Para ilmuwan tanpa sengaja menemukan sebuah kolam di kedalaman 15 km (9.3 mil) di bawah gunung berapi pegunungan Andes, volumenya diperkirakan setara dengan Danau Superior (Lake Superior) di Amerika Utara.

Menurut tim peneliti, gunung berapi besar lainnya di Bumi kemungkinan juga mengandung danau aneh seperti itu, dan mungkin danau itu dapat membantu menjelaskan mistri gunung berapi yang terus memuntahkan letusannya.

Danau raksasa itu ditemukan sebuah tim peneliti dari Universitas Bristol, Inggris, ketika mereka menemukan gejala yang aneh di bawah gunung berapi Uturunku di Bolivia.

Setelah diselidiki secara seksama, mereka terkejut menemukan kapasitas penyimpanan air mencapai 1,5 juta kilometer kubik, sebanding dengan Danau Superior yang terbesar di Amerika Utara.

“Kapasitas penyimpanannya kira-kira sebanding dengan Danau Huron atau Danau Superior, ini merupakan cadangan besar yang menakjubkan,” kata peneliti utama Jon Blundry kepada New Scientist Andy Coghlan.

Tapi tidak seperti danau air tawar di permukaan bumi, kolam penyimpaman ini disebut bagian dari magma-nya Altiplano-Puna, dengan suhunya hampir mendekati 1.000 derajat Celcius, dan bercampur dengan batuan cair, mungkin berpotensi memicu ledakan gunung berapi yang lebih dahsyat.

Tapi yang penting, magma Altiplano Puna sepertinya telah mengurangi gelombang seismik dan penghantaran listriknya, tidak seperti magma yang tidak bercampur dengan air di sekitarnya.

Demi mencoba mencari tahu sebabnya, tim ini mencampurkan batuan berusia 500 ribu tahun dari letusan gunung ini dengan air di laboratorium yang sama kondisinya seperti di kedalaman 15 kilometer di bawah permukaan bumi.

Hasilnya mereka menghitung bahwa sekitar 8 %% sampai 10% air larut di dalam lelehan silikat, yang menjelaskan bentuk anomali konduktivitas listrik yang mereka temukan.

Dalam siaran persnya, salah satu peneliti dari University of Orleans, Prancis, Fabrice Gaillard mengatakan bahwa 10% air yang dilarutkan menandakan bahwa di antara setiap tiga molekul silikat terdapat satu molekul air.

“Sejumlah besar air dilarutkan, dan ini dapat membantu menjelaskan mengapa cairan silikat ini memiliki konduktivitas listrik yang baik,” kata rilis itu.

Tim peneliti belum tahu mengapa konduktivitas listrik ini sangat penting, atau bagaimana hal itu mempengaruhi letusan gunung berapi, tetapi mereka telah menemukan kondisi yang sama di zona vulkanik Taupo di Selandia Baru dan gunung St. Helens yang paling mematikan di negara bagian Washington, yaitu konduktivitas listrik yang tidak dapat dijelaskan.

Namun, yang penting, penelitian ini juga menjelaskan interaksi air di kedalaman permukaan bumi itu mempengaruhi proses yang kompleks dari pembentukan kerak, dan semua ini merupakan hal yang akan kami pahami selanjutnya. (Secretchina/ Chen Gang/joni/rmat)

Share

Video Popular