Ribuan warga Filipina tetap melancarkan unjuk rasa di bawah guyuran hujan deras di Manila pada Jumat (25/11/2016). Mereka menuntut pemerintah untuk menolak pemakaman jenasah mantan presiden Filipina Ferdinand Marcos di Taman Nasional Rizal.

Para pengunjuk rasa mengancam akan melakukan protes dalam jangka panjang. Apakah gelombang anti Marcos akan meluas dan berkembang menjadi ancaman bagi rezim Rodrigo Duterte? Hal itu sedang mendapat pengamatan banyak pihak.

Unjuk rasa dimulai sejak pukul 4 sore. Riribuan mahasiswa, anggota kelompok radikal dan para korban HAM jaman Marcos berkuasa berkumpul di Taman Nasional Rizal yang terletak di Teluk Manila (Manila Bay).

Mereka menolak jenasah sang diktator itu dimakamkan dalam taman tersebut. Gelombang protes itu kemudian dikenal sebagai “Demontrasi Jumat Hitam”.

Di taman nasional tersebut, pahlawan nasional Filipina Jose Rizal yang mengobarkan revolusi untuk melawan penjajahan Kerajaan Spanyol dan memperjuangkan kemerdekaan bagi Filipina telah dieksekusi dan dimakamkan pada 1896.

Para pengunjuk rasa yang rata-rata berbaju hitam melakukan protes dengan mengangkat slogan,  membentangkan spanduk sambil berteriak, “Marcos Bukan Pahlawan”, “Marcos, Hitler adalah diktator ! Antek !”

Ribuan Warga Filipina melakukan ‘Demontrasi Jumat Hitam’ pada 25 Nopember menentang pemakaman jenasah mantan presiden Ferdinand Marcos di Taman Nasional Rizal, Manila (foto CNA)
Ribuan Warga Filipina melakukan ‘Demontrasi Jumat Hitam’ pada 25 Nopember menentang pemakaman jenasah mantan presiden Ferdinand Marcos di Taman Nasional Rizal, Manila (foto CNA)

Di depan barisan pengunjuk rasa, terlihat sebuah boneka yang dilambangkan sebagai Marcos lagi  setengah berbaring dalam peti mati dengan kedua tangannya sedang memeluk 2 kantong besar  berisi uang.

Di sekeliling peti mati itu terdapat slogan-slogan yang antara lain bertuliskan; “Tolak kepemimpinan yang memberlakukan  darurat militer”, dan angka yang menunjukkan jumlah korban HAM pada jaman Marcos berkuasa.

Peti jenasah Marcos yang ditutupi bendera Filipina pada Jumat (18/11/2016) dibawa oleh keluarga Marcos dan dimakamkan dalam taman nasional tersebut. Upacara pemakaman yang berlangsung amat sangat singkat dan dirahasiakan itu kemudian menjadi gunjingan masyarakat.

Allan Asmines, seorang korban HAM yang kini berusia 69 tahun kepada wartawan Central News Agency mengatakan, ia pernah dijebloskan ke dalam penjara selama 7 tahun oleh rezim Marcos. 3 bulan sebelumnya, ia bahkan ditahan di sebuah lokasi yang tidak diketahui. Setiap hari menjalani penyiksaan. Ia percaya bahwa Marcos telah menganiaya jutaan rakyat Filipina, sehingga tidak layak disebut pahlawan untuk dikebumikan di taman nasional tersebut.

Ferdinand Marcos menjadi kepala Negara Filipina selama 20 tahun, dan digulingkan dalam sebuah revolusi rakyat pada 1986. Ia bersama keluarganya kemudian melarikan diri ke Hawaii. Pada 28 September 1989 ia meninggal dunia di perantauan dan peti jenasahnya baru boleh dibawa ke  Filipina setelah hampir 4 tahun berselang. Keluarga Marcos terus berharap peti jenasah dapat dikebumikan dalam taman nasional.

Namun, selama Marcos memberlakukan darurat militer, lebih dari 100.000 orang rakyat Filipina dikabarkan telah mengalami penganiayaan HAM yang berat. Menurut perkiraan organisasi transparansi internasional bahwa selama Marcos berkuasa, ia telah menjarah dana public Filipina yang besarnya mencapai antara USD 5 – 10 miliar. Itulah sebabnya masyarakat tidak mau menerimanya sebagai pahlawan apalagi dikuburkan di Taman Nasional Rizal.

Presiden Duterte mendukung jenasah Marcos dikebumikan di Taman Nasional Rizal. Mahkamah Agung Filipina pada 8 November melakukan pungutan suara dengan hasil 9 banding 5 suara memutuskan pemberian ijin untuk memakamkan jenasah Marcos di taman nasional tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, muncul sejumlah unjuk rasa anti Marcos di berbagai daerah Filipina.  Yang dikhawatirkan adalah jika gelombang ketidakpuasan terhadap sikap Presiden Duterte terus membesar.  (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular