Sebuah bom rakitan ditemukan dalam tempat sampah yang berada tak jauh dari Gedung Kedutaan AS untuk Filipina, Senin (28/11/2016) pagi.

Bom itu mirip dengan bom yang diledakan oleh teroris di kota Davao pada September lalu. Para pejinak bom Manila didatangkan ke lokasi dan berhasil meledakkannya pada pukul 08:10. Polisi menduga bahwa bom tersebut dirakit oleh anggota teroris simpatisan Islamic State/IS.

Central News Agency melaporkan, ratusan warga Filipina setiap hari berbaris di depan gedung Kedutaan AS untuk mengurus visa dan ijin lainnya. Andai saja bom tersebut meledak pada jam kantor, maka akibatnya akan sulit untuk dibayangkan.

Dari layar monitor kamera sirkuit kepolisian terlihat sebuah taksi berhenti di sekitar gedung Kedutaan AS, lalu seorang penumpangnya turun dan berjalan menuju tong sampah untuk membuang bungkusannya yang diduga adalah bahan peledak ke dalam tong yang berjarak sekitar 150 meter dari pintu gerbang Kedutaan.

Sekitar pukul 07:30, seorang staf kebersihan menghampiri tong tersebut guna membersihkannya, tetapi terkejut karena menemukan bungkusan mencurigakan dengan kabel yang tersambung ke sebuah ponsel. Ia kemudian melaporkan penemuan itu kepada polisi untuk ditangani.

Sebuah bungkusan berisi bahan peledak ditemukan dalam tong sampah yang terletak tak jauh dari pintu gerbang Kedutaan AS di Manila. berhasil diledakkan petugas penjinak bom tak lama setelah mereka datang. (Ted Aljibe/AFP/Getty Images)
Sebuah bungkusan berisi bahan peledak ditemukan dalam tong sampah yang terletak tak jauh dari pintu gerbang Kedutaan AS di Manila. berhasil diledakkan petugas penjinak bom tak lama setelah mereka datang. (Ted Aljibe/AFP/Getty Images)

Bungkusan itu diledakkan pada pukul 08:10 oleh anggota penjinak bom yang didatangkan. Kepala Polisi Filipina Ronald dela Rosa dalam dalam konferensi pers siang hari menyatakan bahwa dalam bungkusan itu terdapat sejumlah bahan peledak, sebuah detonator, baterai 9 volt dan ponsel.

“Bom yang diledakkan pagi ini mirip dengan bom yang dirakit oleh para anggota teroris dan diledakkan di kota Davao pada bulan September lalu. Masuk akal kalau pelaku itu diduga adalah orang-orang terkait kelompok Maute,” kata Ronald dela Rosa.

Ledakan bom yang terjadi di kota Davao pada 2 September lalu telah menyebabkan 15 orang warga meninggal dan 70 orang lainnya luka. Polisi setempat kemudian menangkap hampir 10 orang tersangka yang semuanya adalah anggota kelompok Maute.

Sebuah bungkusan berisi bahan peledak ditemukan dalam tong sampah yang terletak tak jauh dari pintu gerbang Kedutaan AS di Manila. berhasil diledakkan petugas penjinak bom tak lama setelah mereka datang. (Ted Aljibe/AFP/Getty Images)
Sebuah bungkusan berisi bahan peledak ditemukan dalam tong sampah yang terletak tak jauh dari pintu gerbang Kedutaan AS di Manila. berhasil diledakkan petugas penjinak bom tak lama setelah mereka datang. (Ted Aljibe/AFP/Getty Images)

Militer Filipina saat ini sedang melakukan penggerebekan untuk menangkap anggota Maute lainnya yang masih bersembunyi di kota Butig, propinsi Lanao Del Sur. Ronald mengatakan bahwa para teroris tersebut sedang mencoba untuk membuat kerusuhan di Manila dengan tujuan untuk memecah perhatian pemerintah.

Sekitar 50 orang anggota teroris dari kelompok Maute pada 26 November mengibarkan bendera IS di depan sebuah gedung di kota Butig yang dijadikan sebagai markas mereka, dan melakukan pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah yang datang mengejar. Tercatat sampai kemarin, pasukan pemerintah berhasil menewaskan 11 orang anggota kelompok Maute. Pertempuran masih berlangsung sampai sekarang.

Tetapi Ronald juga mengatakan bahwa kepolisian tidak mengesampingkan adanya unsur memusuhi AS yang muncul akhir-akhir ini, bisa saja bom itu diletakkan oleh orang dari Kedutaan AS.

Ia menghimbau kepada masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan, tetapi tidak perlu panik. Karena pihak berwenang telah berusaha untuk meningkatkan keamanan di tempat-tempat umum dan fasililitas penting. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular