Dua penelitian Universitas California, Los Angeles (UCLA) mengungkapkan bahwa menopause-dan insomnia yang sering menyertainya-menyebabkan wanita menjadi lebih cepat tua.

Temuan ganda, yang masing-masing diterbitkan pada tanggal 25 Juli 2016 lalu, di dalam Proceedings of the National Academy of Sciences and Biological Psychiatry, menunjukkan faktor tersebut dapat meningkatkan risiko menderita penyakit akibat penuaan dan  kematian dini pada wanita.

“Selama beberapa dekade, ilmuwan telah setuju bahwa menopause menyebabkan penuaan atau penuaan menyebabkan menopause. Ini seperti ayam atau telur: yang mana yang muncul pertama kali? Penelitian kami adalah penelitian pertama yang menunjukkan bahwa menopause mempercepat proses penuaan,” kata Steve Horvath, seorang profesor genetika manusia dan biostatistik di David Geffen School of Medicine di UCLA dan UCLA Fielding School of Public Health, dan penulis senior pada kedua penelitian.

“Tidak memulihkan waktu tidur akan memengaruhi fungsi tubuh di hari berikutnya; dan juga memengaruhi tingkat jam biologis tubuh. Peserta wanita yang kami teliti, yang melaporkan gejala seperti susah tidur, bangun berulang kali di malam hari, dan bangun terlalu dini di pagi hari cenderung lebih tua secara biologis dibandingkan peserta wanita dengan usia yang sama tanpa melaporkan gejala tersebut,” kata Judith Carroll, asisten profesor psikiatri di UCLA Semel Institute for Neuroscience and Human Behavior dan Cousins Center for Psychoneuroimmunology, dan penulis pertama penelitian tidur.

Untuk temuan mereka, kedua penelitian menggunakan “jam biologis” yang dikembangkan oleh Horvath, yang telah menjadi metode yang banyak digunakan untuk melacak perubahan epigenetik di dalam genom. Epigenetik adalah penelitian mengenai perubahan kemasan DNA yang memengaruhi gen yang disajikan tetapi tidak mempengaruhi urutan DNA itu sendiri.

Hubungan dengan menopause

Di dalam penelitian menopause, Horvath dan penulis pertama Morgan Levine melacak metilasi, suatu biomarker kimia yang terkait dengan penuaan, untuk menganalisa sampel DNA lebih dari 3.100 wanita yang terdaftar di dalam empat penelitian besar, termasuk program penelitian utama di Women’s Health Initiative (WHI) selama 15 tahun yang mencari penyebab paling sering dari kematian, kecacatan dan kualitas hidup yang buruk pada wanita pasca menopause. Peneliti mengukur usia biologis sel dari darah, air liur dan lapisan di dalam pipi, untuk mengeksplorasi hubungan antara usia kronologis dengan usia biologis tubuh setiap wanita.

“Kami menemukan bahwa menopause mempercepat penuaan sel dengan rata-rata 6 persen. Sepertinya 6 persen itu tidak banyak namun mempercepat penuaan si wanita,” kata Horvath.

Horvath mengatakan bahwa misalnya, seorang wanita memasuki menopause dini pada usia 42 tahun. Delapan tahun kemudian, sel tubuh si wanita secara biologis akan satu tahun lebih tua dibandingkan dengan wanita lain yang berusia 50 tahun yang memasuki masa menopause alami pada usia 50 tahun.

“Umumnya, semakin muda seorang wanita mengalami menopause, maka usia darahnya semakin cepat tua,” jelas Levine, seorang peneliti pascadoktoral di laboratorium Steve Horvath.” Hal ini penting karena darah seseorang mencerminkan apa yang sedang terjadi di bagian lain dari tubuh, yang memiliki implikasi untuk kematian dan risiko menderita penyakit.

Pentingnya tidur

Dalam penelitian tidur, Carroll dan rekannya menarik data lebih dari 2.000 perempuan di Women’s Health Initiative. Menggunakan jam epigenetik, mereka menemukan bahwa wanita pascamenopause dengan lima gejala insomnia hampir dua tahun lebih tua secara biologis dibandingkan dengan wanita berusia kronologis yang sama tanpa gejala insomnia.

“Kami tidak dapat menyimpulkan secara pasti dari penelitian kami bahwa insomnia menyebabkan peningkatan usia epigenetik, tetapi ini adalah temuan yang kuat. Di masa depan, kami perlu melakukan penelitian dari individu yang sama selama jangka waktu tertentu untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara usia biologis dengan gangguan tidur,” kata Carroll.

Kedua penelitian tersebut adalah berita buruk bagi banyak wanita, Horvath menyarankan ilmuwan di masa depan menggunakan jam epigenetik sebagai alat diagnostik untuk mengevaluasi efek terapi, seperti terapi hormon untuk menopause.

“Pertanyaan besar adalah terapi hormon menopause yang mana yang memberi efek anti-penuaan terkuat yang dapat membatasi risiko kesehatan,” kata Horvath.

“Peneliti tidak lagi harus mengikuti pasien selama bertahun-tahun untuk melacak kesehatan dan terjadinya penyakit. Kami  menggunakan jam epigenetik untuk memantau tingkat penuaan sel pasien dan untuk mengevaluasi terapi yang mana yang memperlambat proses penuaan secara biologis,”  jelas Horvath. “Hal ini sangat mengurangi waktu, biaya uji klinis, dan mempercepat manfaat untuk wanita.” (UCLA/Vivi)

Share

Video Popular