Pendidikan dalam keluarga itu menentukan masa depan anak, kaidah moral dan hubungan antar sesama menentukan didikan anak. Bangsa Timur lebih cenderung menekankan pada kaidah moral dan pendidikan dalam keluarga. Dalam sejarahnya, para keluarga terpandang berhasil mendidik (menghasilkan) tokoh-tokoh hebat yang tak terhitung banyaknya itu semua tak lepas dari manfaat dari pola pendidikan keluarga ini.

Namun, sebagian besar dalam keluarga sekarang, sang anak bisa dikata “berkedudukan tinggi”.

Segenap keluarga berkumpul memusatkan perhatiannya pada seorang bocah, anak-anak selalu memainkan peran sebagi sosok orang yang disayang, para orang tuan  akan berusaha semaksimal mungkin memenuhi keinginannya.

Lama kelamaan, banyak anak-anak yang menganggap bahwa segala sesuatu yang didapatkan dari orang tua mereka itu memang sudah selayaknya, jadi hanya tahu meminta, tidak tahu berbalas budi, apalagi berterima kasih dan menunjukkan kepedulian pada orang lain.

Para orang tua selalu berusaha memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak-anak mereka, dan perlu diketahui bahwa sesuatu yang paling baik dari yang terbaik itu adalah pendidikan dan karakter yang baik, dan dengan memiliki sekeping hati yang penuh rasa syukur itu bisa membuatnya memetik banyak manfaat positif yang berguna untuk masa depannya.

Ada sebuah artikel yang sepenuhnya menjelaskan hal ini :

Pernah ada seorang warga keturunan yang kaya raya, dimana setelah kembali ke negerinya berencana memberi subsidi kepada beberapa siswa di wilayah miskin. Lalu, dibawah bantuan departemen terkait, ia mendapatkan beberapa alamat dan kontak siswa yang perlu bantuan, ia mengirim sebuah buku dan beberapa pena untuk setiap siswa, sekaligus menyertakan nomor telepon, alamat dan email atau informasi kontak lainnya .

Para anggota keluarga dan sahabat sang hartawan tidak mengerti akan maksud orang tua kaya ini : Mengapa mengirim sebuah buku dan disertai dengan informasi kontak ? Ditengah kebingungan dan keraguannya, orang tua itu tampak cemas seakan-akan sedang menunggu sesuatu, atau menjaga di samping telepon, atau setiap hari dan beberapa kali memeriksa kotak surat di pintu rumah, atau memeriksa emailnya.

Sampai pada suatu hari, akhirnya ada seorang anak yang mendapatkan kiriman buku itu mengirimkan kartu ucapan selamat kepada hartawan tua (satu-satunya anak yang mengadakan kontak dengan si hartawan), bukan main senangnya orang tua itu mendapatkan balasan kiriman kartu ucapan dari si anak, dan pada hari itu juga hartawan tua itu mengirimkan dana bantuan sekolah pertamanya yang menggiurkan untuk anakitu, sekaligus membatalkan dana bantuan untuk para siswa lain yang tidak memberi pesan balik untuknya.

Jangan lupa, mendidik anak supaya tahu berterima kasih dan menghargai orang lain itu adalah hal yang sangat penting. (Internet)
Jangan lupa, mendidik anak supaya tahu berterima kasih dan menghargai orang lain itu adalah hal yang sangat penting. (Internet)

Saat itu juga keluarga si hartawan baru mengerti, ternyata hartawan itu menggunakan caranya yang unik menerangkan dalil tentang orang yang tidak tahu berterima kasih itu tidak pantas mendapatkan bantuan dana apa pun.

Sebagai manusia harus tahu berterima kasih baru bisa mendapatkan kebahagiaan.  Orang tua menciptakan anak-anak, dan dengan uang keringat hasil kerja kerasnya untuk membesarkan anak-anak, setiap langkah pertumbuhan anak itu semua terbetuk dari hasil jerih payah orang tua.

Mendidik anak supaya tahu berterima kasih dan menghargai orang lain itu sangatlah penting

Jika orang tua mencurahkan kasih sayang yang berlebihan kepada anak, sementara anak itu tidak tahu membalas budi (bersyukur), maka ia juga akan membentur tembok (menemui kesulitan) bahkan bertindak semaunya saat terjun ke dalam lingkup masyarakat ! Tak ada budi yang lebih besar dari rasa syukur dan terima kasih anak daripada kebajikan orang tua yang paling dalam, apa jadinya jika tidak bisa memupuk hati anak yang tahu bersyukur.

Sampai di sini, terbayang dalam benak saya dengan seorang siswi bernama Wang Jiajing yang membunuh ibunya di bandara beberapa tahun lalu.

Berulang kali gagal meminta uang dari ibunya, sampai sekembalinya dari Jepang, ia mengambil sebilah pisau dan membunuh ibunya, selama lima tahun tinggal di Jepang, tidak pernah kerja. Selama itu, uang kuliah dan biaya hidup selalu mengandalkan kiriman uang sebesar 7.000 Yuan setiap bulan dari penghasilan ibunya. Sementara ia tidak tahu sang Ibu berusaha mencari pinjaman utang di mana-mana, sampai tidak sanggup mendapatkan uang lagi, namun, tak disangka ia menghunuskan pisau dan menikam sebanyak 9 tusukan ke tubuh ibunya yang datang ke bandara untuk menjemputnya.

Remaja yang sudah berusia 25 tahun seharusnya sudah bisa mencari nafkah sendiri, bekerja untuk memecahkan masalah biaya kuliah (atau mengatasi sendiri sebagian biaya kuliah). Tapi dia dengan tenang menikmati hidup nyaman yang disediakan dengan susah payah oleh ibunya, dan ketika sang ibu tidak sanggup lagi mendapatkan  uang, remaja ini tidak ingat lagi dengan jasa ibunya, kebencian yang terlanjur menderanya itu berubah menjadi 9 tusukan pisau dan menewaskan ibu kandungnya.

Kasus ini membuat para orang tua sadar, bahwa anak yang tidak tahu berterima kasih itu bahkan jauh lebih mengerikan daripada serigala! ! Ajarkan anak Anda untuk belajar bertanggung jawab, dan betapa pentingnya mendidik anak supaya tahu bersyukur dan berterima kasih! Ketika anak-anak mendapatkan kasih sayang yang lebih besar dari yang mereka butuhkan, orang tua justru kemudian kehilangan fungsi pendidikannya.

Karena berbagai alasan, keluarga ini selalu menuruti keinginan anak-anak sejak kecil, dan tanpa keterikatan apa pun, sehingga sudah tidak bisa lagi mengubah keadaan tersebut, sebagai orang tua sedikitpun tidak ada kesan wibawanya di mata anak-anak, jadi bisa dibayangkan seperti apa hasil pendidikannya

Ada anak-anak yang selalu meminta tanpa batas atas pengorbanan (jerih payah) orang tua, ia akan terus merengek begitu permintaannya yang sepele tidak terpenuhi dan memuaskannya. Selain itu, ada juga mahasiswa, yang baru beberapa tahun kuliah sudah menghabiskan ratusan ribu Yuan atau ratusan juta rupiah, mereka tidak tahu betapa iritnya orang tua mereka, bahkan ada yang sampai utang kemana-mana. .

Banyak mahasiswa yang menghabiskan uang orang tua mereka hanya untuk memenuhi hasrat mereka seperti membeli pakaian, ponsel, kaus kaki, komputer dan barang-barang high-end lainnya. Selain itu juga ada mahasiswa yang menghabiskan biaya sewa apartemen mewah, jalan-jalan ke pub, makan di restoran mahal, tapi sedikitpun tidak merasa sayang dengan uang yang dihamburkan, seolah-olah meminta uang kepada orang tua mereka itu adalah hal yang wajar, bahkan meskipun sudah kerja juga, banyak anak-anak muda yang masih bisa dengan tenangnya numpang hidup pada orang tuanya.

Sebenarnya, jika tidak membiarkan anak merasakan lapar, mereka tidak akan tahu nilai dari makanan ; Tidak membiarkan anak merasakan dingin, mereka tidak akan tahu betapa berharganya kehangatan itu ; Tidak membiarkan anak merasakan kekandasan/kekecewaan/kegagalan, mereka tidak akan tahu betapa susahnya menggapai kesuksesan.

Curahan kasih sayang orang tua yang berlebihan kepada anak-anaknya itu sebenarnya justru menghilngkan kesempatan mereka dalam merasakan pengalaman negatif (kegagalan/kekecewaan). Hanya dengan merasakan kepahitan/kegagalan (harapanyang kandas), mereka baru bisa menemukan/merasakan manisnya.

Seorang anak yang tahu bersyukur, ia akan berterima kasih kepada orang lain yang melakukan sesuatu untuknya, dan menghargai segala sesuatu yang diperolehnya, merasa senang dan bahagia memiliki segala yang ada dihadapannya.

Selaku orang tua, perlu kita camkan baik-baik : Jika tidak ingin anak-anak menjadi “Srigala” di kemudian hari, maka jangan terlalu banyak membantu mereka mengerjakan segalanya, jangan memberi kesan bahwa segala sesuatu yang diterimanya itu memang sudah sepantasnya dan seakan-sekan tidak merasa bersalah, perlu mengajarkan anak-anak supaya tahu bersyukur dan berterima kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua seyogyanya selalu menciptakan kondisi untuk menginspirasi anak-anak belajar bersyukur, sikap syukur dalam menghadapi pengorbanan mereka sendiri, biarkan anak-anak awali rasa terima kasihnya dulu dari orang tua, misalnya biarkan ia tahu untuk mengucapkan terima kasih atas segala hal yang telah dikerjakan ayah/ibu untuknya dan semancamnya, melalui hal yang sepele ini, biarkan ia akrab dengan rasa syukur, hingga akhirnya tahu bagaimana mengekspresikan rasa terima kasihnya.

Hati yang selalu bersyukur adalah nutrisi pertumbuhan rohani

Melalui rasa syukur mendidik anak-anak tahu bahwa setiap orang itu tengah menikmati atas pengorbanan-jerih payah orang lain yang memberi kesenangan pada diri sendiri. Ketika anak-anak merasakan perbuatan baik dari orang lain, ia akan membayangkan dirinya kelak juga akan seperti itu, dan ini akan memberi isyarat kepadanya sebagai suatu tindakan, sehingga mereka tahu bagaimana untuk peduli, menyayangi dan membantu orang lain sejak kanak-kanak. (Secretchina/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular