Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal terkemuka, Addiction, mungkin akan mengubah segalanya bagi pengguna rokok elektrik (e-rokok atau vape).

Studi yang dilakukan terhadap 1.473 perokok Inggris menemukan, mereka yang bukan pengguna vape lebih memungkinkan untuk berhenti merokok setelah 12 bulan: 13,9% dari non-vape berhasil berhenti, dibandingkan dengan 9,5% dari pengguna vape sesekali dan 8,1% dari pengguna vape harian.

Penelitian ini dilakukan oleh komunitas peneliti Inggris yang sangat dihormati, salah satu diantaranya dihormati oleh aktivis vape atas optimismenya pada vape.

Anehnya, jurnal tidak menampilkan makalah ini pada “tampilan awal”-nya atau bagian “artikel yang diterima” setelah melewati penilaian sejawat (proses penelitian suatu karya ilmiah oleh pakar lain di bidang tersebut), seperti kebiasaan hampir semua karya ilmiah pada saat ini. Malahan ia ditutupi dari pandangan publik hingga saat ini.

Penelitian terakhir

Selama beberapa tahun pendukung vape telah mempromosikan rokok elektrik sebagai alat bantu perokok untuk berhenti dan sangat mengurangi bahaya, seiring dengan dipublikasikannya satu studi yang membuat pengakuan menggelikan bahwa vape memiliki andil menghentikan merokok sebesar 81%. Data tersebut diperoleh dari peserta yang dipilih sendiri dalam ruang obrolan (chatting) pendukung vape. Tidak jelas berapa banyak yang memiliki kepentingan komersial dalam rokok elektrik.

Sebelas penelitian yang telah diterbitkan, telah menyelidiki bagaimana perokok vape bila dibandingkan dengan perokok non-vape ketika berhenti merokok. Stanton Glantz dari University of California, AS,  memiliki meta analisis pada studi ini, dan menemukan bahwa perokok vape 30% lebih kecil kemungkinannya untuk berhenti merokok apabila dibandingkan dengan perokok non-vape.

Kritikus telah menunjukkan bahwa semua studi ini telah menyamaratakan antara pengguna harian dengan pengguna yang non harian. Kelompok terakhir ini akan termasuk orang yang mencoba vape hanya sesekali saja atau terdorong oleh rasa ingin tahu, dan ini akan jauh lebih kecil kemungkinannya menggunakan vape sebagai upaya untuk berhenti merokok.

Tapi kini, makalah di Addiction mempertimbangkan kritikan ini dengan membagi peserta menjadi tiga kelompok, yaitu mereka yang berusaha untuk berhenti merokok tanpa menggunakan vape; orang yang menggunakan vape sesekali (tidak setiap hari); dan mereka yang menggunakan vape setiap hari.

Mengurangi

Ada tiga temuan utama dari penelitian tersebut. Pertama, bisa ditebak, bahwa jauh lebih banyak perokok vape harian yang berusaha untuk berhenti merokok dibandingkan dengan pengguna vape hanya untuk sesekali. Ini hampir seperti orang yang minum cola diet untuk mencoba mengurangi asupan kalori mereka.

Yang kedua adalah, pegguna vape harian mengurangi jumlah rokok mereka lebih banyak dari pada pengguna vape sesekali:

Perokok vape harian, ketika ditindaklanjuti lebih memungkinkan (dibanding pengguna vape non-harian) untuk mencapai pengurangan konsumsi rokok tembakau setidaknya 50%.

Mungkin begitu, namun proporsi tersebut membuat pengurangan substansial ini menjadi sederhana. Dari pengguna vape harian, hanya 13,9% yang mengurangi rokok mereka setidaknya menjadi setengah. Jadi lebih dari 86% pengguna vape harian tidak membuat banyak pengurangan: mereka vape setiap hari dan sering merokok sebanyak yang biasa mereka lakukan. Pengguna ganda jangka panjang ini adalah berita bagus bagi perusahaan tembakau yang sekarang menjual rokok dan e-rokok.

Setelah 12 bulan, hampir 6% dari perokok non-vape yang ditindaklanjuti, juga telah mengurangi rokok harian mereka setidaknya setengah. Jadi pengurangan yang disebabkan vape hanya sebesar 8,2%.

Pendukung rokok vape akan mencatat temuan ini sebagai tanda centang bagi pengurangan dampak negatif, dan berpendapat bahwa rokok konvensional apa pun jika dibandingkan vape adalah mengurangi bahaya, dan karena itu merupakan hal yang baik.

Ini terdengar wajar, sampai kami melihat bukti dari empat kelompok studi yang diterbitkan tahun 2006, yang melaporkan apakah dengan mengurangi merokok (karena tidak setuju berhenti total merokok) akan mengurangi risiko kematian dini.

Meskipun ada bukti yang kuat pada hubungan kausal antara serapan awal, jumlah asap dan durasi merokok, bukti dari bahaya “rekayasa terbalik” dengan terus merokok sambil mengurangi adalah bukanlah bukti yang kuat. Sebuah peneliti Norwegia menindaklanjuti sebanyak 51.210 orang mulai dari tahun 1970-an hingga tahun 2003, menemukan:

Tidak ada bukti bahwa perokok yang mengurangi konsumsi harian rokok mereka lebih dari 50%, bisa mengurangi risiko kematian dini secara signifikan.

Sebuah studi Skotlandia dari dua kelompok yang ditindaklanjuti mulai dari tahun 1970-an hingga 2010, tidak ditemukan bukti yang mengurangi risiko kematian dini pada perokok yang mengurangi konsumsi rokoknya, tapi bukti yang jelas terlihat pada orang yang berhenti merokok, dan menyimpulkan bahwa:

Mengurangi konsumsi rokok tidak boleh dipromosikan sebagai cara untuk mengurangi angka kematian.

Studi terbesar dari Korea, yang diikuti 479.156 orang selama 11 tahun, tidak menemukan hubungan antara pengurangan rokok dan semua risiko kanker, tetapi ada penurunan yang signifikan dalam risiko kanker paru-paru, dengan ukuran pengurangan risiko “tidak proporsional lebih kecil dari yang diharapkan”.

Vape harian berhenti lebih sedikit dari pada non-Vape

Temuan ketiga memberikan pukulan besar bagi pengguna vape yang di anggap sebagai “idola baru” untuk membantu menghentikan merokok, dan salah satu pilar utama dari kasus vape.

Bagi perokok yang non-vape pada survei dasar pertama, sebanyak 12,9% telah berhenti merokok dalam waktu 12 bulan, dibandingkan dengan 9,5% pengguna vape non-harian dan hanya 8,1% pengguna vape harian. Perbedaan ini secara statistik tidak signifikan.

Sebuah percobaan awal acak terkontrol juga menemukan bahwa vape adalah terapi pengganti nikotin yang tidak efektif dalam penghentian pada 6 bulan berikutnya: 92,7% pengguna vape masih merokok dibandingkan dengan 94,2% menggunakan nikotin patch. Percobaan ini dengan semangat dipermalukan oleh aktivis vape, karena vape yang digunakan adalah “generasi pertama” cigalikes, banyak yang meremehkannya pada ruang obrolan vape karena memberikan jumlah nikotin yang sedikit.

Studi ini tampaknya pasti akan diabaikan dengan argumen yang sama, karena vape yang paling umum digunakan oleh pengguna vape harian juga adalah cigalikes. Dengan tidak adanya data yang kuat tentang berhenti merokok berkelanjutan dari generasi terbaru pengguna vape, studi ini memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana sebagian pengguna vape melangkah maju.

Ada banyak pengguna vape yang berdedikasi di masyarakat saat ini, yang memiliki cerita otentik tentang bagaimana mereka mampu berhenti merokok melalui rokok elektrik (vape), setelah sering mengalami banyak usaha yang gagal dengan terapi pengganti nikotin.

Tapi kebijakan kesehatan masyarakat terhadap vape dan penghentian merokok tidaklah harus dibangun atas anekdot seperti itu lagi, yang sama halnya dengan kasus keyakinan dari banyak pengemudi yang mengatakan bahwa mereka merasa cukup aman dan terhindar dari kecelakaan setelah minum alkohol, dibandingkan dengan data yang berbasis bukti pada risiko bahaya alkohol dalam mengemudi. (University of Sydney/Simon Chapman/Ajg)

Share

Video Popular