, di balik pelanggaran hak merek yang mengejutkan itu tersembunyi permasalahan/isu hak kekayaan intelektual yang lebih mendalam. Dalam rangka mengejar ketertinggalan dengan kemajuan iptek dari negara-negara lain, perusahaan Tiongkok terkadang mengambil cara legal: membajak tenaga ahli, mengakuisisi perusahaan start-up dan mengejar informasi public.

Kadang-kadang malah mengambil tindakan ilegal: misalnya, di bidang pertanian, menggali serta mencuri benih gen modifikasi di Iowa, atau mencuri semacam teknik rincian proses pemutihan untuk biscuit Oreo, kosmetik dan produksi kertas.

Produsen mobil Tiongkok digugat oleh mitra asingnya lantaran pembajakan. Produsen mobil Inggris Jaguar Land Rover menggugat China Jiangling Motors Corporation, mobil model Landwind X7 hasil produk perusahaan itu dituding telah menjiplak Range Rover Evoque. Sebelumnya, China Chery Automobile digugat General Motors Amerika Serikat karena daun pintunya sangat mirip bahkan bisa saling ditukarkan.

Belakangan ini mencuat sebuah kasus aneh yang cukup menghebohkan. Sebuah perusahaan peralatan pembangkit listrik energi gelombang Skotlandia yakni: Pelamis Wave Power usai mendapat kunjungan lebih dari 60 delegasi resmi dari Beijing telah kehilangan beberapa laptop.

Beberapa tahun kemudian, mereka menemukan bahwa di Tiongkok telah dipasarkan proyek yang sangat mirip menggunakan teknologi tersebut.

Pemerintahan negara-negara Barat, para pakar bisnis, analis dan ahli keamanan mengatakan, perusahaan Tiongkok sering mendapatkan keuntungan dari hasil pencurian hak kekayaan intelektual.

Para eksekutif bisnis sering disarankan agar ketika melakukan bisnis dengan Tiongkok atau melakukan perjalanan ke Tiongkok harus membawa komputer yang kosong, bukan komputer yang biasa digunakan untuk pekerjaan sehari-hari.

Tetapi cacat terbesar adalah jaringan Internet. Pada 2012, Keith Alexander yang kala itu menjabat Direktur NSA menggambarkan serangan jaringan komersial adalah “transformasi kekayaan terbesar dalam sejarah.”

Tahun berikutnya, seorang panitia menyatakan, pencurian online hak kekayaan intelektual menyebabkan AS telah kehilangan US $ 300 miliar (3.926 triliun rupiah) per tahun, sedangkan Beijing dituduh bertanggung jawab atas 80% dari jumlah nilai tersebut.

Jejak para hacker komersial terlacak hingga ke gedung milik militer dan perwira militer Partai Komunis Tiongkok/PKT. Badan intelijen Inggris MI6 dan mantan kepala intelijen Nigel Inkster mengatakan bahwa PKT memiliki sebuah policy yaitu dengan menghalalkan segala cara menyalip iptek dari Barat. (hui/whs/rmat)

Share

Video Popular