Selama berabad-abad, drama karya William Shakespeare telah terkenal  karena kisah kehidupan dan bahasa berirama yang spektakuler. Sekarang karya penulis pesohor tersebut sedang diteliti untuk menjadi sarana membantu anak mengatasi tantangan yang berkaitan dengan autisme .

Autisme adalah gangguan perkembangan yang diderita satu dari 45 anak yang berusia 3 tahun sampai 17 tahun di Amerika Serikat, menurut penelitian yang dilakukan Pemerintah Amerika baru-baru ini.

Autisme dapat memperparah buruknya kemampuan sosial dan komunikasi. Anak penderita autisme sering tidak dapat mengekspresikan emosi yang halus seperti teman-temannya dan akibatnya penderita autisme cenderung menyendiri sambil bermain komputer yang sering dirasa lebih nyaman daripada berinteraksi dengan orang lain.

Kelly Hunter, seorang aktris Royal Shakespeare Theatre Company di London, mengembangkan metode yang menggunakan drama Shakespeare untuk membantu anak penderita autisme berjuang mengatasi defisit sosial ini. Ada yang menyebut metode ini sebagai Hunter Heartbeat Metode (HHM).

HHM memberikan kesempatan bermain untuk berlatih dan memahami ekspresi emosi melalui permainan drama yang berkaitan dengan peran tertentu. Idenya adalah bahwa jika anak penderita autisme dapat berinteraksi sosial, maka dunia nyata tidak tampak membingungkan baginya.

Selama 20 tahun terakhir, HHM telah menerima banyak keberhasilan, tetapi HHM menginginkan sesuatu yang lebih. Enam tahun lalu, Kelly Hunter bekerja sama dengan peneliti di Pusat Nisonger di Ohio State University (OSU) Wexner Medical Center untuk mengevaluasi bagaimana HHM akan tampil di bawah pengawasan ilmiah.

Hasil penelitian awal yang baru-baru ini diterbitkan menyimpulkan bahwa HHM merupakan pendekatan yang efektif. Peneliti mencatat perbaikan yang nyata dalam keterlibatan sosial, keterampilan bahasa, dan ekspresi wajah yang lebih baik.

Menurut Margaret H. Mehling, lulusan asisten OSU dan koordinator riset penelitian, ada banyak terapi yang terbukti baik untuk autisme, namun HHM memiliki keunggulan yang berbeda.

“Anak penderita autisme ingin bersenang-senang dan lebih banyak bermain daripada duduk dan mendengarkan pelajaran di kelas. HHM lebih menyenangkan dan merupakan  pembelajaran berbasis berpengalaman. HHM lebih mirip apa yang biasanya anak-anak lakukan,” kata Margaret H. Mehling.

HHM menggunakan beberapa keterampilan intervensi sosial yang sama ditemukan dalam teknik lainnya seperti demonstrasi, praktik berulang, kinerja, dan umpan-balik.

“HHM menggunakan mekanisme mengajar yang sama, tetapi anak-anak mengenakan kostum yang menyenangkan. Dengan terapi yang lebih tradisional, saya sudah bekerjasama dengan orangtua untuk membantu mereka menemukan cara yang insentif membawa anak-anak menjalani terapi. … Permainan drama ini menyenangkan, jadi akan memperkuat anak-anak,” kata Margaret H. Mehling.

Berkomitmen untuk peran

Perbedaan lain adalah fasilitator. Intervensi autisme tradisional difasilitasi oleh konselor, guru, atau psikolog, tetapi fasilitator dalam metode HHM dilatih oleh aktor dan aktris.

“Saya akan merasa canggung jika saya harus melatih kelompok drama ini, sehingga membuat anak-anak penderita autisme merasa canggung dan tidak nyaman. Namun para aktor dan aktris ini sangat terampil dan benar-benar memerankan karakter saat bermain drama ini. Mereka menempatkan anak-anak penderita autisme ini begitu nyaman untuk bereksperimen dengan emosi yang berbeda. Anak-anak penderita autisme diberi tempat yang sangat aman dan menyenangkan untuk melatih kemampuan sosial di mana mereka tidak akan dihakimi atau ditolak, atau mendapatkan umpan-balik negatif,” kata Margaret H. Mehling.

Irama jantung dari Shakespeare

Profesor drama OSU bernama Kevin McClatchy adalah salah satu fasilitator artis di dalam penelitian ini. Beliau telah melihat HHM membantu anak-anak penderita autisme mengatasi berbagai kendala, dari mengenali batas ruang pribadi hingga  berbicara.

“Keterampilan verbal yang mendalam sulit diucapkan untuk beberapa anak-anak penderita autisme, tetapi selama lokakarya drama ini, Anda akan melihat anak-anak penderita autisme mengucapkan baris teks yang kompleks. Anda akan melihat seorang anak penderita autisme menjadi lebih mahir dan lebih mahir lagi melakukan kontak mata sampai mampu mengembangkan kontak mata yang umum saat bersosialisasi,” kata Kevin McClatchy.

Karya Shakespeare mungkin tampak seperti alat terapi yang aneh, tetapi karyanya memiliki fitur yang membuatnya unik dan cocok untuk terapi anak penderita autisme.

Penelitian menemukan bahwa penderita autisme dan masalah neurologis lainnya merespons dengan baik untuk intervensi berirama. Yang terpenting dari HHM adalah irama bahasa ala Shakespeare. HHM menemukan bahwa anak-anak penderita autisme merespons dengan baik irama Da-dum, Da-dum pentameter iambik—pola irama yang ditemukan dalam karya semua Shakespeare. Anak penderita autisme juga menghargai rutinitas dan pengulangan, sehingga setiap sesi HHM dimulai dan diakhiri dengan penekanan pada pola detak jantung ini.

“Detak jantung adalah hal pertama yang kita dapatkan di dalam rahim ibu. Ini menjadi pintu gerbang yang menenangkan untuk menjalankan pekerjaan,” kata Kevin McClatchy.

Detak irama jantung dan menampilkan emosi besar karya Shakespeare membuat anak-anak penderita autisme tampak sempurna, menurut HHM.

“Shakespeare menulis mengenai emosi yang tidak halus dengan cara yang luar biasa. Sangat bahagia, sangat sedih, sangat marah, atau sangat takut. Hal ini membantu anak penderita autis yang tidak dapat menangkap kehalusan emosional,” kata Margaret H. Mehling.

Dunia fantasi

Dalam irama yang sekejap menghibur, anak-anak penderita autisme memerankan karakter dengan menyalurkan emosi yang berbeda. Drama yang dikembangkan menggunakan berbagai alur dan baris teks untuk menargetkan tantangan sosial tertentu. Drama dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing anak.

Sebelumnya, HHM memainkan drama berjudul “A Midsummer Night Dream” untuk intervensinya. Untuk penelitian USO, peneliti memilih drama berjudul “The Tempest”.

“The Tempest” adalah salah satu cerita Shakespeare yang lebih ajaib. Karakter (yang mencakup pria penyihir dan putrinya, anak seorang penyihir, seorang budak peri, dan berbagai anggota kerajaan Italia) menemukan diri mereka terdampar di sebuah pulau selama 12 tahun.

“Tema ‘The Tempest’ secara khusus berbicara untuk hal-hal yang dimiliki anak penderita autisme. Dengan memerankan karakter yang terdampar di sebuah pulau asing membuat anak penderita autisme merasa tidak dapat melarikan diri dan dikelilingi oleh orang yang tidak dikenal, sehingga berada di dunia yang berbeda dengan dunianya yang sekarang,” kata Kevin McClatchy.

Aspek penting lain dari “The Tempest” adalah melibatkan dunia fantasi dan imajinasi. Kevin McClatchy mengatakan bahwa memilih peran dengan tema magis membantu anak penderita autisme membangun jembatan dunia batinnya yang kompleks sehingga ia dapat dengan jelas mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.

“Kadang anak penderita autisme mengalami kesulitan untuk mengungkapkan perasaan batinnya. Bahasa ala Shakespeare membantu menembus penghalang  komunikasi secara unik sehingga anak penderita autisme mau berkomunikasi,” kata Kevin McClatchy.

“Saya adalah Kevin sampai saya melangkah ke dalam lingkaran. Kini saya adalah  Caliban, makhluk setengah ikan, setengah raksasa. Saya melangkah ke luar lingkaran, dan saya menjadi Kevin kembali, dan saya mengajar anak-anak  beberapa permainan yang berkaitan dengan adegan drama. Lalu saya melangkah ke dalam lingkaran dan kini saya adalah Prospero, seorang penyihir. Ada penggambaran yang benar-benar jelas antara Kevin dengan karakter yang saya perankan yang memungkinkan saya untuk menggunakan imajinasi saya.”

Hasil penelitian

Penelitian sekal kecil baru-baru ini yang dipublikasikan di HHM  —hanya melibatkan 14 orang anak yang berusia 10 tahun sampai 13 tahun dan tidak ada kelompok kontrol. Hal ini untuk menetapkan kelayakan, kata Margaret H. Mehling. Penelitian lain yang sudah berjalan, khususnya, salah satu yang menggunakan pencitraan otak untuk melihat bagaimana terapi HHM berdampak terhadap otak.

Margaret H. Mehling juga berharap untuk melihat bagaimana HHM mempengaruhi tolak ukur yang lain, seperti denyut jantung, variabilitas detak jantung, dan kortisol—penanda stres dan kecemasan.

Dan anak-anak tersebut mencoba bersosialisasi dengan anak-anak yang lebih tua.

Membangun validitas ilmiah terapi membutuhkan waktu, tetapi orangtua melihat perubahan yang segera setelah anaknya mengikuti HHM.

“Saya … mendengar tawanya dan saya tahu bahwa ia terpikat … Adalah hal yang luar biasa melihat anak laki-laki saya berpartisipasi sebagai bagian dari kelompok,” kata salah satu orangtua, menurut penelitian Angket Validitas Sosial.

“Anak laki-laki saya biasanya tidak ingin melakukan apa pun selain bermain permainan soliter di komputer dan video game. Baginya menikmati lingkungan sosial adalah hal yang luar biasa dan ia berkata ingin menjadi seorang aktor,” kata orangtua yang lain.

“Putri saya MENCINTAI kelas drama Shakespeare. Ia tampak bahagia dan bersemangat setiap kali mengikuti kelas dramanya. Ia bahagia merasa dilibatkan dan menjadi bagian dari kelompoknya. Kami melihat bahwa ia berusaha lebih keras untuk menjalin pertemanan di sekolah,” kata orangtua yang lain.(Epochtimes/Conan Milner/Vivi)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular