Sebuah survei yang diselenggarakan “The Children’s Society”Inggris terhadap siswa kelas 10 siswa di Inggris, menyebutkan, bahwa sekitar 1/7 siswa pernah diabaikan orang tua. Hal ini menyebabkan beberapa diantara mereka terperosok dalam minuman keras, merokok dan bolos sekolah, dimana hal ini sangat tidak baik pada perkembangan kesehatan fisik dan mental mereka.

Puluhan ribu remaja diabaikan orang tua mereka

Laporan tersebut dirilis The University of York, the Children’s Society pada Selasa, (29/11/2016) lalu. Para peneliti dari University of York melakukan survei sampel terhadap sekitar 2000 remaja berusia 12 – 15 tahun dari 72 sekolah di Inggris. Para remaja ini ditanya tentang bagaimana sikap (perlakuan) orang tua sehari-hari terhadap mereka. Hasilnya menunjukkan, bahwa diantara remaja ini, setidaknya satu dari tujuh diantara mereka pernah mengalami beberapa bentuk pengabaian oleh orang tua mereka.

Perilaku berupa pengabaian orang tua dalam survei terkait meliputi : Tidak peduli ketika sang anak beraktivitas di luar, tidak segera memberikan perhatian ketika mereka jatuh sakit, tidak tertarik terhadap pendidikan mereka. tidak bisa memberikan dukungan emosional atau dorongan semangat ketika mereka menemui masalah.

Menurut jawaban siswa, bahwa kurangnya dukungan emosional dan mengabaikan pengawasan adalah bentuk yang paling umum. Kurangnya dukungan emosional lebih memungkinkan menyebabkan sang remaja melakukan beberapa tindakan yang berisiko. Di antara mereka yang diabaikan orang tuanya, jumlah remaja yang pernah terperosok dalam minuman keras baru-baru ini hampir dua kali dari rekan-rekan sebaya mereka, tiga kali dalam hal merokok dan lebih dari dua kali dalam hal bolos sekolah.

Laporan tersebut menyebutkan, bahwa studi ini dengan jelas menunjukkan bahwasannya perhatian dan dukungan emosional orang tua berperan penting terhadap kesejahteraan anak-anak muda. Anak muda yang diabaikan lebih rentan merasa tidak puas terhadap hidupnya, pesimis tentang masa depan, dan kurang percaya diri. Jika, dalam jangka waktu tertentu, remaja itu diabaikan orang tuanya dengan pola yang beragam, maka pikiran-pikiran negatif mereka akan lebih serius. Sementara di sisi lain, anak-anak yang selalu didukung oleh orang tuanya mungkin akan lebih sehat (pola pikir).

Tidak seharusnya membiarkan setiap anak itu merasa tidak ada yang peduli padanya. “Orang-orang acapkali menganggap anak-anak muda jauh lebih keras kepala/semaunya daripada anak kecil, namun mereka masih perlu perhatian orang tua untuk memenuhi kebutuhan mereka, mendukung pendidikan dan menjamin keselamatan mereka,” kata Matthew Reed, direktur eksekutif the Children’s Society.

Sementara itu, peneliti senior Phil RAWs mengatakan, di satu sisi orang tua perlu mengawasi dan mendidik anak-anak mereka, sementara di sisi lain anak-anak muda harus mandiri, sehingga terjadi hubungan yang tegang antara keduanya.

Oleh karena itu, dari laporan tersebut dapat dilihat, bahwa diantara anak-anak usia 14-15 tahun, dimana jika orang tuanya selalu tak lupa menanyakan apa saja yang mereka lakukan saat berada di luar, maka mereka akan merasa bahagia, karena ada yang peduli.

Raws mengatakan, the Children’s Society akan lebih seksama mempelajari dan mendiskusikan masalah ini di masa depan. Untuk menghadapi tantangan ini, dia menyarankan agar menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan remaja, dan membangun hubungan kepercayaan jangka panjang.

Senada dengan itu, Reed juga berharap dapat memberikan dukungan dan saran yang lebh baik kepada orang tua yang memiliki anak-anak muda di rumah. “Karena kurangnya panduan khusus terhadap orang tuanya anak-anak muda, sehingga kita perlu memberikan lebih banyak dukungan kepada para orang tua ini, bukan menyalahkan mereka. Masyarakat kita tidak boleh mencampakkan anak-anak muda ini.” (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular