Oleh: Tong Yijia

Film karya paling anyar yang disutradarai Li An (di dunia perfileman lebih terkenal dengan nama: Ang Lee) “Billy Lynn’s Long Halftime Walk”, karena digambarkan dengan sangat realistis maka telah mendapatkan perhatian dari seluruh dunia.

Sebagai master film yang mumpuni dalam perfilman, meskipun telah mendapatkan banyak penghargaan dan sepertinya hasil jerih payahnya sudah bisa ia nikmati untuk selamanya, namun ia malah menantang ‘ajang pertempuran’ baru, yakni ia berkeinginan menjebol batas teknis pembuatan film. Dan ia menyimpulkan kegelisahannya adalah demi menjalani takdirnya sendiri.

Kesulitan dalam pembuatan film hanya ia sendiri yang tahu

Dalam film terbarunya ia medobrak tradisi, ia menggunakan kualitas gambar 3D dan 4K yang setiap detiknya mensyuting 120 frame per detik. Hal ini telah menantang batas-batas baru film digital.

Terhadap ‘tindakan gila’nya ini dalam pandangan masyarakat, ketika menerima wawancara TV khusus tentang filmnya: “Perjalanan sehari Lu Yu mewawancara para bintang besar” , dengan tersenyum Ang Lee mengatakan bahwa ia tidaklah gila.

“Saya selalu yakin mampu mensyuting dengan model ini, saya sekarang sudah 62 tahun, tidak ada waktu menunggu, sekarang pun saya ingin melihat,” katanya penuh dengan kepercayaan diri dan keteguhan hati.

Para fans tidak sulit untuk menemukan bahwa setiap film Ang Lee adalah terobosan besar. Drama keluarga, film bahasa asing, film komersial, film silat, film Amerika Wild West beserta film fantasi 3D, temanya yang luas dan jenisnya yang beragam sungguh menakjubkan.

Meskipun di setiap film telah sepenuhnya ia tunjukkan bakatnya sebagai sutradara, namun ia tidak berpikir bahwa dirinya adalah seorang jenius. Ketika diwawancara khusus oleh TV Phoenix ia mengungkapkan bahwa orang luar mungkin menganggap setiap karya filmnya berhasil menjadi karya klasik,  namun kesulitan dalam setiap filmnya, hanyalah dia seorang yang tahu.

Untuk itu ia juga menyatakan dengan rendah hati dan bercanda, “Dalam pandangan saya, Wong Kar-wai (sutradara film Hong Kong pemenang berbagai penghargaan, yang dikenal di dunia internasional sebagai sutradara yang sangat orisinil lewat film-filmnya yang unik secara visual dan sangat bergaya) adalah seorang jenius sedangkan saya paling banter hanyalah seorang yang berbakat.”

Semua orang tahu bahwa Ang Lee adalah sutradara etnis Tionghoa pertama dalam sejarah perfilman yang telah memenangkan penghargaan tiga Awards internasional: Oscar, Golden Globe dan British Academy Film sebagai sutradara terbaik, namun ia mengungkapkan tidak ada orang yang menyangka bahwa ia pernah disuatu masa yang tak tertahankan, sedikitnya tiga kali dalam sehari ingin meninggalkan dunia perfilman.

Film-film terkenal besutan Ang Lee. Dari kiri atas searah jarum jam: “Life of PI”, “Brokeback Mountain”, “Hulk”, "Crouching Tiger Hidden Dragon". Tengah, sang sutradara: Ang Lee. (internet)
Film-film terkenal besutan Ang Lee. Dari kiri atas searah jarum jam: “Life of PI”, “Brokeback Mountain”, “Hulk”, “Crouching Tiger Hidden Dragon”. Tengah, sang sutradara: Ang Lee. (internet)

Memastikan jodohnya dengan dunia film dalam kehidupan kali ini

Yang dirasa mustahil adalah semacam rasa fatalisme kuat yang tidak tahu datang dari mana, membuat dia entah bagaimana berubah pikiran dan secara tiba-tiba menyadari takdir pertemuannya dengan dunia perfilman di kehidupannya kali ini. Ketika berhadapkan dengan lensa kamera dan mengenang hingga disini, ia tak kuasa menghela nafas dan berujar, “Saya menerima takdir ini!”

Ketika diwawancarai, ia mengungkapkan bahwa karakternya sebetulnya sangat rapuh, karena ketika SMP tinggi badannya hanya 130 cm, sewaktu SMA baru lewat 160 cm dan ia sejak kecil suka menangis.

“Ketika kelas satu saya sedikitnya menangis satu kali dalam sehari, benar-benar adalah anak tak berguna, disaat menonton film melodram, maka saya akan menangis hingga semua penonton dalam gedung bioskop tertawa: “Lihatlah, si bocah itu menangis terus sangat seru”, sedangkan saya masih terus terisak,” ceritanya.

Ia mengolok-olok dirinya sendiri, pada saat syuting ia bisa menjadi orang yang tidak mempedulikan orang lain dan pongah. Dengan menghela nafas ia mengatakan, “Seorang yang sejak kecil tidak berani melawan, penurut dan sangat rapuh, entah mengapa setelah berusia 40 tahun lebih, diluar dugaan selalu mensyuting sesuatu yang tidak berani disyuting oleh orang lain.”

Ia beranggapan bahwa inilah takdir dalam hidupnya.

Luar biasa berdedikasi dalam film bersumber dari sebuah hati yang gelisah

Ang Lee (Li An) sebagai seorang sutradara internasional, penampilannya lemah lembut dan elegan, bersikap bagai seorang budiman. Tidak menyangka dalam kehidupan nyata, seperti apa yang ia gambarkan sendiri, ia seorang penakut, pemalu dan sangat tidak mempunyai rasa aman.

Dalam acara “Perjalanan sehari Lu Yu mewawancara para bintang besar”, ia bahkan bercanda, “Saya bernama An (tenang), namun saya sebenarnya sangat tidak An (tenang).

Mengatakan sendiri bahwa ia berbintang Libra yang bahkan di pagi hari setelah bangun tidur sulit untuk memastikan akan memakai kaus kaki yang mana, namun dalam dunia film ia luar biasa persisten atau keras kepala. Ia percaya bahwa gen “kegelisahan” dalam tulang sumsum telah mendorongnya dengan keras kepala menggunakan film untuk menantang dan melawan realitas. Sedangkan faktor keras kepala yang menggebu itu disimpulkan dan dikaitkan dengan semacam takdir.

Ketika ia diwawancarai oleh sekelompok media daratan mengatakan bahwa meskipun pekerjaan syuting film itu melelahkan, namun lelah tetap lelah, sebenarnya juga bikin ketagihan. Ia mengatakan, “Ketika memutuskan menantang teknologi baru, saya sempat ragu selama satu tahun dan akhirnya memutuskan untuk tekad berjuang. Di dalam tulang saya ada suara yang berbisik yakni harus melakukan 120 gambar/frame.”

“Membuat film adalah takdir saya. Membuat film adalah kepercayaan saya”, tegasnya. Dan setiap pembuatan sebuah film adalah sejenis introspeksi diri, harus menghadapi perasaan ketakutan diri sendiri dengan tulus. Ia mengatakan kehidupannya kali ini adalah eksis demi perfilman, ia harus mempertahankan kesegaran, di setiap filmnya ia harus memiliki perasaan “pertama kali”.

Itulah sebabnya ia yang sudah berusia lebih dari 60 tahun, tidak ingin mensyuting film dengan cara hanya itu itu saja, kepada wartawan ia mengungkapkan hatinya yang gelisah, “Saya ingin perubahan.” (lin/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular