Tingkat obesitas meningkat di seluruh dunia dan secara dramatis terjadi pada orang muda. Orang muda adalah konsumen terbesar dari makanan siap saji yang banyak mengandung gula dan lemak dan minuman yang manis, yang semuanya ini menghasilkan energi yang tinggi.

Metabolisme yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat selama masa pubertas bersifat mencegah terjadinya obesitas. Namun, mudahnya mendapatkan makanan siap saji yang murah dan gaya hidup mendukung ledakan pertumbuhan.

Makanan yang mengandung gula dan lemak jenuh yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap berat badan dan masalah kesehatan yang terkait, tetapi juga berdampak sangat buruk terhadap fungsi otak.

Makan makanan siap saji secara berlebihan menyebabkan kerusakan otak yang penting untuk proses pembelajaran dan memori. Sel saraf di daerah otak, termasuk hippokampus, yang mengkodekan memori, tidak lagi bekerja secara efisien, yang mengakibatkan proses pembelajaran yang lebih buruk.

Hal ini sangatlah memprihatinkan karena masa remaja adalah masa proses pembelajaran mengenai dunia yang sangat penting. Masa remaja juga merupakan masa kemerdekaan yang baru saja dialami oleh seseorang, termasuk memilih makanan.

Penelitian terbaru pada tikus menunjukkan otak tikus remaja berada pada peningkatan risiko mengalami kelainan fungsi kognitif yang dipicu oleh makanan. Tikus remaja, namun bukan tikus dewasa, mengalami masalah memori setelah makan makanan yang mengandung lemak yang tinggi.

Tikus remaja yang minum minuman manis kurang mampu mengingat lokasi tertentu yang mengarah ke pintu keluar darurat, bila dibandingkan dengan tikus dewasa yang minum minuman manis, dan tikus remaja yang diberi diet rendah gula.

Otak tikus remaja yang makan makanan yang mengandung gula juga menunjukkan peningkatan terjadinya peradangan di hippokampus, sehingga mengganggu fungsi pembelajaran dan memori. Peradangan di otak menyebabkan  penurunan kognitif dan demensia.

Efek negatif dari obesitas pada otak juga telah diamati pada orang muda. Remaja obesitas lebih buruk di dalam bidang matematika, ejaan dan fleksibilitas mental dibandingkan dengan remaja dengan berat badan yang ideal. Pencitraan struktur  otak mengungkapkan bahwa remaja obesitas memiliki hippokampus yang lebih kecil, yang membuktikan bahwa lemak tubuh yang berlebihan memberi dampak terhadap pusat pembelajaran di otak.

Otak remaja mengalami perubahan perkembangan besar dalam hal struktur dan fungsi. Masa remaja adalah masa peningkatan kemampuam otak dan sistem saraf untuk berubah secara struktural dan fungsional sebagai akibat rangsangan dari lingkungan (neuroplastisitas) yang berkaitan dengan perubahan hubungan di dalam daerah otak yang dramatis.

Penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa korteks prefrontalis tidak sepenuhnya matang sampai awal usia 20 tahun. Peran utama korteks prefrontalis adalah mengendalikan perilaku, perhatian, dan membuat keputusan.

Pengaturan korteks prefrontalis yang buruk selama masa remaja dapat menjelaskan terjadinya peningkatan risiko berperilaku pada remaja, termasuk mengemudi dengan cara yang berbahaya, penggunaan narkoba, dan pesta minuman keras.

Upaya pendidikan untuk menyediakan informasi perilaku yang tidak aman pada remaja cenderung dianggap sebagai angin lalu. Korteks prefrontalis membantu kita untuk menolak berperilaku yang dipicu oleh peristiwa di lingkungan. Menolak berperilaku sulit dilakukan terutama oleh remaja bila menghadapi situasi mendapat  ganjaran langsung.

Perilaku berisiko yang dilakukan oleh remaja sering diakibatkan dalam mengejar manfaat yang didapat dengan segera. Sistem penghargaan di dalam otak melepaskan neurotransmitter dopamin jika dirangsang oleh peristiwa menyenangkan, meningkatkan dorongan untuk melaksanakan kegiatan ini.

Khususnya remaja sangat tertarik pada penghargaan, termasuk makan makanan lezat yang mengandung kadar lemak dan gula yang tinggi. Remaja peka terhadap rangsangan sistem penghargaan dan dapat diubah secara permanen oleh perangsangan yang berlebihan selama masa remaja.

Dikombinasikan dengan kurangnya kemampuan untuk menahan perilaku mendapat penghargaan, tidaklah mengherankan bahwa remaja lebih suka makan makanan yang mudah diperoleh dan segera memuaskannya, walaupun bertentangan dengan saran kesehatan.

Perubahan di dalam otak yang disebabkan oleh makan makanan manis secara berlebihan selama masa remaja dapat terwujud di kemudian hari sebagai akibat sulit mendapat penghargaan. Penelitian menunjukkan bahwa tikus jantan yang minum air gula selama masa remaja menunjukkan motivasi menurun dan menikmati penghargaan ketika menjadi tikus dewasa.

Perilaku ini adalah gambaran inti dari gangguan suasana hati seperti depresi. Yang penting, hal ini menunjukkan bahwa pola makan selama masa remaja dapat berdampak pada fungsi otak pada saat dewasa, yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk mengubah selera makan dan pembelajaran tentang penghargaan.

Makan makanan siap saji secara berlebihan selama masa remaja dapat menggagalkan proses pematangan otak yang normal. Hal ini dapat mengubah lintasan tumbuh kembang yang normal, yang cenderung menyebabkan perilaku yang menyebabkan penderitaan, dalam hal ini kebiasaan makan makanan yang mengandung lemak dan gula, yang mengakibatkan obesitas.

Untungnya, peningkatan perubahan struktural dan fungsional otak remaja mempunyai arti bahwa orang muda lebih responsif terhadap perubahan. Peluang untuk mengenali dan membantu remaja yang berisiko tinggi dapat mencegah terjadinya perilaku negatif yang berasal dari masa remaja. Hal ini dapat mendorong kebiasaan yang sehat seumur hidup.(Epochtimes/ Amy Reichelt/Vivi)

Amy Reichelt adalah dosen di Universitas RMIT, Australia.

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular