JAKARTA – Menahan isak tangis sembari menyeka air mata terdengar sayup-sayup saat dua layar lebar terus berlangsung menayangkan film dokumenter Human Harvest di Aula Gedung D Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Atma Jaya di Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Film bercerita tentang perdagangan organ ilegal yang menimpa terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok  ini pertama kali diputar di Parlemen Inggris pada 4 November 2015 lalu. Acara yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Oase Atma Jaya didukung anggota Dafoh (Doctors Against Forced Organ Harvesting) dan praktisi Falun Gong  di Jakarta, dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan Atma Jaya dengan tiga sesi pemutaran film.

Puluhan mata pada setiap sesi terpaku cerita demi cerita akan perjalanan disutradarai oleh pembuat film Leon Lee dari Vancouver yang menyajikan hasil investigasi bertahun-tahun oleh pengacara HAM internasional, David Matas dan mantan sekretaris Negara Kanada, David Kilgour. Mereka berdua juga bercerita liku-liku disertai jalanan terjal berupa ancaman pembunuhan atas investigasi mereka.

Sebelumnya Film ini  juga pernah tayang di saluran televisi 3SAT berbahasa Jerman yang dimiliki patungan oleh Jerman, Austria dan Swiss. (Baca : Stasiun TV Jerman Menyoroti Perampasan Organ Secara Hidup-hidup )

Beragam tanggapan tentang penghargaan atas Hak Asasi Manusia serta menolak atas penindasan terhadap tahanan hati nurani disampaikan saat sesi tanya jawaban dipandu para pembicara. Ini pastinya bukan sekedar ‘baperan’ belaka, tapi berangkat dari nurani oase para mahasiswa-mahasiswi usai menyaksikan film pada saat itu.

“Menurut saya film ini cukup membuka mata kita bahwa di dunia global ada seperti ini, ada satu hal problematika penjualan organ dilakukan secara ilegal pada saat ini,” kata Hutagalung yang merupakan angkatan 2013 dari Fakultas Hukum.

Menurut anggota DAFOH, Karnadi Nurtantio, film ini sudah mendapat penghargaan terbaik pada International Investigative Documentary tahun 2015 oleh Asosiasi penyiar internasional (AIB), dan penghargaan bergengsi Peabody Award. (Baca : Film Exposing Forced Organ Harvesting in China Wins UK Award )

Karnadi mengatakan kejahatan pada cerita film tersebut masih berlangsung pada saat ini di Tiongkok. Apalagi praktek ini sudah menjadi industri kejahatan raksasa untuk memperoleh keuntungan direstui penguasa di Tiongkok pada saat itu Jiang Zemin.

Karnadi menambahkan riset pengambilan organ paksa ini sudah menjadi yang diprioritaskan oleh pelaku tak bertanggungjawab di Tiongkok. Walaupun masyarakat di Indonesia tak terlibat, tapi ada yang pernah melakukan transplantasi di Tiongkok tanpa mengetahui si pendonor organ. Jika dibandingkan dengan data Amnesty Internasional, kata Karnadi, ribuan eksekusi mati sudah dilakukan di Tiongkok.

“Media Tiongkok sendiri mengatakan ada 20 ribu, tapi kenyataannya angka ini jauh terlampaui,” rincinya.

Pada kesempatan terpisah, pegiat OASE Atmajaya, Joshua mengakui  tak menyangka bahwa di  Tiongkok terjadi praktek ilegal ini berupa penindasan terhadap melanggar HAM orang yang tak berdosa khusunya kepada praktisi Falun Gong. Apalagi praktek-praktek ini terjadi pada zaman modern seperti pada saat ini. “Istilahnya saya tersadarkan setelah nonton ini, tersadarkan,” tuturnya.

Joshua berharap kepada rekan-rekan seperjuangannya untuk tak terpana dengan kehidupan nyaman pada keseharian yang dijalani. Dia berharap kepada teman-temannya untuk memupuk rasa empati dan belas kasih yang dalam terhadap sesama, apalagi  ternyata banyak orang lain yang mana hidup mereka sedang mengalami penderitaan.

Sementara Ketua OASE Atmajaya, Titien Jenifer menuturkan, pihaknya menilai tayangan Human Harvest ini ada korelasinya terhadap kepedulian korban teraniaya pada Mei 1998 silam. Bahkan, kata Titien, adanya penindasan berupa pengambilan organ di tengah minimnya kepedulian sosial pada saat ini.

Bergerak sebagai UKM untuk kepedulian sosial, Titien mengharapkan adanya peningkatan terhadap kepedulian sesama untuk mendukung dihentikannya pengambilan organ paksa  melalui Film Human harvest ini.  Padahal pada kenyataan kehidupan, jelas Titien, sebagai ciptaan Tuhan sudah semestinya menekan belas kasih antar sesama.

“Kita melihat mereka ditindas, kita berharap penindasan ini dihentikan, jadi nurani Oase agar tak terjadi penjualan organ ke depan,  supaya belas kasih sesama manusia ciptaan Tuhan, semoga rekan-rekan Atmajaya meningkatkan kepedulian lebih tinggi,” pungkas Titien yang duduk di bangku jurusan Akuntasi. (asr)

Suasana nobar Human Harves 22 November 2016 (Foto : M.Asari)
Suasana nobar Human Harvest di Universitas Atmajaya Jakarta 22 November 2016 (Foto : M.Asari/Erabaru.net)
Sesi pertama dialog dan tanya jawab usai Nobar Human Harvest
Sesi pertama dialog dan tanya jawab usai nobar Human Harvest
Sesi kedua dialog dan tanya jawab usai nobar Film Human Harvest
Sesi kedua dialog dan tanya jawab usai nobar Film Human Harvest
Sesi ketiga dialog dan tanya jawab usai nobar film Human Harvest
Sesi ketiga dialog dan tanya jawab usai nobar film Human Harvest
Penyelenggara nobar film Human Harvest di kampus Universitas Atmajaya Jakarta 22 November 2016
Penyelenggara nobar film Human Harvest di kampus Universitas Atmajaya Jakarta 22 November 2016
Suasana dialog usai nobar film Human Harvest di Atmajaya, Jakarta 22 November 2016
Suasana dialog usai nobar film Human Harvest di Universitas Atmajaya, Jakarta 22 November 2016

 

Share

Video Popular