Oleh Li Ziwen

Selama 2 hari berturut-turut, Presiden terpilih Donald Trump mengadakan pertemuan secara terpisah dengan beberapa orang kandidat Menlu AS.

Sebagai salah seorang kandidat Menlu AS, Dana Rohrabacher yang sekarang masih menjadi anggota DPR AS Perwakilan Distrik Kongres ke 48 di California pada Senin (28/11/2016) menerima wawancara dari media Epoch Times dan NTDTV di kantornya yang terletak di Huntington, Los Angeles, AS.

Dana Tyrone Rohrabacher yang kini berusia 69 tahun pernah ditunjuk sebagai penulis naskah pidato mantan Presiden Ronald Reagan. Ia banyak memberikan kontribusi dalam  pencetusan “Doktrin Reagen”. Sejak 1989 menjadi anggota Kongres Federal, ia telah terpilih kembali sebagai Perwakilan Distrik Kongres ke 48 di California, juga menjabat sebagai Ketua Komite Urusan Luar Negeri Sub Komisi Eropa, Eurasia dan Munculnya Ancaman (United State House Foreign Affairs Subcommittee on Europe,Eurasia and Emerging Threats).

Sejumlah pengalaman yang ia peroleh menjadi poin tambahan bagi pencalonan Dana Rohrabacher sebagai Menlu AS yang baru.

Foto kenangan Dana Rohrabacher bersama Ronald Reagen. (Yang Yang/Epoch Times)
Foto kenangan Dana Rohrabacher bersama Ronald Reagen. (Yang Yang/Epoch Times)
Dana Rohrabacher sedang menerima para pewawancara. (Yang Yang/Epoch Times)
Dana Rohrabacher sedang menerima para pewawancara. (Yang Yang/Epoch Times)

Ia sangat paham dengan sikap dan peran yang dimainkan pemerintah AS di depan masyarakat internasional saat ini.

“AS tidak boleh berdiam diri di depan pemerintahan otoriter yang melakukan penganiayaan dan membantai rakyatnya. Selama ini, AS selalu menjadi teladan dalam membela hak asasi manusia dan kebebasan. Senantiasa membela dan mendukung rakyat tertindas yang sedang mengejar demokrasi,” kata Dana.

Ia menilai bahwa pemerintahan Obama dalam menghadapi masalah ini lebih cenderung untuk menanganinya dengan cara mencari sinergitas dengan negara lain. Padahal AS tidak perlu takut untuk mempertahankan sikap meskipun sendirian dalam menentang kediktatoran.

Tentang HAM di Tiongkok dan upaya menghentikan pengambilan paksa organ tubuh hidup

Dana Rohrabacher dalam menilai hubungan AS – Tiongkok mengatakan, “Pemerintah AS seharusnya mempertahankan sikap yang tidak bisa menyamakan hubungan bilateral dengan negara otoriter yang terus menindas rakyatnya sama seperti negara-negara demokrasi lainnya.”

Tiongkok selama ini dikuasai oleh satu partai yang diktator, yang menentang kebebasan pers, dan tidak menghendaki masukan yang menyuarakan kritikan.

“Ini berarti bahwa Tiongkok memiliki kekuatan totaliter yang sangat despotik. sedangkan tujuan kita (AS) adalah untuk melemahkan kediktatoran itu, biar rakyat Tiongkok tahu bahwa kita berdampingan dengan mereka,” kata Dana.

Berkaitan dengan isu HAM, jika nanti dipercaya sebagai Menlu, ia mengatakan, “Hal yang pasti akan saya lakukan adalah segera bertindak dengan segala cara untuk mencegah berlangsungnya pengambilan paksa organ tubuh hidup dari tahanan yang dieksekusi mati atau tahanan nurani serta transaksi jual-belinya.”

Ia juga menyebutkan bahwa sumber transplantasi organ seharusnya berupa sumbangan sukarela, bukan pengambilan paksa atau pencurian. Tetapi di Tiongkok, tidak ada penegak hukum yang mengawasi, juga tidak ada pejabat maupun instansi berwenang yang dapat membuktikan bahwa organ yang dibutuhkan untuk transplantasi oleh dokter di AS adalah berasal dari sumber yang legal. tidak diambil paksa dari tubuh hidup praktisi Falun Gong di Daratan Tiongkok.

“Setiap kali pergi ke Tiongkok, saya selalu ingin bertemu dengan para tahanan politik, praktisi Falun Gong atau tahanan lainnya yang mengalami penganiayaan, tidak hanya untuk bertemu dengan para elit Tiongkok dan demi menggaet uang dari mereka. Kalau mereka (rezim PKT) menolak permintaan saya, saya akan menolak untuk pergi ke Tiongkok,” tegasnya.

Ia menilai, orang Amerika semakin kehilangan kepercayaan, yang membuat mereka tampaknya tidak peduli lagi tentang penganiayaan terhadap keyakinan yang sedang terjadi di Tiongkok. Tetapi Dana mengatakan bahwa apakah dirinya bertindak selaku anggota Kongres,  mungkin saja Menlu AS atau orang biasa, ia tetap akan menyuarakan dukungan demi kepentingan kebebasan beragama. (Sinatra/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular