Ciri khas di masa pemerintahan Reagan adalah paham konservatif, arus gelombang konservatif tidak hanya mendorong Reagan sampai ke puncak kepemimpinan, juga membantunya mewujudkan Revolusi Reagan.

Ini termasuk ilmu ekonomi Reagan, yakni menurunkan pajak dan mengurangi belanja pemerintah, menempuh kebijakan mengencangkan ikat pinggang, mencanangkan kebijakan dimulai dari sisi suplai, dengan cara memperbaiki lingkungan suplai dan meningkatkan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  Paham Reagan adalah batu pondasi bagi kebijakan diplomatik Reagan, intinya adalah anti komunis. Pandangan moral Reagan adalah konsep moral untuk mengembalikan tradisi, yang paling banyak diungkapkan adalah aborsi dan pelajar berdoa.

Revolusi Reagan telah mencapai dua prestasi besar: yang pertama adalah membangkitkan ekonomi AS. Ilmu ekonomi Reagan berhasil membangkitkan kembali semangat warga AS yang sempat pupus dan merasa putus asa, serta serta membuat sistem kapitalisme yang antusias namun tidak mengintervensi itu melampaui batasan dari pihak pemerintahan.

Setelah perekonomian AS mengalami depresi parah selama 1981-1982, dan bangkit lagi pada 1982 hingga usai masa jabatan Reagan pada 1989, sejak saat itu terciptalah keajaiban pertumbuhan ekonomi yang cepat di AS.

Yang kedua adalah sukses memerangi paham komunis. Setelah menjabat, Reagan mengubah kebijakan terhadap Uni Soviet yang tadinya bersifat mengepung menjadi konfrontasi secara langsung. Pada 9 November 1989, hari usainya pemerintahan Reagan, Tembok Berlin telah dirobohkan, dan dua tahun kemudian, Uni Soviet sudah tidak eksis lagi.

Tak hanya para pemimpin wilayah tersebut memuji kontribusi Reagan yang bersejarah itu, bahkan dunia internasional pun umumnya berpendapat, adalah karena kebijakan keras dari pemerintahan Reagan telah mengakibatkan tekanan besar terhadap anggaran belanja militer Uni Soviet yang pada akhirnya meruntuhkan perekonomian Uni Soviet, sehingga terwujudlah harapan AS untuk merobohkan Uni Soviet tanpa berperang dan runtuhnya kubu komunis, Amerika berhasil mewujudkan impiannya menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.

Reagan adalah pemimpin utama dunia pertama yang mencanangkan paham komunis bakal tergulingkan. Pada  12 Juni 1987, Reagan mendesak Gorbachev untuk memperbaiki ekonomi Uni Soviet, mendorong reformasi, dan merobek “tirai besi” yang telah membelah Eropa menjadi 2 kubu. Di hadapan puluhan ribu massa di depan Tembok Berlin, Reagan berkata, “Sekjend Gorbachev, jika Anda mencari kedamaian, jika Anda mencari kemakmuran bagi Uni Soviet dan Eropa Timur, jika Anda mencari liberalisasi, maka datanglah ke depan gerbang ini. Tuan Gorbachev, bukalah pintu ini! Tuan Gorbachev, robohkanlah tembok ini!”

Ketika pemimpin Uni Soviet mengumumkan bahwa Uni Soviet tidak akan mengintervensi urusan pemerintahan semua negara Eropa Timur, rezim komunis di seluruh dataran Eropa Timur pun seketika itu susul menyusul pada berjatuhan.

PM Inggris Margaret Thatcher dalam pidatonya menyimpulkan prestasi Reagan sebagai berikut: “Orang lain meramalkan negara Barat akan mengalami kemunduran, ia justru memotivasi AS dan para sekutunya, untuk melanjutkan keyakinan mewujudkan misi kebebasan itu. Orang lain dengan gelisah mengharapkan hasil terbaik dengan hidup berdampingan dengan Uni Soviet. Ia justru memenangkan perang dingin ini, tidak hanya tanpa sebutir pun peluru berdesing, bahkan berhasil mengundang musuhnya keluar dari benteng persembunyiannya, serta mengubah lawan menjadi kawan.”

Mungkin karena itulah, media massa AS baru menilai presiden AS yang ke-40 Ronald Reagan (1981-1989) sebagai “Presiden AS yang Paling Agung Abad ke-20”, dan ditempatkan sejajar dengan Presiden AS Roosevelt yang mengumumkan perang melawan Faxizme dan berhasil memimpin AS untiuk memenangkan PD-II.

Kini, anggota Partai Republik yakni Trump kembali terpilih sebagai presiden AS, jika dilihat dari platform kampanye dan gagasan pemerintahannya, bukanlah merupakan bencana bagi AS, bukan juga bencana bagi Tiongkok, terlebih lagi bukan bencana bagi dunia, melainkan bencana bagi Partai Komunis Tiongkok yang diktator.

Roda sejarah telah sampai pada tahap ini, buku “9 Komentar Partai Komunis” telah merobek topeng PKT, lebih dari 250 juta orang telah menyatakan diri mundur dari keanggotaan partai komunis dan segala organsisasi yang terkait dengan PKT, kini tembok merah PKT telah goyah dan akan segera ambruk. Bagi para petinggi PKT di Zhongnanhai dan para politisi masyarakat bebas, ini adalah peluang sejarah yang teramat langka.

Sama halnya dengan masa pemerintahan Reagan, terpilihnya Trump bisa menciptakan babak baru bagi dunia, terutama akan mewujudkan tercerai berainya rezim otoriter PKT. (jin yan/sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular