JAKARTA – Isu rush money atau penarikan uang secara besar-besaran pada 25 November dan 2 Desember 2016 dari perbankan dinilai hanya meresahkan masyarakat. Atas isu yang beredar ini, Kapolri Jenderal Tito membantah kebenaran kabar tersebut dan hanya sebagai provokasi kepada masyarakat.

“Kalau ada ajakan mengambil uang di bank, Itu tak benar dan itu provokatif,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian beberapa waktu lalu.

Jenderal bintang empat itu mengatakan sudah memerintahkan kepada aparat kepolisian untuk melacak dan melakukan penangkapan atas penyebar isu tersebut. Aparat kepolisian yang diperintahkan oleh Kapolri adalah Breskrim Mabes Polri, Polda Metro dan semua kelompok dari Tim Cyber kepolisian untuk melakukan pelacakan.

Menurut Tito, kondisi perekonomian Indonesia saaat ini masih dalam keadaan aman dan kondusif bersamaaan terjadinya aksi massa besar-besaran beberapa waktu terakhir. Kepada masyarakat luas diminta tak mempercayai isu terjadinya penarikan uang dalam jumlah besar.

“Jadi sekali lagi saya mengklarifikasi bahwa keamanan Indonesia kondusif, tak perlu dengar ajakan hoax-hoax terjadinya rush money, itu tak benar,” kata Kapolri.

Mempertegas keterangan Kapolri, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Boy Rafli Amar dalam keterangan terpisah menuturkan pelaku penyebar rush money dinilai dapat mengganggu perekeonomian. Isu dinilai hanya untuk menakuti kepada lapisan masyarakat untuk menarik uang dari tabungan.

Atas penyebar isu Hoax, Boy Rafli menuturkan ada pasal yang akann dikenakan yakni Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) terkait pelaku penebar kebohongan dan hasutan kebencian. (asr)

Share

Video Popular