Kami dulu berpikir bahwa tidak ada bakteri di dalam saluran pencernaan (usus) janin hingga pada saat janin melalui jalan lahir vagina ibunya (kelahiran) maka mulailah janin mengumpulkan mikroba (bakteri, virus dan kuman).

Namun teori ini gugur karena bakteri ditemukan di dalam mekonium (tinja pertama) bayi prematur.

Yang pasti adalah bayi baru lahir memiliki sedikit (jika ada) keragaman mikrobiota—kumpulan bakteri yang menumpuk di dalam usus. Keragamanan ini meningkatkan seiring dengan bayi baru lahir terpapar dengan lingkungan yang berbeda.

Susunan tertentu mikroba usus bayi baru lahir adalah penting karena terbukti memengaruhi risiko menderita penyakit tertentu di masa anak-anak dan masa dewasa.

Lahir normal  atau  caesar?

Proses kelahiran berdampak besar terhadap mikrobiota bayi, bakteri yang hidup di usus. Saat proses kelahiran secara alami, kontak langsung bayi baru lahir dengan flora usus dan vagina ibu akan membentuk kolonisasi bakteri di dalam usus bayi baru lahir. Bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar tidak mempunyai kontak langsung ini.

Satu penelitian menemukan bahwa bayi yang dilahirkan melalui vagina ibu mempunyai koloni Lactobacillus, sedangkan bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar mempunyai koloni campuran bakteri yang biasa ditemukan pada kulit dan di rumah sakit, seperti Staphylococcus dan Acinetobacter.

Satu penelitian menunjukkan flora usus janin yang dilahirkan melalui operasi caesar menetap selama 6 bulan setelah lahir. Jumlah clostridia di dalam tinja anak yang berusia tujuh tahun yang dilahirkan normal  lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berusia tujuh tahun yang dilahirkan melalui operasi caesar.

Namun belum diketahui dampak hal ini terhadap kesehatan dan risiko penyakit pada anak-anak.

Mengembangkan sistem kekebalan

Kami mulai menyadari bakteri usus berperan penting dalam  pertumbuhan sistem kekebalan tubuh bayi. Salah satu caranya dengan mengubah perkembangan sel darah putih yang merupakan garis pertahanan pertama terhadap serangan mikroba yang masuk ke dalam tubuh: bibit penyakit membuat kita sakit.

Penelitian menunjukkan tikus yang lahir di lingkungan yang bebas kuman memiliki lebih sedikit sel darah putih dibandingkan dengan tikus sehat dengan populasi bakteri usus yang normal. Tikus yang lahir di lingkungan yang bebas kuman lebih rentan terhadap infeksi bakteri.

Penyakit alergi seperti asma dan hay fever lebih sering terjadi pada bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan normal.

Anak-anak yang dilahirkan melalui operasi caesar secara bermakna lebih sering dirawat inap di rumah sakit karena menderita gastroenteritis akut dan berkembang menjadi penyakit celiac (penyakit autoimun yang mengganggu saluran pencernaan).

Penting untuk diketahui bahwa tidak semua anak yang dilahirkan melalui operasi caesar mengalami nasib seperti ini. Beberapa wanita terpaksa harus melahirkan melalui operasi Caesar setelah ketubannya sudah lama pecah, sehingga bayinya terpapar dengan limgkungan mikroba yang cukup berbeda dibandingkan dengan ibu melahirkan melalui operasi caesar yang sudah direncanakan sebelum ketubannya pecah.

ASI atau  susu formula

Bayi baru lahir yang diberi ASI memiliki mikrobiota usus yang sangat berbeda, karena lebih banyak mengandung spesies bakteri bifidiobacterium yang menguntungkan dibandingkan dengan bayi baru lahir yang diberi susu formula. Hal ini disebabkan karena ASI mengandung sejenis prebiotik yang mempermudah pertumbuhan bakteri bifidobacterium.

Yang menarik, ketika bayi baru lahir yang diberi ASI serta diberi tambahan susu formula, mikrobiota ususnya mirip bayi bayi baru lahir yang hanya diberi susu formula.

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa mikrobiota usus bayi yang diberi ASI memiliki lebih banyak gen yang berkaitan dengan “virulensi”: kemampuan untuk melawan antibiotik dan senyawa beracun, serta mengembangkan perubahan gen sistem kekebalan usus sehingga lebih baik dalam melawan infeksi.

Hal ini menunjukkan bahwa ASI mempermudah hubungan antara sistem kekebalan tubuh bayi dengan mikrobiota usus.

Menyusui terbukti mengurangi terjadinya nekrosis enterokolitis (ada bagian usus yang mati) pada bayi baru lahir, alergi dan penyakit autoimun di masa anak-anak, termasuk penyakit celiac, diabetes tipe 1 dan asma.

Cairan vagina ibu

Bagaimana jika seorang anak dilahirkan melalui operasi caesar dan tidak mendapat asupan ASI?

Jangan khawatir, tidak semua bayi dalam kondisi tersebut akan lebih berisiko menderita penyakit autoimun dan alergi. Faktor lingkungan maupun genetik berperan di dalam menentukan risiko seseorang untuk menderita penyakit atau tidak.

Mengoleskan cairan vagina ibu kepada bayi baru lahir baru-baru ini diusulkan sebagai salah satu cara bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar terpapar dengan mikrobiota usus untuk memberi efek perlindungan.

Penelitian terhadap 18 bayi baru lahir yang diterbitkan awal tahun ini menunjukkan bahwa mengoleskan cairan vagina kepada bayi  baru lahir (melalui apusan di mulut, hidung dan wajah) segera setelah lahir melalui operasi caesar menghasilkan profil mikrobiota yang mirip dengan profil mikrobiota bayi yang dilahirkan normal.

Tidak diketahui apakah kolonisasi dengan cara memindahkan  sebagian atau seluruh mikroba sama dengan memindahkan mikroba melalui vagina. Kami juga tidak tahu apakah hasil temuan kesehatan bayi-bayi ini di kemudian hari dipengaruhi oleh tindakan pengolesan tersebut.

Beberapa dokter ahli memperingatkan bahaya mengoleskan cairan vagina ibu kepada bayi baru lahir yang dilahirkan melalui operasi caesar karena berpotensi menularkan infeksi yang tidak diketahui dari ibu kepada bayi baru lahir. Ada risiko ibu menularkan streptococcus kelompok B yang tidak terdiagnosis kepada bayi baru lahir, di mana 12% sampai 15% wanita memiliki streptococcus kelompok B di dalam cairan vaginanya.

Saat ini dilakukan cara yang lebih masuk akal untuk mengembangkan mikrobiota pada bayi baru lahir yaitu dengan cara menunda mandi pertama selama 12 jam, menempelkan bayi baru lahir pada kulit ibu selama beberapa menit pertama setelah kelahiran dan diberi ASI di ruang operasi jika diperbolehkan.

Ada banyak upaya yang dilakukan untuk meniru komposisi ASI dengan cara memberi bakteri usus yang hidup (probiotik) dan  serat yang tidak dicerna (prebiotik) ke dalam susu formula. Hal ini diperkirakan akan membantu terbentuknya kolonisasi mikroba dan respons kekebalan tubuh pada bayi yang diberi susu formula dengan cara mirip dengan pemberian ASI.

Kurangnya data yang menunjukkan apakah pendekatan ini berguna untuk menurunkan risiko gangguan alergi pada bayi.

Untungnya, proyek penelitian klinis yang besar di Selandia Baru — Penelitian manfaat probiotik pada kehamilan — segera akan menjawab pertanyaan ini.

Empat ratus wanita hamil yang mengandung bayi berisiko tinggi menderita penyakit alergi diberi probiotik Lactobacillus rhamnosus atau plasebo — selama kehamilan 14 sampai 16 minggu hingga melahirkan, atau selama enam bulan setelah melahirkan jika memberi ASI kepada bayinya.

Peneliti kemudian akan memeriksa apakah bayi menderita alergi seperti eksim. Hasil akan segera tersedia sebelum terlalu lama menanti dan membantu membentuk kebijakan kesehatan.(Epochtimes/ Vincent Ho/Vivi)

Vincent Ho, serorang dosen dan ahli ilmu saluran pencernaan Western Sydney University, Australia.

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular