Anda harus meredakan kemarahan lebih dahulu sebelum lari atau latihan fisik di pusat kebugaran. Satu penelitian internasional yang besar menunjukkan mengeluarkan banyak tenaga saat stres atau marah besar berisiko tiga kali lipat mengalami serangan jantung dalam waktu satu jam.

Latihan fisik secara teratur adalah obat penawar yang sehat untuk stres dan dapat mencegah penyakit jantung. Tetapi penelitian baru menunjukkan ada waktu yang lebih baik atau lebih buruk untuk melakukan latihan fisik, dan latihan fisik yang ekstrem dapat memicu bahaya.

“Penelitian ini sebagai bukti lebih lanjut adanya hubungan antara pikiran dengan tubuh. Bukanlah saat yang tepat untuk memotong tumpukan kayu ketika sedang dilanda amarah,” kata Barry Jacobs, seorang psikolog di Crozer-Keystone Health System Philadelphia dan relawan Asosiasi Jantung Amerika.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan kemarahan dan pengeluaran tenaga yang besar sebagai pemicu serangan jantung namun hanya sebagian kecil kasus atau di satu negara, atau hanya meliputi beberapa wanita atau kaum minoritas. Penelitian baru melibatkan 12.461 peserta yang telah mengalami serangan jantung pertama di 52 negara. Rata-rata usia peserta adalah 58 tahun dan tiga perempat peserta adalah pria.

Peserta menjawab survei apakah mereka marah atau kesal, atau mengeluarkan tenaga yang besar, satu jam sebelum serangan jantung terjadi atau selama periode waktu yang sama sehari sebelumnya. Dengan cara ini peneliti dapat membandingkan risiko serangan jantung pada waktu yang berbeda pada peserta yang sama dan efek amarah dalam memicu serangan jantung.

Mengeluarkan banyak tenaga saat stres atau marah besar berisiko tiga kali lipat mengalami serangan jantung dalam waktu satu jam.

Risiko terbesar mengalami serangan jantung antara pukul  18:00 hingga tengah malam, dan tidak ada faktor lain seperti merokok, tekanan darah tinggi, atau obesitas.

Peringatan penting: Penderita yang melaporkan dirinya sedang stres atau marah, dan orang yang baru saja mengalami serangan jantung mungkin lebih ingat bahwa salah satu pemicu inilah yang menyebabkan serangan jantung daripada pemicu lainnya. Pengeluaran tenaga yang besar untuk seseorang diartikan seperti ketika naik tangga, sedangkan untuk orang lain diartikan seperti ketika lari maraton.

Penelitian ini juga bersifat mengamati, sehingga tidak dapat membuktikan sebab dan akibat, namun merupakan jenis informasi terbaik yang tersedia—karena tidak mungkin secara acak menyuruh peserta marah dan melakukan latihan fisik, kemudian melihat berapa kali peserta mengalami serangan jantung.

“Kita semua perlu menemukan cara untuk mengubah reaksi emosional untuk menghindari amarah besar, seperti hal-hal yang mengganggu diri kita, menghindari situasi yang menimbulkan stres, mencoba melihat peristiwa yang buruk dari sudut pandang yang berbeda, berbicara kepada seseorang yang dapat mengerti stres yang kita alami, dan mendapatkan dukungan dari orang lain,” kata Barry Jacobs.

Temuan penelitian ini juga masuk akal secara biologis. Stres emosional dan mengeluarkan tenaga yang besar dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, mengubah aliran darah di dalam pembuluh, dan mengurangi pasokan darah ke jantung, kata pemimpin penelitian, Dr. Andrew Smyth dari Universitas McMaster. Di dalam arteri yang sudah tersumbat dengan bekuan lemak, merupakan pemicu yang menghambat aliran darah dan menyebabkan serangan jantung.

“Dari sudut pandang praktis, akan ada saat-saat di mana paparan ekstrem tidak dapat dihindari. Kami terus menyarankan aktivitas fisik secara teratur untuk semua orang, termasuk orang yang melakukan latihan fisik untuk meredakan stres, namun pada saat stres orang tersebut tidak boleh melampaui rutinitas latihan fisik yang biasa ia lakukan,” kata Dr. Andrew Smyth.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular