Ketika mantan karyawan lama Fox News bernama Gretchen Carlson pada tanggal 6 Juli 2016 lalu mengajukan gugatan untuk kasus pelecehan seksual terhadap mantan bosnya di Fox News, bernama Roger Ailes, respons masyarakat kurang baik. Ada orang yang menyatakan tidak percaya dan menyanggah bahwa ia mengarang kisahnya sebagai pembalasan karena ia dipecat.

Banyak orang yang bertanya: Kalau begitu buruk, mengapa ia tidak maju lebih awal untuk menggugat?

Sebagai seorang psikolog traumatis, saya tahu perilaku Gretchen Carlson sama dengan banyak wanita yang mengalami berbagai bentuk kekerasan seksual. Banyak wanita tidak memberitahu siapa pun untuk waktu yang lama. Dan banyak wanita biasanya tidak melaporkan pengalaman ini secara terbuka atau kepada figur otoritas seperti polisi.

Orang harus ingat bahwa jenis keterlambatan pelaporan ini adalah normal ketika seseorang mengalami atau mendengar peristiwa traumatis, yang berlaku untuk kasus kekerasan seksual, pelecehan, dan banyak peristiwa traumatis lainnya.

Menghibur, bukan menyalahkan

Ketika sesuatu yang buruk terjadi, dari sebuah argumen dengan orang yang dicintai hingga masalah ban kempes atau tinjauan yang tidak menguntungkan di tempat kerja atau sekolah. Banyak dari kita ingin memberitahu hal tersebut kepada seseorang yang kita cintai untuk memberitahu pandangan kita dan kadang untuk minta bantuan dalam memecahkan masalah.

Tetapi setelah peristiwa traumatis, seperti penyerangan fisik atau seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau petikaian, yang mengancam untuk merampok seseorang dari martabat dan nyawanya, maka biasanya orang tersebut tidak memberitahu orang lain. Bahkan, banyak korban trauma tidak pernah berbicara kepada siapa pun mengenai apa yang terjadi pada mereka atau menunggu waktu yang sangat lama untuk melakukannya. Alasan untuk ini adalah bermacam-macam, seperti rasa malu, dicap buruk sebagai “korban”,  mengungkap pengalaman masa lalu yang buruk, dan ketakutan disalahkan atau diberitakan mengenai kesalahan mereka. Pada saat datang melaporkan kasus pelecehan seksual, wanita takut efek buruknya terhadap pekerjaan, promosi jabatan, atau penempatan jabatan kerja.

Hal ini ditunjukkan dalam temuan survei nasional terhadap wanita yang mengalami trauma dan efeknya terhadap kesehatan mental, di mana lebih dari seperempat wanita yang diperkosa pada masa anak-anak tidak pernah mengatakan kepada siapa pun sebelum mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara penelitian. Bahkan, hampir 50 persen wanita yang telah diperkosa tidak mengungkapkan kekerasan seksualnya paling sedikit selama lima tahun setelah kejadian. Beberapa wanita berbicara mengenai trauma yang mereka alami sebagai langkah awal menuju penyembuhan. Tetapi bagi beberapa wanita lain, berbagi pengalaman dan kemudian mengalami respons negatif dapat membahayakan proses pemulihan. Hal ini dapat menyebabkan mereka tutup mulut, jika tidak untuk selamanya, maka paling sedikit untuk waktu yang lama. Secara langsung mengalami peristiwa teroris seperti di Nice atau penembakan di Dallas dan Baton Rouge dapat menyebabkan efek yang sama.

Saya merasa senang bekerja dengan mantan tawanan perang zaman Perang Dunia II beberapa tahun lalu. Salah satu mantan tawanan perang tersebut mengatakan kepada saya bahwa tidak lama setelah ia bebas  dari tahanan, seorang kenalan bertanya kepadanya, “Mengapa Anda menyerah kepada Jerman?”

Pertanyaan ini tampak seperti tuduhan terhadap mantan tawanan perang tersebut, suatu ancaman terhadap penilaian dan perilaku yang pernah ia lakukan. Hal ini mengakibatkan ia berdiam diri dan hidup dalam kesendirian.

Hampir lima dekade kemudian, pria yang luar biasa ini yang begitu berani berjuang untuk negara Amerika Serikat mengikuti terapi kelompok. Ia tampak terguncang dan berteriak, “Saya harus katakan, ‘Anda sungguh keterlaluan. Bagaimana jika Luger Jerman (pistol otomatis berkalober 9 mm buatan Jerman) diarahkan ke kepala Anda.”

Sayangnya, sering terjadi respons yang tidak peka terhadap pengungkapan kasus traumatis. Pasien saya mengatakan bahwa kata-kata pertama yang sering keluar dari mulut orang adalah, “Oh, itu bukan masalah besar,” atau “Ini terjadi di masa lalu, lupakanlah,” atau “Apakah itu benar-benar terjadi?” atau “Eh, lupakan saja.”

Tentu saja, bukan hanya apa yang dikatakan orang yang dapat membuat pengalaman pengungkapan kasus traumatis menjadi berbahaya. Pesan yang tidak diungkapkan melalui kata-kata seperti kontak mata yang buruk, postur tubuh yang tidak menunjukkan simpati, dan jarak fisik juga merupakan hambatan dalam mengungkapkan, sehingga korban gagal mengalami pemulihan.

Selain pesan verbal dan non verbal yang kita terima dari orang lain, ada hambatan lain dalam mengungkapkan. Misalnya, anak-anak yang mengalami berbagai bentuk kekerasan, termasuk fisik, seksual, atau emosional, atau yang terabaikan atau menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga melaporkan bahwa mereka malu, takut kehilangan dukungan sosial, dan ketidakpastian bagaimana dan kepada siapa mereka akan mengungkapkan pengalamannya.

Sebagian besar anak-anak melaporkan bahwa mereka lebih suka mengungkapkan trauma tersebut kepada orang tua atau saudara kandung dibandingkan kepada orang yang profesional, tetapi banyak korban yang tidak memiliki anggota keluarga yang mendengarkan mereka dengan penuh kasih. Dan jika pelakunya adalah anggota keluarga, maka korban akan semakin sulit mencari seseorang untuk mengungkapkan kasusnya dan menerima mereka apa adanya.

Untuk anggota angkatan bersenjata yang kembali dari perang di Irak dan Afghanistan, yang bersikap positif terhadap pengungkapan kasus traumatis adalah prediktor terkuat dari pertumbuhan psikologis yang positif. Para veteran yang bersedia membahas peristiwa traumatisnya mengalami pertumbuhan psikologis yang jauh lebih baik daripada veteran yang menolak untuk berbagi pengalaman traumatisnya. Hal ini memperkuat pernyataan di dalam bidang studi trauma yang telah dikenal untuk waktu yang lama: Ada manfaat kesehatan fisik dan mental dari pengungkapan masalah traumatis, walaupun pernah diungkapkan sebelumnya.

Mendengarkan: Sebuah tanda cinta dan memahami

Salah satu tugas kami sebagai peneliti adalah untuk menentukan respons yang mendukung pengungkapan trauma dan kemudian mengajar anggota keluarga dan teman bagaimana memberikan respons tersebut kepada korban yang membutuhkan. Apakah ada cara untuk memberi respons yang murni dan efektif ketika berhadapan dengan teman atau anggota keluarga yang mengungkapkan suatu peristiwa yang mengerikan?

Dalam desain penelitian yang inovatif, psikolog di Universitas Oregon, Amerika Serikat,  meneliti dampak dari pelatihan keterampilan memberi respons terhadap pengungkapan penganiayaan. Lebih dari 100 pasang teman secara acak ditugaskan untuk berperan (sebagai pengungkap atau pendengar) dan kondisi (eksperimental atau kontrol).

Mereka yang berperan sebagai pengungkap diminta untuk memberitahu temannya mengenai peristiwa di mana mereka merasa dianiaya oleh seseorang yang dekat dengan mereka, seseorang yang mereka percaya, seseorang yang mereka peduli, atau seseorang yang padanya mereka bergantung. Mereka yang berperan sebagai pendengar dalam kondisi eksperimental dilatih mengenai cara secara verbal dan non verbal yang terbukti mendukung temannya. Hal-hal termasuk seperti menahan diri untuk mengubah topik, memungkinkan untuk diam, fokus pada pengalaman yang diceritakan oleh temannya, bukan dirinya, dan menunjukkan dukungan yang kuat.

Mereka yang berperan sebagi pendengar dengan kondisi eksperimental yang menerima pengarahan singkat tersebut secara bermakna lebih sedikit menunjukkan perilaku yang tidak mendukung dibandingkan dengan mereka yang berperan sebagi pendengar dengan kondisi kontrol.

Tidaklah mudah untuk mengungkapkan kasus traumatis tertentu. Bila korban tidak mengungkapkan atau pendengar tidak memberi dukungan maka akan berakibat buruk bagi kesejahteraan kita sendiri, keluarga dan masyarakat.( Universitas Yale/ Joan Cook/Yant)

Joan Cook seorang profesor psikiatri di Universitas Yale, Amerika serikat.

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular