Oleh Wu Ying

Masyarakat Tiongkok berbeda dengan Barat yang biasa dengan meninggalkan surat wasiat sebelum yang bersangkutan meninggal dunia. Tetapi tidak demikian bagi masyarakat Tiongkok yang umumnya tabu terhadap hal ini karena dianggap kutukan yang ditujukan kepada diri sendiri.

Namun sekarang, semakin banyak lansia Daratan Tiongkok yang bertekad memecahkan pandangan itu, memutuskan untuk meninggalkan surat wasiat sebelum kematian tiba. Alasan mereka tak lain adalah untuk mencegah terjadinya konflik masalah harta keluarga di antara keturunan mereka.

Media Tiongkok ‘the Sixth Tone’ pada 22 November melaporkan, munculnya fenomena membuat surat wasiat di Tiongkok diawali oleh kasus sengketa kekayaan keluarga pelukis terkenal Xu Linlu.

Sebelum Xu meninggal dunia ia telah meninggalkan surat wasiat yang isinya berupa memberikan seluruh koleksi lukisannya yang bernilai sekitar RMB 2 miliar kepada sang istri. Hal inilah yang memicu konflik keluarga sampai anak-anaknya juga saling menggugat lewat pengadilan setelah kematian Xu pada 2011.

Perebutan kekayaan antar keluarga karena surat wasiat yang ditinggalkan oleh Xu itu ditulis tangan dengan menggunakan alat tulis pit tetapi tanpa disaksikan oleh ahli medis yang ada. Sebagaimana diketahui bahwa meskipun istri Xu yang berusia 95 tahun sudah divonis menang oleh pengadilan, namun salah seorang putranya itu masih tidak terima dan mengajukan banding. kasus tersebut sampai sekarang belum diketahui hasilnya.

Seorang kakek bermarga Gu dengan tongkat di tangan kepada wartawan media ‘the Sixth Tone’ mengatakan bahwa ia telah memutuskan untuk membuat surat wasiat selepas ulang tahunnya yang ke 90 karena melihat sendiri ‘perang hidup mati’ merebut harta antara putra putri dari banyak teman-temannya itu setelah orang tua mereka meninggal dunia.

Kakek Gu yang takut putranya tidak senang sehingga tidak bersedia mengungkapkan nama lengkapnya mengatakan, “Pada 20 tahun yang lalu, tidak ada orang yang bersedia membuat surat wasiat. Bahkan sebagian orang tidak tahu apa itu surat wasiat. Membuat surat wasiat dianggap sebagai kutukan mati kepada diri sendiri. Tetapi sekarang membuat surat wasiat sudah jadi tren di Tiongkok.”

Kakek Gu kemudian menambahkan, ia sekarang tinggal di rumah putrinya dan hidup bersama keluarga mereka. Ketiga putranya kadang-kadang datang menjenguknya. Pengacaranya menasihati kakek Gu agar membuat surat wasiat jika ingin mewariskan sebuah unit apartemen kepada putrinya itu. Dengan adanya surat wasiat resmi itu ia akan bebas dari sengketa harta warisan antara anak-anaknya sebagaimana yang ia khawatirkan.

Artikel menyebutkan bahwa dengan semakin banyaknya warga lansia kaya di Tiongkok, maka jumlah kasus sengketa warisan yang diajukan lewat pengadilan pun terus meningkat. Menurut data resmi yang dikumpulkan pihak berwenang Beijing bahwa 75 % dari litigasi yang ada di pengadilan itu merupakan kasus sengketa warisan. Setelah 2014, gugatan sengketa lewat pengadilan paling tidak berjumlah 10.000 kasus setiap tahunnya.

Situasi yang dialami oleh seorang guru wanita bermarga Wang hampir mirip dengan yang dialami kakek Gu. Guru Wang yang sekarang berusia 62 tahun memiliki sepasang anak dan 2 unit apartemen.

Kepada wartawan media ‘the Sixth Tone’ ia mengatakan, “Anak lelaki saya mengira saya akan memberikan kedua unit apartemen itu kepadanya. Tetapi saya lebih menghendaki warisan dibagikan secara adil kepada anak-anak saya”.

Sama halnya dengan kakek Gu, guru Wang pun tidak bersedia untuk mengungkapkan namanya karena khawatir anaknya marah.

“Di usia saya sekarang ini, kadang orang berpikir bahwa jarak dengan kematian masih cukup jauh, tetapi kenyataanya belum tentu begitu,” katanya.

2 tahun silam, suaminya meninggal dunia, musim panas tahun ini, ia divonis dokter mengidap penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Ia juga khawatir dengan serangan jantung yang datang menyerang secara tiba-tiba kemudian meninggal dunia.

Tetapi guru Wang tidak membuat surat wasiat karena ia tidak tahu bagaimana cara menuliskan sebuah surat yang memiliki ikatan hukum. Ini mungkin juga merupakan hambatan yang banyak dialami oleh para lansia di Tiongkok.

Menurut keputusan pengadilan lokal Beijing, ada sekitar 60 % surat wasiat yang diterima pihaknya merupakan surat wasiat yang tidak sah karena tidak melibatkan saksi sebagaimana yang ditetapkan oleh pihak berwenang, yaitu membutuhkan seorang ahli medis yang membuktikan bahwa yang bersangkutan menuliskan surat wasiat dalam situasi penuh kesadaran.

Untuk menyelesaikan masalah ini, kantor notaris milik Chen Kai yaitu Zhongkai Law Firm yang berlokasi di Beijing pada 2013 telah mendirikan sebuah yayasan non profit yang diberi nama Pusat Pendataan Warisan Tiongkok (China Will Registration Center), tujuan dari dibentuknya yayasan ini adalah untuk membantu para warga lansia yang ingin membuat surat wasiat.

Sejauh ini, berkat bantuan yayasan tersebut sudah ada sekitar 40.000 surat wasiat yang diterbitkan dan memberikan konsultasi kepada ribuan orang yang berminat.

Gagasan untuk mendirikan yayasan tersebut sebenarnya sudah muncul di benak Chen Kai pada 2007 saat ia berkunjung ke Australia. Pada waktu itu, ia terkejut setelah menemukan bahwa sebagian besar warga lansia Australia sudah membuat surat wasiat.

“Kita berpikir bahwa kesenjangan antara Tiongkok dengan negara-negara maju itu hanya diukur melalui perbedaan antara kemewahan mobil dan rumah dari penduduk negara masing-masing. Namun kesenjangan yang cukup menyolok terletak pada kurangnya masyarakat Tiongkok untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan kesadaran atas hak asasi manusia,” kata Chen Kai.

Notaris Chen Kai percaya bahwa membuat surat warisan selain untuk menghindari timbulnya sengketa keluarga soal harta warisan, tetapi juga merupakan dorongan bagi masyarakat untuk senantiasa mempertimbangkan tentang hubungan antara keamanan harta dengan anggota keluarga.

Misalnya, pewaris dapat menentukan melalui surat wasiat, pasangan dari putra atau putri mereka tidak termasuk yang berhak menerima manfaat. Dengan penegasan ini, bila putra atau putri dari pewaris itu sampai bercerai, maka harta warisan tersebut bukan merupakan objek yang diperebutkan karena ia langsung menjadi milik putra atau putri dari sang pewaris.

Meskipun kian banyak penduduk lansia di Tiongkok dapat menerima gagasan untuk membuat surat wasiat, tetapi hukum di Tiongkok masih ketinggalan jaman. Menurut pakar hukum Tiongkok bahwa hukum tentang warisan yang dikeluarkan pihak berwenang Beijing pada 1985 sudah membutuhkan penyempurnaannya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular