Beberapa penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak anak-anak di dunia menderita kelebihan berat badan dan obesitas. Menurut penelitian Institut Kesehatan Nasional di Amerika Serikat, peningkatan kasus obesitas secara global telah menjadi “epidemi”. Kasus di Tiongkok  adalah kasus paradigma. Di Tiongkok, selain obesitas, kasus rabun jauh ( miopia ) juga meningkat pada anak-anak yang berisiko serius bagi kesehatannya.

Meskipun Jepang belum benar-benar berhasil mengatasi masalah obesitas, namun Jepang telah membuat kemajuan pengendalian kasus obesitas secara bermakna. Salah satu strategi yang digunakan di Jepang adalah merancang ulang makan siang di sekolah, yang semakin direncanakan dengan baik oleh ahli gizi, termasuk bahan makanan dan sayuran lokal yang segar dan mencakup berbagai makanan.

Di Tiongkok, sebuah penelitian selama 29 tahun terhadap 28.000 anak yang berusia tujuh tahun sampai 18 tahun dilakukan di timur Provinsi Shandong. Penelitian, yang diterbitkan dalam European Journal of Preventive Cardiology, menunjukkan bahwa 17 persen anak laki-laki dan 9 persen anak perempuan menderita obesitas pada tahun 2014. Hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan di mana pada tahun 1985 kasus obesitas pada anak laki-laki dan perempuan adalah di bawah 1 persen. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peningkatan kasus obesitas terutama tampak menyolok pada anak yang berusia 7 tahun sampai 12 tahun dibandingkan dengan anak usia remaja.

Temuan ini dikonfirmasi oleh Survei Kebugaran Nasional pada tahun 2014 yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan bersama dengan Administrasi Umum Olahraga Pemerintah Tiongkok. Survei, yang dirilis 25 November 2016, dilakukan di antara 347.294 siswa yang berusia 7 tahun sampai 22 tahun. Survei itu menyimpulkan bahwa tingkat obesitas di kalangan siswa di Tiongkok telah meningkat terus-menerus sejak tahun 2005. Namun, obesitas bukanlah masalah yang hanya terjadi di kalangan anak-anak tiongkok, karena satu dari tiga anak-anak Amerika Serikat juga menderita obesitas.

Tidak ada satu faktor pun yang menjelaskan tingginya tingkat obesitas di kalangan anak-anak Tiongkok, meskipun ada beberapa faktor yang berkontribusi dengan berbagai kepentingan dalam pengaturan dan situasi yang berbeda. Misalnya, banyak keluarga yang dulunya miskin, kini memberi makan secara berlebihan untuk anak-anaknya, terutama jika kakek nenek yang bertugas merawat cucunya.

Di antara anak-anak Tiongkok, salah satu faktor terpenting yang berkontribusi untuk faktor obesitas adalah tingginya konsumsi makanan kaya karbohidrat dan minuman yang manis. Propaganda jaringan makanan secara luas oleh McDonald dan Kentucky Fried Chicken telah membuat anak-anak dan orang dewasa di Tiongkok sangat menyukai makanan yang disediakan oleh gerai tersebut, yang biasanya sangat banyak mengandung kalori namun miskin zat gizi. Banyak anak-anak Tiongkok sekarang dapat mengenali citra Ronald McDonald, meskipun mereka tidak dapat membaca dalam bahasa Inggris.

Aktivitas fisik merupakan faktor penting lainnya, yang sering dikaitkan dengan peningkatan aktivitas menonton televisi secara signifikan. Telah terbukti bahwa setiap jam yang dihabiskan untuk menonton televisi dikaitkan dengan peningkatan 1-2 persen prevalensi obesitas di kalangan anak-anak perkotaan. Karena kebutuhan ekonomi, banyak anak-anak pedesaan Tiongkok  terlibat dalam pekerjaan lapangan, dan sebagai hasilnya anak-anak pedesaan Tiongkok lebih aktif bergerak daripada anak-anak perkotaan.

Anak-anak yang menderita kelebihan berat badan dan obesitas berisiko menderita beberapa masalah kesehatan yang serius seperti diabetes tipe 2, asma, dan gagal jantung. Oleh karena itu penting untuk melaksanakan serangkaian tindakan yang bertujuan meningkatkan tingkat aktivitas fisik di antara anak-anak,  baik di dalam dan di luar lingkungan sekolah dan melakukan kampanye pendidikan yang memperlihatkan risiko mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalori yang tinggi.

Survei Kebugaran Nasional pada tahun 2014 menunjukkan masalah serius lainnya di kalangan anak-anak dan remaja di Tiongkok : miopia. Menurut laporan survei ini, hampir 30 persen anak laki-laki dan lebih dari 32 persen anak perempuan yang berusia 7 tahun menderita miopia, sedikit meningkat dibandingkan dengan hasil survei pada tahun 2010, dan sekarang telah mencapai proporsi epidemi.

60 Tahun yang lalu hanya 10-20 persen populasi menderita miopia, namun sekarang ini hampir 90 persen remaja dan dewasa muda menderita miopia. Masalah ini menyebabkan bola mata yang sedikit memanjang berisiko mengalami masalah yang serius seperti ablasi retina, katarak, dan glaukoma.

Terlalu banyak membaca dan bekerja di depan layar komputer tampaknya lebih berisiko menderita miopia, karena hal ini menyebabkan kurangnya waktu yang digunakan untuk berolahraga dan kegiatan di luar ruangan sehingga memperburuk situasi. Seperti di banyak bidang kehidupan lainnya, keseimbangan yang baik antara belajar dengan kegiatan di luar ruangan dan berolahraga dapat mengurangi risiko miopia. Pada miopia, seperti halnya obesitas, pengaruh dan bimbingan orang tua adalah sangat penting. Semakin banyak pengetahuan orangtua dan kakek nenek mengenai risiko miopia, maka anak-anak akan menjadi semakin sehat.(Epochtimes/ César Chelala/Vivi)

César Chelala, M.D., Ph.D., adalah seorang konsultan kesehatan masyarakat global untuk PBB dan lembaga internasional lainnya.

Share

Video Popular