Presiden terpilih AS Donald Trump pada Senin lalu (21/11/2016) mengatakan, di hari pertama masa jabatannya yang pertama dilakukannya adalah mengumumkan mundurnya Amerika Serikat dari Perjanjian TPP.

Menurut analis, dengan AS melepaskan Trans-Pacific Partnership (TPP), akan menguntungkan bagi Xi Jinping dengan memberikan lingkungan internasional yang stabil pada reformasi dan aksi pemberantasan korupsi yang dilakukannya.

Dalam video pidato Trump di YouTube Senin lalu, dipaparkan garis besar kebijakan pemerintahannya. Ia mengatakan, bagi Amerika TPP adalah “bencana terpendam”, di hari pertama masuk ke Gedung Putih yang akan dilakukan adalah mengumumkan AS mundur dari TPP, “Dan akan digantikan dengan negosiasi kesepakatan dagang bilateral yang adil, untuk membawa kembali lapangan pekerjaan dan perusahaan kembali ke AS.”

Selama masa kampanye Trump selalu menentang TPP, dan mengkritisi TPP akan mengakibatkan lapangan kerja AS akan mengalir ke luar negeri.

Pemerintahan Obama Bentuk TPP Untuk Hadapi Beijing

TPP diprakarsai oleh pemerintahan Obama, sebagai kesepakatan perdagangan bebas pertama yang meliputi zona trans-pasifik, menghubungkan Benua Asia, Oceania dan Benua Amerika. Setelah melalui perundingan berliku-liku selama 10 tahun, bersama dengan 11 negara Lingkar Pasifik lainnya, pada Oktober tahun lalu telah tercapai kesepakatan TPP dengan AS dan Februari tahun ini TPP secara resmi telah ditanda tangani.

Inti dari TPP termasuk secara bertahap menghapus bea masuk dan kuota impor berbagai produk dan layanan, menghapus pembatasan ijin masuk sektor pelayanan, memperkuat koordinasi di bidang tenaga kerja, pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan kekayaan intelektual, memastikan kelancaran data secara bebas lintas wilayah dan lain-lain, yang bertujuan mewujudkan liberalisasi perdagangan dan investasi di zona Asia-Pasifik.

Dewan Kongres AS sendiri bahkan belum mengesahkan TPP. Dan jika tidak ada Amerika, maka TPP tidak akan berfungsi, karena peraturan TPP menetapkan keharusan seluruh dari 12 negara anggotanya harus mengesahkan, atau jika sedikitnya PDB dari 6 negara anggota mencapai setidaknya 85% dari total PDB 12 negara anggota, maka pengesahan dari 6 negara anggota ini juga bisa berfungsi.

Sedangkan AS saja sudah mencapai 60% dari total PDB 12 negara anggota, jadi tanpa Amerika, negara anggota lain tidak bisa mencapai batasan 85% tersebut.

RRT tidak masuk dalam TPP adalah salah satu hal krusial dari Obama sebagai strategi “Rebalancing Asia-Pasifik”, dan dianggap bertujuan untuk memperkuat hubungan AS dengan para sekutunya di wilayah Asia Pasifik, serta memperbesar pengaruh AS di wilayah tersebut untuk menandingi RRT.

Obama pernah menjelaskan, dikarenakan 95% klien perusahaan AS berada di luar negeri, maka peraturan perdagangan internasional tidak bisa ditentukan oleh Beijing, melainkan harus ditentukan oleh AS sendiri.

Menurut analis, AS di bawah Trump akan melepaskan TPP, hal ini akan memberikan lingkungan internasional yang stabil bagi Xi Jinping untuk melanjutkan reformasi dan aksi pemberantasan korupsi yang dilakukannya. (Timothy A. Clary/AFP)
Menurut analis, AS di bawah Trump akan melepaskan TPP, hal ini akan memberikan lingkungan internasional yang stabil bagi Xi Jinping untuk melanjutkan reformasi dan aksi pemberantasan korupsi yang dilakukannya. (Timothy A. Clary/AFP)

Hadang TPP, Beijing Ambil Serangkaian Tindakan

Pemerintahan Beijing belum pernah menyatakan keinginannya bergabung dengan TPP, dan sudah mengambil pemetaan terkait dan tindakan antisipasi, seperti membentuk Zona Perdagangan Bebas Shanghai, memprakarsai kebijakan “One Belt, One Road (Sabuk Perekonomian Jalur Sutra dan Jalur Sutra Maritim abad ke 21)”, serta melakukan perundingan dua pihak dengan negara-negara yang menandatangani TPP, membentuk Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) dan lain sebagainya.

AIIB yang dimotori oleh RRT telah dibentuk akhir tahun lalu, dan dipandang secara langsung menantang sistem finansial yang dibentuk oleh AS. Pemerintah Obama selama ini terus bersikap menolak serta mencegah negara Barat lain untuk bergabung, tapi negara sekutu Amerika sendiri seperti Inggris dan Jerman telah bergabung. Direktur AIIB Jin Liqun beberapa hari lalu juga menyatakan, tak tertutup kemungkinan setelah Trump menjabat, AS pun akan ikut bergabung dengan AIIB.

Pada KTT APEC yang baru saja berlalu, Xi Jinping juga memanfaatkan kesempatan tersebut mendorong “Kerjasama Ekonomi Komprehensif Regional” atau RCEP yang akan menandingi TPP, serta FTAAP atau Zona Perdagangan Bebas Asia Pasifik. Analisa berpendapat, tindakan ini adalah perlawanan terhadap kebijakan AS yang mengucilkan Beijing di bidang ekonomi.

TPP memiliki 12 negara anggota, diperkirakan mencakup 60% perekonomian seluruh dunia, sedangkan RCEP memiliki 16 negara anggota, diperkirakan mencakup 60% perekonomian dunia dan 40% dari populasi seluruh dunia. RCEP juga mengucilkan AS.

Mundurnya AS dari TPP Untungkan Pemerintahan Xi Jinping

Jaringan BBC bahasa Mandarin pada 22 November lalu menerbitkan artikel mengatakan, diprakarsainya RCEP, FTAAP, AIIB dan kebijakan “One Belt, One Road”, Beijing sedang mengembangkan pengaruh dalam hal investasi, perdagangan dan strategi. Trump mengatakan AS akan segera mundur dari TPP begitu dirinya menjabat, ini akan menjadi berita super baik bagi Beijing, dan diyakini pemerintah Beijing akan senang mendengarnya.

Surat kabar “Ming Pao” Hongkong di hari yang sama juga menerbitkan opini yang mengatakan, mundurya Trump dari TPP akan mendatangkan peluang yang bersejarah bagi RRT untuk mendorong terbentuknya FTAAP. Akan tetapi, jika beranggapan Trump akan menyerahkan posisi kepemimpinan AS di Asia begitu saja kepada RRT, sepertinya agak terlalu berlebihan. Untuk mempertahankan posisi dominasi Amerika, Trump pasti merencanakan sesuatu.

Pada 2010 pemerintahan Obama mengusung strategi “menyeimbangkan kembali Asia-Pasifik”, sebagai upaya mempertahankan posisi dominasi Amerika di Asia untuk menandingi Beijing. Strategi ini memiliki dua pilar.

Pertama memperkuat kerjasama militer dengan negara Asia Pasifik yang terlibat konflik dengan RRT soal sengketa wilayah terutama Jepang, Vietnam, Filipina dan lain-lain.

Kedua memperkuat kerjasama ekonomi dengan menandatangani kesepakatan TPP. Menteri Pertahanan AS Carter pernah mengibaratkan nilai TPP sebanding dengan satu unit kapal induk, bisa dilihat betapa kesepakatan tersebut sangat penting bagi strategi geopolitik AS.

Komentator dari New York bernama Yang Wanlin mengatakan pada surat kabar Dajiyuan (Epoch Times dalam bahasa Tionghoa), dengan Trump melepaskan TPP akan memberikan ruang gerak lebih besar bagi Xi Jinping di pentas dunia, memberikan lingkungan internasional yang lebih stabil terhadap aksi pemberantasan korupsi dan reformasi yang sedang dilancarkan di dalam negeri Tiongkok.

Tapi hal ini tidak bisa divonis terlalu dini. Karena Trump menyakini “kepentingan AS adalah prioritas”, Trump akan memperhatikan urusan internal lebih dulu dan tidak akan berebut pamor di pentas dunia. Namun setelah itu, kebijakan Trump terhadap Beijing tetap harus diperhatikan. Tapi Xi Jinping bisa memanfaatkan kurun waktu ini untuk mempercepat pemberantasan korupsi di dalam negeri dan masalah Hongkong, serta menumpas kubu Jiang sampai ke akarnya. (shi xuan/sud/whs/rmat)

Share

Video Popular