- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Genggaman yang Lemah Dapat Menjadi Pertanda Berisiko Menderita Alzheimer

Dua alat yang kuat untuk deteksi dini Alzheimer mungkin cocok di telapak tangan Anda. Sebenarnya, salah satu alat tersebut adalah tangan Anda sendiri.

Dokter ingin mengidentifikasi seseorang yang berisiko menderita penyakit otak seperti demensia dan stroke dini, sebelum timbul gejala, dengan uji yang cepat, murah, tanpa nyeri, dan mudah dilakukan oleh dokter umum sebagai pemeriksaan rutin.

Pencitraan otak seperti MRI dapat membantu memprediksi risiko demensia, tetapi MRI tidak praktis untuk skrining rutin. Sekarang, sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Alzheimer’s Disease, menunjukkan bahwa dengan mengukur kecepatan berjalan dengan stopwatch dan mengukur kekuatan menggenggam dengan alat  sederhana yang disebut dinamometer, dokter dapat memprediksi apakah seseorang sangat berisiko untuk menderita penyakit Alzheimer. Pada orang yang berusia lebih dari 65 tahun, kekuatan menggenggam juga membantu memprediksi stroke.

Penelitian ini berdasarkan data dari ujian fisik dan kognitif relawan di Framingham Heart Study, yang dimulai pada tahun 1948 dan sekarang masih dipantau apakah menderita penyakit kardiovaskular dan penyakit lain selama tiga generasi.

Antara tahun 1999 sampai tahun 2005, sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Erica Camargo Faye, seorang ahli saraf di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Boston University School of Medicine (MED), bersama dengan Galit Weinstein, memeriksa kekuatan genggaman tangan dan kecepatan berjalan terhadap lebih dari 2.100 orang yang berusia antara 35 tahun sampai 84 tahun, dan hasilnya tidak ada satupun yang telah didiagnosis menderita penyakit otak. Lebih dari 11 tahun, peneliti menindaklanjuti penelitian ini untuk melihat orang yang mana yang menderita Alzheimer atau stroke. Peneliti kemudian mencari hubungan antara hasil uji dini yang mereka dapat dengan munculnya penyakit ini.

Mereka dengan genggaman terlemah selama putaran pertama pengujian—di bawah 10 persen peserta kelompok— lebih dari dua kali cenderung menderita Alzheimer atau bentuk demensia yang lain selama masa tindak-lanjut 11 tahun. Pada orang berusia di atas 65 tahun, genggaman yang lemah berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi untuk menderita stroke. Peneliti juga menemukan bahwa mereka yang berjalan paling cepat kurang dari satu meter per detik hampir tiga kali lipat cenderung berisiko menderita Alzheimer atau demensia, dibandingkan dengan mereka yang berjalan lebih cepat.

“Pengukuran yang sangat sederhana untuk mengukur kemampuan fisik,” kata Galit Weinstein, sehingga memudahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap penderita yang mengunjungi ruang prakteknya.

Meskipun tidak ada obat untuk menyembuhkan Alzheimer, prediksi dini dan deteksi dini mendorong orang yang berisiko tinggi untuk mengubah  gaya hidup—seperti tetap aktif melakukan latihan fisik—sehingga mengurangi risiko terserang penyakit itu, demikian kata penulis senior Sudha Seshadri, seorang profesor ilmu penyakit saraf di Boston University School of Medicine dan penyidik  senior untuk Framingham Heart Study.

“Begitu seseorang menunjukkan gejala klinis, tampaknya terlambat untuk membuat perubahan gaya hidup yang efektif,” katanya. Uji sederhana di ruang praktek dokter dapat mempercepat seseorang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan tambahan uji fungsi saraf dan perawatan dini. Mereka yang berisiko tinggi menderita Alzheimer atau bentuk demensia yang lain tahu bahwa mereka mempunyai pilihan untuk memberitahu keluarga mengenai hal tersebut sebelum timbul gejala.

Mengapa berjalan cepat dan genggaman tangan merupakan peramal yang jitu untuk timbul tidaknya penyakit otak?

“Sebenarnya ada komponen saraf yang” untuk tugas-tugas ini, kata  Seshadri. Seiring dengan penuaan, maka kemampuan fisik maupun mental akan menurun, karena disebabkan oleh kerusakan umum di otak dan saraf yang mengkoordinasi gerakan tubuh. Beberapa peneliti masih bertanya-tanya mengapa hubungan peningkatan kekuatan dan kelincahan fisik melalui latihan fisik dapat menunda perkembangan penyakit Alzheimer dan penyakit demensia yang lain.

Meskipun penelitian ini tidak secara eksplisit menjawab pertanyaan tersebut, ada kesepahaman yang sedang berkembang bahwa hubungan antara otak dan tubuh berjalan baik. “Fungsi latihan fisik sangat memengaruhi fungsi pembuluh darah, yang pada akhirnya pasti akan memengaruhi kesehatan otak, ” kata Galit Weinstein.

“Pikiran sehat, tubuh yang sehat. Ada benarnya!,” kata Seshadri. “Ada beberapa kebenaran itu! Ini klise karena suatu alasan. “( Universitas Boston/Vivi/Yant)