Peneliti di University of California San Diego School of Medicine (UC San Diego) telah menemukan bahwa mulut penderita migrain lebih banyak mengandung mikroba secara bermakna yang mampu mengubah nitrat dibandingkan dengan bukan penderita migrain. Penelitian ini diterbitkan pada tanggal 18 Oktober oleh mSystems.

“Ada ide bahwa makanan tertentu memicu migrain — cokelat, arak anggur dan terutama makanan yang mengandung nitrat. Kami berpikir bahwa mungkin ada hubungan antara apa yang dimakan seseorang dengan mikrobiota dan pengalaman menderita migrain ,” kata penulis pertama Antonio Gonzalez, PhD, seorang analis programmer di laboratorium Rob Knight, seorang profesor dan direktur Pusat Inovasi Mikrobiota di UC San Diego dan penulis senior penelitian tersebut.

Banyak dari 38 juta orang Amerika Serikat yang menderita migrain melaporkan hubungan antara makan makanan yang mengandung nitrat dengan nyeri kepala yang sangat parah. Nitrat, yang ditemukan dalam makanan seperti daging olahan dan sayuran berdaun hijau dan dalam obat-obatan tertentu, dapat dikurangi untuk diubah menjadi nitrit oleh bakteri di dalam mulut. Ketika beredar dalam darah, nitrit diubah menjadi nitrogen monoksida dalam kondisi tertentu. Nitrogen monoksida membantu kesehatan jantung dengan cara meningkatkan aliran darah dan mengurangi tekanan darah. Namun, kira-kira empat dari lima penderita jantung  minum obat yang mengandung nitrat untuk mengobati nyeri dada atau gagal jantung kongestif melaporkan nyeri kepala yang parah sebagai efek samping.

Menggunakan data yang tersedia untuk umum dari American Gut Project, sebuah upaya ilmu pengetahuan yang didanai oleh warga yang dikelola oleh laboratorium Knight, Antonio Gonzalez dan rekannya Embriette Hyde, PhD menemukan urutan bakteri pada 172 sampel mulut dan 1.996 sampel tinja dari peserta yang sehat. Para peserta yang sehat ini sebelumnya telah mengisi survei yang menanyakan apakah mereka menderita migrain.

Urutan gen bakteri menemukan bahwa spesies bakteri yang ditemukan dalam kelimpahan yang berbeda antara penderita  migrain dengan bukan penderita migrain. Dalam hal komposisi komunitas bakteri, tim tidak menemukan perbedaan besar dalam sampel oral maupun tinja penderita migrain dibandingkan dengan bukan penderita migrain.

Tim kemudian menggunakan alat bioinformatika disebut PICRUSt untuk menganalisis keterlibatan gen dalam dua set sampel yang terdapat spesies bakteri. Dalam sampel tinja, tim menemukan sedikit peningkatan spesies bakteri tetapi bermakna secara statistik dalam kelimpahan gen yang mengkodekan nitrat, nitrit dan enzim yang berhubungan dengan nitrat monoksida pada penderita migrain . Dalam sampel mulut, gen ini secara bermakna lebih berlimpah pada penderita migrain.

“Kami tahu pasti bahwa bakteri yang mengurangi nitrat ditemukan di rongga mulut. Kami pasti memikirkan jalur ini dipakai untuk menguntungkan kesehatan jantung. Sekarang ini kami juga tahu  hubungan bakteri yang mengurangi nitrat dengan migrain, meskipun masih harus diteliti apakah bakteri ini adalah penyebab migrain  atau akibat dari migrain , atau secara tidak langsung terkait dalam beberapa cara lain,” kata Embriette Hyde, manajer proyek untuk American Gut Project dan ilmuwan proyek asisten di lab Knight.

Antonio Gonzalez dan Embriette Hyde mengatakan langkah berikutnya adalah untuk melihat kelompok penderita yang lebih pasti, dipisahkan ke dalam beberapa jenis migrain. Peneliti kemudian dapat menentukan apakah mikroba di mulut mereka benar-benar mengekspresikan gen yang mengurangi nitrat, mengukur kadar nitrat monoksida yang beredar di dalam darah dan melihat bagaimana hubungannya dengan status migrain.( University of California/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular