Oleh Li Ziwen

Kebijakan perdagangan Tiongkok – AS memelihara kediktatoran

HAM dan transaksi perdagangan telah menjadi poin penting dalam hubungan bilateral AS – Tiongkok sampai saat ini. Semenjak Presiden Nixon berkunjung ke Tiongkok, hubungan yang membeku itu mulai mencair.

AS bermaksud melalui kebijakan ‘kontak lembut’ dengan Tiongkok, mengubah blokade kediktatoran Partai Komunis Tiongkok/PKT melalui transaksi perdagangan, bukan  melalui aksi militer atau cara embargo.

Menghendaki semangat Amerika masuk ke Tiongkok yang nantinya secara bertahap mempromosikan demokrasi di negara itu. Tetapi tujuan itu tidak tercapai. Namun melihat hubungan perdagangan AS – Tiongkok yang berjalan hingga kini, Dana Rohrabacher menilai bahwa situasi yang terjadi sekarang ini adalah, AS justru yang membuat pejabat berwenang di Tiongkok berpengalaman dan mengantongi modal ekonomi yang cukup untuk melanjutkan kediktatoran.

Para taipan bisnis AS yang berinvestasi di Tiongkok itu hanya mewakili kepentingan mereka sendiri dengan tanpa melibatkan nilai-nilai bangsa AS. Melakukan bisnis hanya dengan elit Tiongkok yang jumlahnya sangat kecil.

Transaksi perdagangan semacam ini hanya membuat arus modal keluar AS, menghambat pembangunan dan memblokir lapangan kerja di beberapa sektor industri. Sedangkan di Tiongkok, selain masyarakat umum tidak mendapatkan manfaat praktis dari hubungan perdagangan Tiongkok – AS malahan memperoleh tekanan dan penindasan yang lebih keras setelah pemerintah otoriter semakin makmur.

Menurut Dana Rohrabacher pendekatan melalui pemisahan antara kepentingan ekonomi dengan kepentingan keamanan nasional yang selama ini diterapkan dalam hubungan bilateral dengan Tiongkok perlu segera dihentikan. Karena dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini, sistem ekonomi AS – Tiongkok yang terbentuk tersebut telah menghasilkan keuntungan materi bagi Tiongkok untuk mempertahankan kepemimpinan yang diktator dan kecukupan modal untuk menyuap pemerintah negara lain.

Sementara pemerintah yang otoriter umumnya menganggap pemerintahan negara sekawasan dan perdamaian dunia sebagai ancaman besar bagi mereka. Oleh karena itu akan lebih mudah bagi mereka untuk memprovaksi peperangan. Jika terpilih, hal pertama yang akan dilakukan adalah merevisi perjanjian perdagangan AS – Tiongkok.

“Mengakhiri situasi yang menguntungkan minoritas, khususnya untuk mencegah sebagian kecil penguasa Tiongkok yang selama ini memonopoli perdagangan Tiongkok – AS, justru memelihara kediktatoran,” kata Dana.

“Hanya orang-orang yang memiliki kebebasan mampu melakukan perdagangan secara bebas”, kata Dana.

Karena itu Amerika perlu memilih di antara satu, mau berdiri mendampingi  pemerintah yang diktator atau rakyat yang tertindas?

Selain itu, ketika wartawan menyinggung soal isu peristiwa Tiananmen 4 Juni 1989, Dana Rohrabacher mengatakan bahwa jika saat itu Ronald Reagen yang menjadi presiden, maka ia akan menggunakan segala upaya termasuk membekukan hubungan diplomatik untuk mencegah terjadinya penindasan berdarah terhadap gerakan demokrasi rakyat Tiongkok.

Ia yang juga memiliki pemikiran yang sama dengan Reagen, bila jadi masuk dalam kabinet Donald Trump nanti, akan menggunakan cara seperti Reagen menangani masalah dengan Uni Soviet, tanpa menggunakan senjata tetapi  cara yang damai untuk mendukung rakyat yang memperjuangkan nilai-nilai universal. (Sinatra/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular