Presiden AS terpilih Donald Trump dalam kampanyenya telah berulang kali menekankan bahwa setelah menjabat sebagai presiden, ia akan mengupayakan agar ponsel Apple tidak lagi diproduksi di Tiongkok tetapi di dalam negeri AS.

Apakah dengan demikian harga iPhone akan menjadi lebih mahal?

Media ‘Deutsche Welle’ berbahasa Mandarin memberitakan bahwa di Cupertino, California yang dijadikan sebagai markas besar perusahaan Apple, sekarang ini mempekerjakan sebagian besar dari 116.000 orang karyawan yang melakukan penelitian dan pengembangan terhadap sejumlah produk baru Apple seperti iPhone, iPad dan lainnya.

Namun, iPhone tidak diproduksi di AS tetapi di Tiongkok. Proses produksi di Tiongkok itu dilakukan oleh 2 perusahaan Taiwan yakni Foxconn Technology Group dan Pegatron Corporation yang secara gabungan mampu menghasilkan jumlah ponsel sekitar 200 juta unit setiap tahunnya.

Dalam wawancara dengan media ‘New York Times’ baru-baru ini, Trump mengungkapkan bahwa ia secara eksplisit telah menyampaikan pesan kepada CEO Apple, Tim Cook agar mulai mengalihkan produksi Apple dari Tiongkok ke AS. Untuk itu, ia berjanji akan memberikan manfaat berupa keringanan pajak dan beberapa deregulasi. Trump percaya bahwa Apple akan melakukannya.

Menurut media ‘Nikkei Asian Review’, perusahaan Apple sebelumnya telah memberikan wewenang kepada perusahaan Foxconn dan Pegatron untuk melakukan penilaian terkait biaya pengalihan produksi dari Tiongkok ke AS. Laporan mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan, “Foxconn sudah melakukan tetapi Pegatron menolaknya”.

Hasil penilaian Foxconn menunjukkan bahwa bila produksi iPhone dilakukan di AS, maka biayanya bisa mencapai 2 kali lipat di Tiongkok.

Saat ini, iPhone 7 dengan 32G memori dijual di pasar AS seharga USD 649. Penyedia layanan informasi IHS Markit menilai bahwa murni biaya produksi hasil hitungan mereka adalah USD 220, dengan biaya untuk tenaga kerjanya paling-paling sekitar USD 5,-

Ahli informasi industri global dari Universitas Syracuse di New York, Jason Dedrick mengatakan, “biaya produksi akan naik 2 kali lipat” sebagaimana menurut penilaian perusahaan Foxconn yang bertindak juga selaku produsen utama dari iPhone sebaiknya tidak dijadikan sebagai sumber informasi yang diandalkan. Ia mengaku juga memiliki penilaian yang ia lakukan sendiri.

Jason kepada Deutsche Welle mengatakan, “Jika iPhone dirakit di AS dengan seluruh eksesorisnya diimpor dari luar, maka biaya produksinya akan naik sebesar USD 30 sampai 40″.

Itu dikarenakan, di satu pihak adalah biaya tenaga kerja di AS yang memang tinggi, di lain pihak karena biaya transportasi di AS yang lebih mahal.

“Jika semua eksesoris itu diproduksi di AS termasuk perakitan iPhone juga dilakukan di AS, maka biaya produksinya bisa naik setidaknya mencapai USD 80 – 90,” kata Jason Dedrick.

Perusahaan Apple bisa saja membebankan kenaikan itu kepada konsumen atau memperhitungkannya dengan laba rugi tahunan yang tentunya akan menyusut.

Namun Jason percaya bahwa Apple tampaknya tidak akan mengalihkan seluruh lini produksinya kembali ke AS.

“Membangun infrastruktur untuk industri yang memiliki target produksi sampai puluhan juta unit setahun bukanlah hal yang mudah dan mampu direalisasikan dalam waktu pendek,” tegasnya.

Akibat iPhone yang selama ini diproduksi di Tiongkok, maka mata rantai layanan yang komprehensif telah terbentuk dan tidak mudah untuk digantikan. Selain produsen industri ponsel sudah berkumpul, sebagian besar pemasok, perusahaan industri yang menambang  mineral tanah jarang juga sudah menetap di sana. Sedangkan Tiongkok memiliki tambang tanah jarang yang cukup besar dan tanpa mineral itu maka ponsel tidak bisa diproduksi.

“Selain itu, perusahaan seperti Foxconn tidak hanya memiliki fasilitas produksi mereka sendiri, tetapi mereka juga menguasai keterampilan dan pengalaman, sehingga mampu memproduksi dari nol sampai jutaan unit ponsel dalam waktu yang relatif pendek. Padahal waktu dijadikan salah satu faktor penting oleh perusahaan Apple dalam bersaing di pasar,” kata Jason.

Basis produksi seperti yang di Tiongkok itu baru terbentuk setelah sekian puluh tahun berlalu dengan melibatkan ribuan pengusaha yang memasokkan modal mereka. Jason tidak berani memperkirakan berapa lama kondisi yang sama itu baru bisa dibentuk di AS.

Apakah dengan mengalihkan ke AS bagian dari perakitan ponsel saja akan berdampak besar terhadap lapangan kerja di AS, itu masih sulit untuk diramalkan.

“Jalur produksi sudah makin mengarah ke otomatisasi,” ujar Jason.

Meskipun upah tenaga kerja di Tiongkok sudah dinaikkan, tetapi masih relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat upah di negara berkembang lainnya. Apalagi produsen juga mulai mempertimbangkan untuk menggunakan robot sebagai pengganti tenaga manusia.

Jason Dedrick percaya bahwa dengan dipindahkannya produksi iPhone dari Tiongkok ke AS justru akan menguntungkan para pesaing perusahaan Apple karena mereka akan memenangkan keuntungan berupa biaya produksi di Tiongkok yang lebih murah.  (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular