Seberapa besar alam semesta kita? Mengapa ada alam semesta?

Adapun mengenai alam semesta, ada ilmuwan yang mengatakan, bahwa alam semesta kita bukan satu-satunya, di semesta paralel lainnya, manusia bisa melakukan perjalanan waktu.

Howard Wiseman, fisikawan dari Griffith University, Brisbane, Australia dan Dr. Howard Wiseman mengatakan, bahwa pandangan mengenai semesta paralel itu bukan ilusi, demikian dilansir dari laman “New York Post,” Minggu (27/11/2016).

Jika memang ada lebih dari satu alam semesta dan saling mempengaruhi satu sama lain, maka ada kemungkinan wisatawan perjalanan waktu dapat melihat peristiwa yang terjadi kapan saja saat mengunjungi Bumi,  artinya wisatawan dapat melihat masa lalu dan masa depan kita.

Profesor Fisika di Universitas Griffith, Howard Wiseman mengatakan,  “Ide semesta paralel dalam mekanika kuantum telah ada sejak 1957.”

Profesor Wiseman menjelaskan, bahwa menurut teori “multiverse yang saling mempengaruhi satu sama lain,” ada beberapa semesta tidak mengalami bencana seperti tabrakan asteroid yang memusnahkan dinosaurus.

Pada 11 Februari 2016 lalu, untuk kali pertamanya para ilmuwan mengkonfirmasi keberadaan gelombang gravitasi menggunakan Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO), dan lebih lanjut menjelaskan ruang-waktu bisa berubah. (Video screenshot)
Pada 11 Februari 2016 lalu, untuk kali pertamanya para ilmuwan mengkonfirmasi keberadaan gelombang gravitasi menggunakan Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO), dan lebih lanjut menjelaskan ruang-waktu bisa berubah. (Video screenshot)

Gagasan Many-Worlds Interpretation tak salah, tetapi banyak dikritik. Bagaimana membuktikan semesta lain itu ada jika semesta lain itu tidak memengaruhi semesta kita sama sekali?

Sehubungan dengan itu, Howard Wiseman dan Michael Hall dari Pusat Dinamika Kuantum Universitas Griffith, Australia, serta Dirk-Andre Deckert dari Universitas California mengajukan pandangan yang disebut “Many Interacting World”.

“Dalam pandangan itu, semesta kita hanya satu dari banyak semesta lain. Semesta kita dan lainnya eksis dilahirkan bersamaan, bukan satu merupakan hasil ‘percabangan’ dari yang lain. Bila hanya ada satu dunia, maka teori kami mereduksi mekanika Newton. Sementara bila ada banyak semesta, teori kami mereproduksi mekanika kuantum,” kata Hall.

Lebih dari dua abad silam, fisikawan Inggris Newton mengatakan, bahwa waktu membentuk struktur alam semesta. Waktu juga tetap dan tidak berubah, artinya waktu tidak bisa bertambah cepat (menyusut) atau melambat. Namun, pada 1916, fisikawan Jerman Albert Einstein mencetuskan teori relativitas, dan berpendapat bahwa ruang dan waktu itu sama sekali tidak berkaitan, keduanya dapat berubah. Ruang dan waktu bentuknya tidak tetap, bisa menyusut atau mengembang.

Ilustrasi Quantum entanglement / penggabungan kuantum menunjukkan adanya ruang-waktu. (Youtube video screenshot)
Ilustrasi Quantum entanglement / penggabungan kuantum menunjukkan adanya ruang-waktu. (Youtube video screenshot)

Pada 1959, komunitas ilmiah sepenuhnya menerima teori ruang-waktu Einstein. Pada Februari dan Juni lalu, ilmuwan menggunakan metode pengamatan astronomi dan lebih lanjut mengkonfirmasi bahwa teori ruang-waktu yang dapat berubah yang digagas Einstein itu benar.

“Kita juga bisa membayangkan, pola pikir yang tidak sama dari efek lensa gravitasi dapat menganalisis dan mengeksplorasi fenomena kuantum yang berbeda,” pungkas Dirk-Andre Deckert lebih lanjut.

Sementara itu, profesor Wiseman mengatakan, “Ada yang mempertanyakan pandangan ini, karena alam semesta kita tidak terpengaruh oleh semesta lain.”

Sementara mereka yang skeptis mungkin tidak menyadari, bahwa semesta lain yang tidak sama dengan alam semesta kita mungkin sepenuhnya memiliki hukum-hukum fisika yang tidak sama. Epochtimes/Xia lǜ de/joni/rmat)

 

Share

Video Popular