Presiden AS terpilih Donald Trump melalui twitter menyebutkan bahwa kecuali otoritas Havana bersedia mengalah dalam masalah HAM dan membuka ekonomi mereka, maka ia akan mengakhiri kesepakatan perdamaian AS – Kuba.

“Jika pemerintah Kuba tidak ingin memperjuangkan kepentingan rakyat Kuba, untuk rakyat  Kuba dan Amerika, serta merealisasikan kesepakatan demi masa depan yang lebih baik buat Kuba dan Amerika secara keseluruhan, maka kesepakatan yang sudah dibuat akan saya akhiri,” demikian Trump menulis dalam akun twitternya.

Para pembantu Trump kemarin mengatakan bahwa Trump berjanji akan membuat kesepakatan yang baru dan lebih baik dengan Kuba, tetapi tidak menjelaskan apakah langkah yang diambilnya itu akan berpengaruh terhadap kesepakatan yang sudah dibuat antara Obama dengan pemimpin Kuba.

Setelah Fidel Castro meninggal pada 25 November, beberapa pejabat kelas berat dari Partai Republik menyebut Fidel adalah seorang pemimpin tirani dan jahat. Tetapi orang-orang di sekitar Trump tak seorang pun yang mengeluarkan ucapan akan mengakhiri kesepakatan politik terbuka yang ditandatangani antara Obama dengan Raul Castro pada 2014.

Para pembantu Trump kemarin menjelaskan, menurut mereka bahwa seperti halnya untuk membebaskan embargo ekonomi 1962 yang diberlakukan oleh AS kepada Kuba, pemerintah Obama sudah mengambil banyak langkah mengalah kepada Havana, tetapi otoritas Havana tidak juga membalasnya dengan memperbaikan isu HAM, demokrasi dan ekonomi pasar yang lebih bebas.

Pembantu Trump bernama Reince Priebus kepada Fox News mengatakan, “Kita harus memastikan ada kesepakatan yang lebih baik”.

“Perlu ada hubungan yang terbuka dan bebas, hal-hal menyangkut penindasan, pasar yang terbuka, kebebasan beragama, tahanan politik itu semua perlu diubah. begitulah pemikiran Donald Trump,” kata Reince.

Reince menambahkan bahwa Trump akan menentukan hubungan AS – Kuba dengan tidak mengijinkan pemerintah Castro untuk melakukan tindakan sepihak. (Central News Agency/Sinatra/rmat)

Share

Video Popular