Sugar pills  bekerja mencegah migrain pada anak sebaik obat untuk meredakan nyeri kepala, tetapi memiliki efek samping yang lebih sedikit, di dalam sebuah penelitian yang menyebabkan dokter berpikir ulang bagaimana mereka memberi terapi migrain yang sering terjadi pada anak dan remaja.

Uji pertama memberi dua resep obat generik untuk anak yang juga digunakan untuk mengobati migrain pada orang dewasa: topiramat, yaitu obat anti-kejang, dan amitriptilin, yaitu obat anti-depresan. Idenya adalah untuk melihat apakah obat tersebut dapat  mengurangi setengah jumlah hari anak penderita migrain selama satu bulan. Kedua obat tersebut bekerja dengan baik — namun sugar pills  plasebo juga bekerja dengan baik.

Hasilnya “benar-benar menantang ahli nyeri kepala untuk melakukan praktek memberikan sugar pills  saat ini,” kata penulis penelitian Scott Powers, seorang psikolog di pusat nyeri kepala Rumah Sakit Anak Cincinnati, AS.

Penelitian ini dirilis secara online pad 27 Oktober 2016 lalu di New England Journal of Medicine. National Institute of Neurological Disorders dan Stroke and National Institute of Child Health and Human Development membiayai penelitian ini.

“Fakta bahwa terbukti dua obat yang paling sering digunakan adalah tidak lebih efektif daripada plasebo dan memiliki efek samping merupakan  pernyataan yang sangat jelas,” kata Dr. Leon Epstein, kepala neurologi di Rumah Sakit Anak Ann & Robert Lurie H. di Chicago. Epstein mengatakan fakta tersebut harus mengarahkan ahli saraf bergantung pada strategi pencegahan lainnya; dia menyarankan perubahan gaya hidup termasuk  lebih banyak tidur dan mengurangi stres, yang katakannya dapat membantu mencegah migrain pada pasien remaja.

Di Amerika Serikat, hingga 10 persen anak usia sekolah menderita migrain; nyeri kepala yang sering menetap hingga masa remaja dan dewasa. Obat anti-peradangan yang dijual bebas termasuk ibuprofen dan asetaminofen dapat mengurangi gejala. Satu-satunya obat migrain yang disetujui pemerintah untuk dikonsumsi anak-anak adalah topiramat, yang dikenal dengan nama dagang Topamax dan Qudexy, tetapi hanya disetujui untuk anak yang berusia 12 tahun ke atas.

Kedua obat yang diteliti tersebut adalah obat yang murah dan digunakan pada anak dan remaja karena terbukti bermanfaat pada  orang dewasa, tetapi tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa kedua obat tersebut efektif pada anak, demikian kata  Powers.

Penelitian ini melibatkan sekitar 300 anak yang berusia 8 tahun sampai 17 tahun, terdaftar di 31 pusat kesehatan. Anak-anak ini menderita rata-rata 11 kali migrain dalam satu bulan sebelum penelitian dimulai dan secara acak diberi minum salah satu obat tersebut atau pil plasebo setiap hari selama enam bulan. Frekuensi migrain yang dialami sebulan selama penelitian dibandingkan dengan frekuensi migrain yang dialami anak sebelum penelitian. Minimal setengah dari anak dalam setiap kelompok mencapai tujuan studi, di mana frekuensi migrain berkurang hingga setengah.

Efek samping obat sering terjadi, mencakup kelelahan, mulut kering dan pelupa. Hampir sepertiga anak yang diterapi dengan  topiramat juga mengalami sensasi kesemutan di tangan, lengan, tungkai bawah atau kaki. Ada satu anak yang diterapi dengan  topiramat melakukan usaha bunuh diri, sebagai efek samping topiramat.

Efek samping topiramat tidak terduga, tetapi berisiko. Hasil menunjukkan topiramat tidak boleh digunakan sebagai “terapi pencegahan yang pertama” untuk anak penderita migrain, demikian kata Powers.(AP/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular