Saat menjelang pagi, kita mendesaknya untuk bangun, membantunya merapikan tas sekolah, memeriksa PR dan semacamnya. Namun, anak – anak justru acuh tak acuh dengan semua yang dilakukan orang tua untuknya, mereka tetap saja semaunya. Prestasi di sekolah biasa-biasa saja, tidak ada kemajuan, malah justru membuat kita lelah sendiri. Prestasi anak-anak tidak sebanding dengan tenaga dan pikiran yang orang tua curahkan. Orang tua yang terlalu rajin, membantu segala sesuatu untuk anak-anak, justru mengembangkan sifat malas mereka.

Adapun mengenai sebabnya, terletak pada orang tua itu sendiri. Karena orang tua yang terlalu rajin mengerjakan segalanya untuk anak mereka, sehingga justru telah mengembangkan sifat malas anak itu ; Karena terlalu mem\erhatikan tugas sekolahnya, justru membuat anak itu menjadi tidak sadar diri dan rasa tanggungjawab, tujuan pembelajaran tidak jelas, sehingga menyebabkan ketergantungan pada orang tua.

Melihat begitu banyaknya orang tua yang membaktikan segenap jiwa raganya untuk anak-anaknya, justru melakukannya secara berlawanan, maksudnya. Karena rajin dan malas itu saling mengikat dan saling melengkapi satu sama lain, sehingga orang dewasa menjadi rajin, sedangkan anak-anak menjadi malas ; sebaliknya jika orang dewasa menjadi malas, anak-anak menjadi rajin.

1. Malas antar-jemput : Jalan sendiri ke sekolah

Meskipun banyak anak-anak yang di antar-jemput ke sekolah oleh orang tua mereka, dan meskipun beberapa kali diantar oleh ayah/ibunya ketika pertama kali masuk sekolah, tapi saya tidak pernah antar-jemput, karena perjalanan hanya 1 km dari rumah ke sekolah, hanya menyeberangi satu jalan raya, mobil yang lalu lalang juga tidak banyak. Setelah menjelaskan pengetahuan tenatang keselamatan, saya menyuruhnya berjalan sendiri ke sekolah.

Suatu hari ia tidur larut malam, hingga keesokannya terlambat bangun, kemudian meminta saya mengantarnya ke sekolah, tapi sengaja saya bilang : “Saya (ayah) sendiri saja sudah terlambat berangkat kerja, jadi tidak bisa mengantarmu.” Dia marah sambil menghentak dan berlari ke sekolah, akibatnya dia dihukum menyapu karena terlambat. Saya tahu dia paling takut dihukum gurunya. Karena itu, hanya dengan satu kali keterlambatannya ini, ia baru bisa memetik hikmahnya, mengubah kebiasaan tidur larut malamnya.

Benar saja, belakangan ia selalu tidur sekitar jam 20:30, tidur tepat waktu, dan pasti bangun pagi keesokannya. Jika saja ketika itu mengantarnya ke sekolah, besar kemungkinan sulit untuk mengembangkan kebiasaan istirahat yang baik.

Hasil :

Biarkan anak-anak berjalan sendiri ke sekolah, selain bisa menempa fisik juga dapat menumbuhkan kebiasaan baik untuk tidak bergantung pada orang lain.

2. Malas menemaninya belajar : Selesaikan secara mandiri tugas sekolah sendiri

Saya hanya mengingatkan anak kapan saat mengerjakan tugas sekolah, dan beritahu setelah selesai. Melihat tugas sekolah yang harus diperiksa, dan saya selalu menyuruhnya untuk memeriksanya sendiri tugas sekolahnya, saya hanya menandatangani. Dengan nada tidak senang ia berkata : “Ibu anak-anak orang lain bisa bantu memeriksa, mengapa ibu begitu malas?” Saya jelaskan alasannya : “Bukannya ibu malas, coba kamu pikir, kalau ibu bantu memeriksa, apa kamu akan memeriksanya lagi ?”

Dan katakan kepadanya bahwa belajar itu adalah masalahnya sendiri, saya selalu menyuruhnya menguras otak (berpikir) kalau menemui pertanyaan yang susah dan tak bisa dipecahkan. Jika memang benar-benar tidak bisa, beritahu padanya ke mana mencari informasi yang diperlukan.

Jika tidak tahu akan arti dari suatu kata, dan supaya cepat, dia selalu tanya pada saya, tapi saya selalu menyuruhnya cari sendiri jawabannya di buku kamus, demi menyelesaikan tugas sekolahnya, mau tak mau ia harus memeriksanya sendiri . Setelah itu, saya merenung sejenak alasannya tidak suka mencari tahu di kamus, dan ternyata dia kurang paham cara memeriksanya dari kamus, acapkali menghabiskan waktu yang lama hanya untuk memeriksa satu huruf di kamus, apalagi kalau banyak kata-kata baru, jangankan anak-anak, orang dewasa juga bisa merasa bosan.

Kemudian saya mendapatkan satu ide, bermain lomba dengannya mencari tahu arti kata-kata baru dalam kamus, siapa yang paling cepat, sengaja saya mengalah, supaya bisa memicu minatnya. Setelah bermain beberapa kali, kecepatannya dalam memeriksa kamus pun meningkat tajam, tidak lagi menganggap sebagai hal yang membosankan. Dan sekarang, malah secara inisiatif ia membantu temannya mencari tahu arti kata-kata baru itu melalui kamus buku pintar.

Hasil :

Dalam membimbing pembelajaran anak, jangan terlalu rajin/sering membimbingnya, harus belajar bisa mengetahui apa saja yang bisa dikerjakan, yang dapat membantunya berpikir secara mandiri dan bisa tanpa campur tangan atau bantuan orang tua. Apa saja yang tidak mampu dikerjakan dengan kemampuannya sendiri dan membutuhkan bantuan.

3. Malas cerewet : Bertindak lebih aktif tapi sedikit bicara, mengembangkan kesadaran diri

Ada orang tua yang mendorong anak-anaknya untuk belajar, cerewet tiada henti sepanjang hari seperti burung gereja, tapi tanpa disadari, anak-anak justru akan menganggapnya sebagai angin lalu karena berulang kali mendengar kata-kata yang sama.

Pada suatu ketika di akhir pekan, anak itu sudah lama bermain video game, saya pun bertanya kepadanya : “Mau main sampai jam berapa ?” Anak melihat jam sejenak : “10 menit lagi.” Saya : “Baik, tepati janji ya.” Tak lama kemudian 10 menit pun berlalu, saya kembali dan melihatnya masih sibuk bermain, lalu sambil menahan amarah saya berkata dengan tenang : “Bukankah biasanya kamu selalu bilang janji itu harus ditepati ?” Mendengar itu, dia agak salah tingkah, malu, dan tampak menyesal sambil tersenyum, kemudian mematikan komputernya. Sebelumnya, karena saya pernah menjelaskan kepadanya tentang prinsip sebagai manusia itu harus menepati janji yang diucapkan, sehingga kali ini ia baru bisa menerimanya dengan tenang tanpa tekanan.

Ketika ia bermain game lagi di lain waktu, saya memintanya menentukan waktunya sendiri, tapi harus segera matikan komputer begitu tiba waktunya. Awalnya, dia masih perlu saya awasi, selanjutnya ketika saya awasi secara diam-diam, saya lihat sepertinya ia sudah bisa sadar diri, seketika berhenti main game begitu waktu yang ditentukan tiba. Banyak yang bilang bermain game itu tidak baik, tapi selama bisa memanfaatkannya secara positif, dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif.

Seiring berjalannya waktu, Anak-anak pun bisa mengontrol dirinya sendiri, menahan keinginan, mengembangkan kekuatan mengontrol dan mengekang diri dan sebagainya, ini merupakan kualitas pembelajaran yang pokok.

4. Malas mengerjakan pekerjaan anak: Tidak memonopoli semua pekerjaannya, kembangkan kemandirian anak

Segala sesuatu yang bisa dikerjakan Anak-anak sebaiknya jangan dibantu. Misalnya ketika kamarnya berantakan, saya selalu mengingatkannya untuk merapikannya sendiri, sementara saya menikmatinya sambil tersenyum melihatnya merapikan kamarnya. Biasanya saat studi alam anak-anak seringkali pulang ke rumah untuk menyiapkan berbagai bahan yang diperlukan, dan saya selalu menyuruhnya menyiapkannya sendiri, saya hanya memberinya uang untuk membeli bahan yang diperlukan, untuk melatih kemampuannya dalam berhubungan dengan orang lain ; Sementara itu, untuk mengumpulkan spesimen, saya membawanya ke luar kota, dan membiarkannya kerja sendiri.

Hasil :

Jika selalu membantu anak-anak mengerjakan segala sesuatu yang bisa dilakukannya, akan mengembangkan sifat ketergantungan dan menjadi pasif, sehingga tidak bisa mengembangkan rasa tanggung jawabnya, karena itu sebaiknya biarkan ia yang mengerjakannya sendiri.

Karena berbagai “kemalasan” saya, akhirnya mendorong pembelajaran dan kebiasaan hidup yang baik kepadanya. Dari sisi pembelajaran, bisa menyingkirkan penyakit (kebiasaan) yang tidak baik, saat menemui kesulitan, ia bisa memikirkan dan merenungkannya secara mandiri, dan secara aktif mencari solusinya ; dari sisi kehidupan sehari-hari, memiliki kemandirian yang kuat, sehingga segala sesuatunya bisa diatasi sendiri.

Jadi jelaslah, saat memang tidak perlu dibantu, sebagai orang tua yang bijak, sebaiknya biarkan saja, sebaliknya harus tegas saat memang perlu ketegasan, dan saatnya untuk malas sebaiknya jangan dibantu, simpan saja kegelisahan dan kekhawatiran itu secara diam-diam di dalam hati. Lepaskan sayap perlindungan, biarkan ia terbang sendiri (biarkan segala sesuatnya dikerjakan sendiri oleh anak-anak), hanya dengan cara demikian, burung layang-layang yang masih kecil baru bisa menumbuhkan sepasang sayap yang kuat, dan membentuk kebiasaan belajar yang baik serta keterampilan hidup secara mandiri. (Secretchina / Zhi Wei /Jhn)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular