JAKARTA – Praktek pengambilan paksa organ tubuh yang dialami puluhan ribu praktisi Falun Gong di Tiongkok dilakukan dengan luar batas nalar manusia. Praktek kekejaman yang terjadi misalnya hanya untuk kebutuhan satu orang pasien, dilakukan perampasan organ hingga delapan orang sebagai langkah untuk pencocokan berdasarkan pesanan. Parahnya, korban-korban tewas tanpa jejak dengan dikremasi begitu saja tak diketahui keluarga mereka.

Hal demikian merupakan sekelumit dari film Human Harvest dengan sutradara Leo Lee yang menceritakan tentang penelusuran praktek organ ilegal bersumber dari praktisi Falun Gong di Tiongkok. Alur film disertai wawancara dengan ahli medis internasional, pengacara HAM internasional, David Matas dan mantan sekretaris Negara Kanada, David Kilgour, pasien transplantasi dan keluarga mereka. Film ini diperkuat dengan saksi mata dan keluarga mereka yang mengetahui secara pasti transplantasi ilegal berlangsung serta segala kekejamannya.

Pemutaran film berdurasi selama 52 menit ini dilaksanakan di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) di Jalan Arjuna Utara, Jakarta Barat, Jumat (25/11/2016). Film ini pertama kali diputar di Parlemen Inggris pada 4 November 2015 dan pernah tayang di saluran televisi 3SAT berbahasa Jerman yang dimiliki patungan oleh Jerman, Austria dan Swiss.

Sekitar ratusan para Ukridian menyimak dan menyaksikan secara seksama film yang pernah mendapatkan penghargaan terbaik pada International Investigative Documentary tahun 2015 oleh Asosiasi penyiar internasional (AIB), dan penghargaan bergengsi Peabody Award. (Baca : Film Exposing Forced Organ Harvesting in China Wins UK Award ).

Film ini bermula menceritakan permasalahan dan solusi dari 3 pasien dari Taiwan beserta keluarga tentang kebutuhan donor organ hingga membawa mereka terbang ke Tiongkok. Praktek yang tak lazim sudah dialami mereka, dari pemenuhan organ hanya hitungan seminggu menimbulkan tanda tanya.

Seorang mahasiswi dari Fakultas Kedokteran usai menonton bertanya-tanya untuk mengetahui secara jelas tentang Falun Gong sehingga serta bagaimana praktisi Falun Gong yang kebanyakan menjadi korban pengambilan organ. Pertanyaan tentang legalitas dan jalur rumah sakit-rumah sakit itu hingga terlibat melakukan transplantasi juga menjadi sumber pertanyaan.

Mahasiswa Ukrida lainnya mengaku kaget atas pencemaran nama baik yang dialami oleh praktisi Falun Gong. Mahasiswa ini lebih lanjut ingin mengetahui lebih mendetail atas reputasi Falun Gong yang dihancurkan. Tak hanya itu, tujuan penguasa Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengambil paksa organ tubuh di balik pencemaran reputasi Falun Gong juga menjadi tanda tanya.

Lebih jauh, dia mengatakan berdasarkan panduan kedokteran bahwa praktek transplantasi organ harus ada koordinasi kecocokan dan ketidakcocokan antara jaringan tubuh si penerima dengan si pendonor. Namun demikian menjadi pertanyaan, jika kemudian ternyata prosedur paksa pengambilan organ pada sejumlah orang dilakukan hanya untuk pencocokan terhadap seorang pasien.

Dia juga sepakat bahwa jika praktek seperti itu dilakukan tentunya hanya berpeluang satu persen untuk pencocokan. Hingga akhirnya cara pengambilan organ dengan penyisiran terhadap para korba-korban diantara jutaan orang menjadi sebuah pertanyaan.

“Anggap saja A ingin transplantasi jantung, apakah mereka harus melakukan pengecekan terhadap berjuta-jutaorang  untuk orang itu, jadi bagaimana cara mereka melakukan penyisiran tersebut dari berjuta-juta orang untuk melakukan pencocokan,” ujarnya.

Seorang dosen dari Fakultas Kedokteran UKRIDA pada kempatan itu berharap para Ukridian memahami dengan baik hubungan tentang kepedulian antara praktek kedokteran dan kemanusiaan dalam bermasyarakat.

Menurut dia, para Ukridian sudah semestinya berpegang teguh pada Sumpah Dokter yang lebih mendahulukan pasien bahkan lebih peduli dengan nilai kemanusiaan seperti ketika terjadinya praktek pengambilan organ tubuh secara ilegal. Dia juga memberikan apresiasi atas penayangan Film Human Harvest yang diharapkan bermanfaat bagi Ukridian.

“Kita perlu memegang teguh pada sumpah dokter, harus aware siapa korbannya, tanpa peduli status dan kelas sosial, praktek pembunuhan seperti itu itu harus dihindari, semoga film-film seperti ini berguna,” ujarnya.

Anggota DAFOH (Doctors Against Forced Organ Harvesting)  dari non-medis,  Karnadi Nurtantio, menjelaskan tentang latihan Falun Gong atau Falun Dafa serta manfaat perbaikan kesehatan yang diperoleh oleh para orang yang melatihnya. Dia juga menjelaskan praktek transplantasi sebagaimana alur cerita dan wawancara dengan para ahli pada film tersebut.

Menurut Karnadi, para praktisi Falun Gong yang menjadi korban sebelumnya ditangkap dan ditahan secara ilegal. Walaupun praktek transplantasi ada yang legal, namun apa yang terjadi di Tiongkok sudah merupakan sebuah industri kejahatan dengan dukungan penguasa di Tiongkok.  Menurut dia, sejak Falun Gong ditindas atas kecemburuan penguasa Tiongkok saat itu yakni Jiang Zemin pada 1999 silam, awalnya di Tiongkok hanya memiliki sebanyak 150 pusat transplantasi.

Lebih jauh dia menuturkan, pada hitungan setahun di Tiongkok sudah berkembang menjadi 600 pusat transplantasi dengan melibatkan rumah sakit militer dan Universitas-Universitas yang dimiliki pemerintah. Bahkan, praktek ilegal di pusat transplantasi ini sudah dianggap mendatangkan keuntungan besar sehingga ditempuh langkah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. (asr)

Para Ukridian saat menyimak penjelasan tentang Film Human Harvest (Istimewa)
Para Ukridian saat menyimak penjelasan tentang Film Human Harvest (Istimewa)
Sambutan pihak kampus menanggapi tentang film Human Harvest (Istimewa)
Sambutan pihak kampus menanggapi tentang film Human Harvest (Istimewa)
Pihak Kampus, mahasiswa dan pegiat DAFOH saat berfoto bersama (Istimewa)
Pihak Kampus, mahasiswa dan pegiat DAFOH saat berfoto bersama (Istimewa)

Share

Video Popular