Saat ini, pendidikan di sekolah kita seringkali mengabaikan pembinaan kepribadian, moralitas dan emosi dasar para siswa, sehingga menyebabkan beberapa siswa semakin dingin terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan.

Seorang guru asal Amerika bercerita tentang sebuah kisah seperti ini di salah satu perguruan tinggi medis di Tiongkok :

Suatu pagi setelah badai berlalu, seorang laki-laki berjalan-jalan di pantai, ia melihat lekuk (tanah) yang dangkal di pantai, banyak ikan-ikan yang terdampar ke darat tersapu oleh badai angin dan hujan semalam. Meskipun ikan-ikan yang jumlahnya mungkin ada sekitar ratusan atau bahkan ribuan ekor yang terperangkap ini berada di pesisir laut, tapi tak perlu waktu yang lama, air yang dangkal itu akan terisap kering oleh pasir, dan dijemur Matahari, maka ikan-ikan yang naas ini pun akan mati kekeringan.

Pria itu tiba-tiba melihat ada seorang bocah di pinggir pantai terus menangkapi ikan-ikan di air dangkal itu, kemudian dilempar ke laut. Melihat itu, si pria pun bergegas menghampirinya : “Nak, ada ribuan ikan di air dangkal ini, kamu tidak akan bisa menyelamatkannya.”

“Aku tahu.” Jawab anak itu singkat tanpa memalingkan kepalanya.

“Oh ? Lalu kenapa kamu masih melemparnya ? Siapa yang peduli?”

“Ikan ini!” Jawab si bocah sambil memungut ikan dan dilempar ke laut.

Sebenarnya cerita ini persis sama dengan sebait kata Tagore (Rabindranath Tagore-seorang Brahmo Samaj, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Bengali), “Tujuan pendidikan itu wajib menyampaikan napas kehidupan kepada orang-orang.” Oleh karena itu, pendidikan seyogyanya dimulai dengan menghargai hidup, membuat sifat manusia itu selalu ke arah yang baik, lapang dada, membangkitkan “akar kebaikan” yang indah pada jasmani sendiri, yaitu membuat siswa memiliki hati yang indah yang peduli pada ikan-ikan itu.

Seorang yang berhasil selamat dari kamp konsentrasi Nazi, berhasil menjabat sebagai seorang kepala sekolah menengah di Amerika Serikat, setiap ada seorang guru baru datang ke sekolah, ia akan memberi sepucuk surat kepada guru bersangkutan, dengan isi surat yang berbunyi seperti ini : “Guru yang terhormat, saya melihat dengan mata kepala sendiri kondisi yang tidak semestinya disaksikan oleh umat manusia : Ruangan gas beracun dibangun oleh insinyur spesialis ; Anak-anak diracuni oleh dokter berpengalaman ; Anak-anak dibunuh oleh perawat terlatih. Melihat semua ini, saya bertanya dalam hati : Sebenarnya untuk apakah pendidikan itu ?  Permintaan saya adalah : Tolong Anda bantu siswa tumbuh menjadi sosok manusia yang bermanusiawi. Hanya dengan membina anak-anak kita tumbuh sebagai sosok manusia yang bermanusiawi, maka kemampuan baca tulis dan menghitung baru ada nilainya.”

Jelas, manusia memiliki satu sisi binatang dan sisi malaikat. Tujuan dari pendidik adalah membuat jiwa orang-orang mendapatkan penempaan, mengatasi sisi brutal dan mengubahnya ke sisi malaikat.

Pendidikan adalah pendidikan jiwanya orang-orang, bukan hanya murni akumulasi dari pengetahuan dan pemahaman nalar. Ini adalah pendidikan yang kekal dan tujuan akhir yang agung. Jika tidak, maka semakin banyak pengetahuan yang Anda miliki, semakin besar juga bahayanya terhadap kehidupan dan umat manusia.

Pelajaran dalam hal ini terlalu menyakitkan : Lu Gang, salah satu murid  Dr. Li Zheng Dao, dimana karena tidak terpilih dalam penghargaan Paper Award. Ia menjadi iri, dan terus dibelenggu oleh rasa kecewa, sehingga tak disangka menembak dan membunuh empat fisikawan antariksa, lalu berikutnya membunuh rekannya yang mendapatkan penghargaan. Karena bertengkar dengan pacarnya, seorang remaja 16 tahun bermarga Liu di Xuan hua, Henan, tak disangka seperti orang gila mengendarai mobilnya menabrak pejalan kaki di sepanjang jalan, mengakibatkan dua orang tewas seketika dan 13 luka-luka.

Oleh karena itu, seorang pendidik di Jepang pernah mengatakan, bahwa kita perlu membina “isi hati (perasaan) siswa dan menggugahnya dalam memandang sekelompok krisan (bunga melati) liar”, dan isi hati ini adalah perasaan yang dimiliki oleh bocah yang peduli dengan hidup ikan-ikan di pantai seperti tersebut di atas. Jika tidak, dan menganggap ikan-ikan itu tidak berharga, maka meski penilaian moralnya tinggi sekalipun juga, sosok orang seperti ini juga telah kehilangan nilai-nila kehidupannya.

Menghormati manusia dan penghormatan terhadap alam semesta, yang paling mendasar adalah menghormati eksistensi kehidupan, menyadari tidak adanya pengulangan hidup. Sebagai manusia tidak seyogyanya tanpa sebab  mengakhiri kehidupannya, meski kehidupan dengan tarif yang sangat rendah sekalipun juga tidak seyogyanya mengakhirinya begitu saja. Ketika seseorang setitikpun tidak lagi sayang terhadap makhluk yang rendah atau suatu hal ihwal, apakah Anda bisa berharap ia akan menghormati kehidupan ? Sebaliknya, apakah Anda tidak menghormati dan menghargainya ketika seseorang dipenuhi dengan perhatian dan kepedulian terhadap kehidupan rumput liar, ikan-ikan seperti di atas dan kehidupan manusia atau makhluk hidup lainnya?

Orang dahulu mengatakan : “Tak ada kesedihan yang lebih besar daripada putus asa”. Seseorang yang tak punya rasa simpati, apatis dan sikap tidak peduli itu adalah orang yang tidak punya harapan. Sebuah bangsa yang dibangun oleh orang yang tidak punya rasa simpati dan acuh tak acuh terhadap banyaknya nyawa dan kehidupan itu adalah bangsa yang tak punya harapan.

Sebagai seorang pendidik, mungkin ada banyak pekerjaan rinci yang harus dikerjakan, ada sejumlah besar pekerjaan sekolah yang harus dikuasai, tapi untuk membina kualitas pemikiran, rasa sosial siswa yang baik, maka salah satu hal yang paling pokok, paling dasar dan paling hakiki adalah menyadarkan hati nurani siswa untuk menghargai kehidupan. (Secretchina/Jhn/Yant)

Share

Video Popular