Sebagian besar dari kita terus berjuang untuk hidup lebih bahagia. Kadang kita tahu hal tertentu tidak membuat kita bahagia, tetapi untuk beberapa alasan kita menemukan diri kita melakukannya lagi dan lagi.

Berikut 6 hal yang terbukti secara ilmiah membuat Anda tidak bahagia.

Menggunakan facebook dan media sosial

Apakah Anda kecanduan mendapatkan pemberitahuan pada halaman Facebook Anda? Sudah seharusnya Anda beristirahat – untuk kebahagiaan Anda sendiri.

Ketika Ethan Kross, seorang psikolog di Universitas Michigan merilis temuan penelitiannya pada tahun 2013 lalu , ia menegaskan bahwa menggunakan Facebook dapat membuat Anda tidak bahagia.

Tim penelitinya mengirim pesan kepada peserta penelitian lima kali setiap hari, untuk memantau kegunaan dan perasaan mereka terhadap Facebook. Peserta penelitian menemukan bahwa semakin banyak waktu yang mereka habiskan untuk Facebook, mereka merasa semakin tidak bahagia.

Kross juga mengidentifikasi hubungan langsung antara berapa banyak waktu yang dihabiskan seseorang untuk media sosial, dengan perasaan kesepian, ketidakpuasan, dan terisolasi.

Mengkhawatirkan keputusan Anda

Menganalisis keputusan Anda secara berlebihan dapat menjadi bentuk penyiksaan diri yang tidak berkesudahan.

Oleh karena itu, tidak heran mengapa peneliti telah menghubungkan pilihan keputusan dengan peningkatan ketidak bahagiaan dan stres.

Penelitian tahun 2011 di Florida State University mengidentifikasi dua jenis pengambil keputusan. Orang yang satu hidup dengan pilihan yang telah ia ambil, sedangkan orang yang lain selalu  resah dan khawatir akan pilihan yang telah ia ambil.

Orang yang khawatir akan pilihan yang ia ambil sering kurang berkomitmen terhadap pilihannya sehingga selalu merasa kurang puas.

Jika setiap keputusan dianalisis secara berlebihan, seperti memilih tempat makan siang hingga memilih pekerjaan baru, akan berdampak merusak kebahagiaan dalam jangka panjang.

Pikiran yang mengembara

Peneliti Harvard bernama Matthew Killingsworth dan Daniel Gilbert mengatakan bahwa melamun dan menggunakan imajinasi dapat merupakan kegiatan yang menyenangkan, namun pikiran yang mengembara menyebabkan ketidakbahagiaan.

Dengan menganalisis data dari 2.250 relawan, peneliti melihat bahwa hampir 47% waktu dihabiskan dengan pikiran yang mengembara.

Peneliti juga menetapkan bahwa tingkat kebahagiaan lebih tinggi bila pikiran difokuskan, dibandingkan dengan apa yang dilakukan seseorang.

Jika seseorang fokus pada kegiatan/pekerjaan yang sedang dikerjakan, maka ia akan merasa lebih bahagia. Hidup untuk saat ini adalah yang terbaik untuk meraih kebahagiaan.

Kurang kendali di kantor

Menurut penelitian universitas di Denmark, tidak ada hubungan antara beban kerja yang berat dan tingkat depresi yang lebih tinggi di tempat kerja.

Sebaliknya, depresi di tempat kerja akibat dari perasaan tidak dihargai dan diperlakuan secara tidak adil, sehingga faktor-faktor ini lebih cenderung menyebabkan ketidakbahagiaan, demikian kata peneliti di Departemen Clinical Medicine di Universitas Aarhus.

Peneliti mengidentifikasi bahwa perlakuan tidak adil di tempat kerja menyebabkan tingkat stres yang lebih tinggi, dan manajemen dan lingkungan kerja yang buruk merusak kebahagiaan.

Makan junk food

Telah lama diketahui bahwa pola makan yang buruk berkaitan dengan depresi.

Dalam sebuah makalah di jurnal Public Health Nutrition tahun 2012, peneliti meneliti kebiasaan makan dari hampir 9.000 peserta yang telah didiagnosis dengan depresi selama enam bulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta penelitian yang rutin makan makanan cepat saji dan junk food adalah 51% lebih cenderung menderita depresi.

Penelitian lain pada tahun 2013 mengidentifikasi hubungan antara  restoran cepat saji yang berada di lingkungan rumah seseorang dengan seberapa sering ia mengalami hal yang menyenangkan.

Memiliki terlalu banyak uang

Memiliki jumlah uang tertentu dapat membuat Anda lebih bahagia, namun terlampauinya ambang batas pendapatan yang nyaman menyebabkan tingkat kebahagiaan menurun.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang sangat kaya menderita tingkat depresi yang lebih tinggi.

Pada tahun 2010, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan survei terhadap sekitar 90.000 orang dari 18 negara yang berbeda dan menemukan bahwa depresi jauh lebih sering terjadi di negara berpenghasilan tinggi.

Peneliti percaya bahwa perjuangan terus-menerus untuk memiliki lebih banyak uang dan harta benda menciptakan ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan karena tidak pernah merasa cukup.

Sebaliknya, bagi orang yang mencari kebahagiaan, merasa perlu memperoleh uang sekedar untuk mendapatkan kenyamanan dan kemudian fokus pada hubungan sosial.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular