Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa di pusat galaksi Bima Sakti beberapa juta tahun yang lalu, pernah terjadi berbagai pertunjukan “kembang api dari benda langit” di angkasa.

Menurut penjelasan ilmuwan Kelly Horry dari Universitas Vanderbilt dan asisten profesor dari Georgia Institute of Technology, bahwa fenomena-fenomena benda langit ini akibat tabrakan antara lubang hitam di pusat galaksi dengan sebuah lubang hitam massa menengah. Lubang hitam massa menengah yang datang tiba-tiba ini berasal dari sebuah galaksi satelit dari Bima Sakti, mirip tabrakan dahsyat antar zat inti galaksi.

Tampak pada gambar tersebut di atas adalah suasana tabrakan benda langit yang digambarkan oleh seniman,  menunjukkan materi dari inti galaksi satelit jatuh ke dalam lubang hitam supermasif di pusat galaksi.

Lubang hitam di pusat galaksi itu menyerupai raksasa tidur, dan posisi galaksi sekarang adalah sebuah tempat yang sangat tenang. Sementara orbit bintang juga tampak relatif normal, walaupun lingkungan ruang disini jauh lebih menguntungkan, tapi masih belum menemukan bintang yang terbentuk di sini.

“Para ilmuwan juga tidak mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi pada suatu periode di masa lalu di pusat galaksi ini,” kata Julie Turner, ilmuwan dari Universitas Vanderbilt, Amerika Serikat.

Sebelumnya, dalam pertemuan astronomi yang diadakan di Colorado, para ilmuwan telah mengumumkan beberapa hasil pengamatan baru.

Menurut mereka bahwa pada 10 juta tahun silam pernah terjadi tabrakan lubang hitam di pusat galaksi, dan yang paling menarik perhatian adalah gelembung Fermi, sinyal radiasi energi tinggi berbentuk daun raksasa ini berasal dari partikel dengan gerakan mendekati kecepatan cahaya, yang disemburkan dari arah atas dan bawah piringan galaksi, membentang hingga 30.000 tahun cahaya.

Lubang hitam supermasif yang terletak di pusat galaksi Bima Sakti mencapai 4 juta kali massanya dari massa matahari. Astronom menemukan kepadatan gas dan debu di sini sangat padat. Selain itu juga terdapat bintang muda yang panas, tetapi kurangnya kluster bintang yang lebih tua.

Menurut model teori yang ada sekarang, di tempat lubang hitam yang lebih dekat jaraknya, seharusnya dapat mengamati penyebaran bintang yang usianya relatif lebih tua. Bergabungnya lubang hitam membuat sejumlah besar bintang tua ditendang keluar dengan kecepatan tinggi. (Secretchina/Ye Yu Huan/joni/rmat)

Share

Video Popular