Ada sebuah rak kaca di sebuah sudut di ruang tamu. Awalnya rak kaca itu untuk menaruh barang-barang seni, foto atau benda lainnya.Namun, karena terlalu sibuk setelah menempati rumah baru itu, sehingga tidak benar-benar meluangkan waktu untuk menata sejenak rak kaca. Rak kaca terdiri dari empat tingkat, hanya menempatkan beberapa foto di tingkat paling atas, sementara tiga tingkat sisanya kosong. Selalu menunggu sampai suatu hari nanti ada waktu luang, baru menempatkan barang-barang seni di atas rak kaca itu.

Ide untuk menata rak kaca selalu tidak pernah terealisasikan. Belakangan, saat berbelanja di mal, akhirnya sebuah tas makanan yang bersih diletakkan begitu saja sambil lalu ketika merapikan barang-barang belanjaan. Saat itu  hanya sementara meletakkan tas itu, sibuk dengan hal lain dulu, setelah itu baru memindahkannya. Akhirnya, karena silih berganti selalu disibukkan dengan banyak hal, tas makanan itu terus dibiarkan begitu saja di atas rak.

Di atas rak terdapat banyak barang, dan tampak bertumpuk-tumpuk di belakangnya. Pertama-tama sang suami menempatkan beberapa gelas kaca di atas rak, diikuti sang mertua yang juga meletakkan berbagai barang di atas rak, ada daun pembungkus bakcanglah, gula, biskuit, dan sebagainya.

Tak lama kemudian, “sudut seni” yang saya rencanakan akhirnya menjadi “ toko kelontong”. Melihat pemandangan yang tak nyaman di mata itu, seketika terlintas dalam benak saya untuk merapikan secara tuntas semua barang-barang serabutan itu, tetapi setiap kali selalu disibukkan dengan hal lain, kemudian berpikir lain waktu saja. Karena selalu tertunda, “toko kelontong” ini makin lama semakin sesuai dengan namanya, mereka meletakkan segala macam barang di atas rak. Kalau tahu hanya perlu rak ini untuk menaruh macam-macam barang, untuk apa saat itu membuang-buang waktu meletakkan rak kaca ini ?

Akhirnya, ada waktu di akhir pekan, saya diskusikan dengan suami, ingin mengembalikan “sudut seni” yang kurencanakan. Kita rapikan bersama, memilah dan menata barang-barang yang campur aduk itu secara terpisah. Kemudian raknya dibersihkan, setelah itu saya mengambil beberapa barang seni koleksi keluarga dan beberapa foto kemudian meletakkannya di atas rak kaca. Sekarang rak kaca itu terlihat rapi dan lebih menarik tanpa adanya barang-barang yang tidak jelas.

Saya mengingatkan suami, jangan lagi meletakkan barang-barang yang tidak jelas ke rak itu. Tapi terkadang dia suka lupa, meletakkan sambil lalu barang-barang apa saja. Begitu juga dengan kakek dan nenek, sudah terbiasa menjejal barang-barang apa saja ke rak.

Melihat fenomena ini, saya sadar betul, Kota Roma tidak dibangun dalam sehari, kebiasaan yang sudah terbiasa tidak mudah lagi untuk diperbaiki. Jadi, setiap melihat ada barang yang tidak jelas di atas rak, langsung saya singkirkan. Lama kelamaan, dan baru-baru ini saya lihat mereka tidak lagi menjejal barang di atas rak itu, dan selama beberapa hari ini rak kaca tampak lebih menawan.

Akhirnya rak kaca itu menunjukkan bentuk sebenarnya yang sejalan dengan keinginan saya, ketika terbayang rak kaca yang sempat terlihat seperti “ rak toko kelontong” ketika itu, saya selalu berkeluh kesah sepanjang hari. Hanya karena rasa malas dan sesukanya, fungsi dan wujud rak kaca itu seakan-akan berubah. Dan butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan ke fungsinya semula. Tapi, anggap saja itu adalah sebuah pelajaran berharga, saya berkata pada diri sendiri perlu sadar diri setiap saat.

Hidup tidak boleh sesuka hati. Bertindak sesuka hati sekilas memang tampak tidak apa-apa, tapi lama kelamaan akan menimbulkan masalah, apabila bertindak semaunya itu telah menjadi kebiasaan, maka tidak akan mudah lagi untuk mengubahnya. Jadi selalu menjaga kebiasaan baik itu jelas bermanfaat positif bagi Anda dan sekelilingnya.(Epochtimes/Qing Song/Jhn)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular