Ahli pulmonologi Tiongkok, Zhong Nanshan mengutip sebuah studi internasional menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi ‘negara besar flu’ pertama di dunia.

Tahun lalu saja, ada lebih dari 1 miliar kali warga yang  terserang penyakit flu. Sementara itu, warga yang menderita sakit flu tetap harus pergi bekerja merupakan cara utama virus menyebar secara luas.

Beberapa pengacara pemerhati hak-hak kaum buruh menyebutkan bahwa kurangnya peraturan ketenagakerjaan yang melindungi karyawan sakit memaksa yang bersangkutan harus datang bekerja.

Oleh karena itu, pihak berwenang dihimbau untuk memperberat hukuman terhadap para pemberi kerja yang senantiasa  mengeksploitasi tenaga buruh secara berlebihan, serta memberikan pendidikan kepada  masyarakat agar mereka melaporkan kepada pihak berwenang bila menemukan ada  perusahaan yang melanggar hak-hak karyawan.

Dalam buku panduan Dr. Zhong Nanshan yang dipublikasikan pada Sabtu (19/11/2016) disebutkan bahwa banyak karyawan Daratan akan tetap masuk kerja meskipun sedang terserang penyakit flu.

Seorang karyawati bermarga Liu (nona Liu) yang menangani administrasi perusahaan di kota Dongguan, Guangdong pada Senin (21/11/2016) mengatakan bahwa ia sebenarnya sedang terserang flu tetapi tetap datang bekerja karena merasa tidak enak untuk meminta izin absen kepada pemimpin perusahaan.

“Takut meninggalkan kesan buruk”, katanya .

Wartawan: Apakah Anda akan meminta izin tidak masuk kerja ?

Nona Liu: Tidak. Meskipun saat ini saya sedang terserang flu dan belum sembuh, tetapi itu (flu) hanya masalah sepele yang tidak perlu sampai meminta ijin tidak masuk kerja. Bagaimana pun juga pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari diri kita, perlu kita yang menyelesaikannya. Apa sih enaknya (absen) tidak dikerjakan?

Wartawan: Apakah ada rasa takut jika pekerjaan itu sampai ‘diambilalih’ oleh rekan lainnya, sehingga enggan untuk meminta ijin absen ?

Nona Liu : Betul.

Wartawan: Apakah Anda tidak khawatir akan menyebarkan virus yang Anda ‘bawa’ kepada  rekan-rekan di kantor ?

Nona Liu: Umumnya tidak akan berpengaruh banyak. Jika terjadi flu yang cukup berat, biasanya akan meminta ijin kepada perusahaan untuk pergi berobat terlebih dahulu baru  masuk kerja pada siang harinya.

Pengacara pemerhati masalah hak buruh Tiongkok, Wang Shengsheng menanggapi fenomena mengenai karyawan sakit flu yang enggan absen kerja menjelaskan, karena berbagai tekanan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan. Ditambah lagi dengan buruknya pengawasan dari pemerintah terhadap perusahaan yang melanggar hak-hak buruh, menyebabkan hak karyawan berupa tidak masuk kerja karena menderita sakit itupun tidak terlindungi.

Kebanyakan perusahaan di Tiongkok memberikan ‘Bonus Kerajinan’ kepada karyawan mereka yang tidak absen kerja dalam sebulan. Bonus itu diberikan setiap bulannya hanya kepada karyawan yang tidak pernah absen kerja meskipun sudah mendapat ijin cuti sakit dari perusahaan.

Di sisi lain, “Sakit saja masih masuk kerja” dianggap sebagai hal yang terpuji oleh pemilik perusahaan umumnya di Tiongkok, sehingga kedua masalah inilah menjadi pemicu munculnya fenomena tetap masuk kerja meskipun sedang sakit. Demikian dikatakan oleh Wang Shengsheng.

Ia juga menambahkan bahwa pihak berwenang harus menerapkan pengawasan reguler yang lebih ketat dalam rangka mendorong pemilik perusahaan untuk memberikan hak-hak yang wajar kepada para karyawan mereka, juga memperbaiki sistem pemberian bonus kerajinan yang mereka terapkan.

Di samping itu, mendidik karyawan agar mereka juga mau melaporkan kepada Depnaker setempat bila menemukan adanya pelanggaran hak buruh yang dilakukan pemilik perusahaan. Ini sebagai bagian dari upaya untuk memperjuangkan hak azasi mereka sendiri, bukan !

Dalam buku panduan yang disusun oleh Dr. Zhong Nanshan bersama sejumlah ahli patologis yang dipublikasikan di Guangzhou pada Sabtu (19/11/2016), Dr Zhong mengutip sebuah hasil survei global menyebutkan bahwa Tiongkok sudah menjadi sebuah ‘negara besar flu’ pertama di dunia.

Tahun lalu saja, ada lebih dari 1 miliar kali warga yang  terserang penyakit flu dengan lamanya waktu yang rata-rata 18.5 hari.

Ia mengatakan, meskipun dokter menyarankan pasien flu beristirahat di rumah untuk  menghindari penyebaran virusnya, tetapi masih 75 % responden yang mengaku bahwa mereka masih tetap keluar rumah untuk bekerja.

Hal ini kemudian menjadi foktor utama virus flu menyebar dengan cepat dan meluas. Wang Shengsheng mengatakan, “Masyarakat Tiongkok masih beranggapan bahwa penyakit flu itu penyakit yang sepele, namun, flu sudah secara serius mempengaruhi kehidupan sehari-hari, kesehatan sampai pada ancaman terhadap keselamatan”.

Masyarakat Tiongkok berpersepsi bahwa karyawan yang berdedikasi itu akan tetap masuk kerja walaupun sedang sakit. Hal itu bertolak belakang dengan konsep pemikiran masyarakat Barat.

Ia juga mengatakan bahwa dalam 5 kali peristiwa flu global yang terjadi pada abad ke 20 ini, 2 wabah di antaranya terjadi di Tiongkok. Setelah masuk ke abad 21, SARS, flu burung, influenza tipe A telah menjadi pemicu krisis kesehatan di Tiongkok.

Wang mengingatkan masyarakat agar serius dalam menangani penyakit flu ini, melakukan perawatan secara profesional untuk mengurangi dampak bahaya yang diberikan kepada masyarakat. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular