Sebuah studi menyatakan bahwa tingkat kebugaran, bukan jumlah waktu yang Anda habiskan untuk duduk lama setiap hari, bisa memperkirakan penyakit ataupun panjang pendeknya umur Anda.

Dalam studi dari Norwegia, penulis mengamati 495 wanita dan 379 pria, berusia 70 sampai 77 tahun. Mereka mengukur jumlah jam duduk dengan akselerometer dan kebugaran jantung-paru dengan jumlah puncak pengambilan oksigen (puncak VO2). Kebugaran jantung-paru adalah kemampuan jantung dan paru-paru untuk menyediakan darah berisi oksigen yang membuat otot berkontraksi dalam waktu lama.

Peneliti menemukan bahwa orang yang menghabiskan 12 sampai 13 jam duduk setiap harinya, memiliki 75 persen faktor risiko lebih besar terkena serangan jantung, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, lingkar pinggang yang besar, tekanan darah tinggi, dan kadar gula yang tinggi, daripada orang lain.

Bahkan jika mereka duduk selama 12 atau 13 jam dan tidak melakukan latihan fisik dalam jumlah yang sesuai rekomendasi setiap harinya, orang yang paling bugar secara fisik adalah 40 persen lebih kecil memiliki faktor risiko serangan jantung.

Orang-orang yang berolahraga namun tidak bugar secara fisik tidak terlindung dari faktor risiko serangan jantung.

Sebuah studi baru dari Rotterdam, Belanda, menunjukkan bahwa orang yang teratur berolah-raga, secara signifikan hidup lebih lama dan lebih sedikit mengalami serangan jantung daripada orang yang tidak rutin berolahraga. Bagi rata-rata penduduk Rotterdam, bersepeda membuat tingkat kebugaran tertinggi dan dihubungkan dengan usia yang lebih panjang 3,7 tahun daripada orang yang tidak rutin bersepeda.

Duduk tidak akan mengurangi efek olahraga rutin

Sepertinya, meminta orang untuk berdiri saat bekerja, dan bukannya duduk, bukanlah nasehat yang bagus. Berdiri tanpa bergerak, juga tidak lebih baik dan malah membuat Anda menjadi lebih lelah untuk berolahraga dengan semangat usai bekerja. Jika Anda suka berolahraga keras, berdiri sepanjang hari akan membuat pemulihan tubuh setelah berolahraga, menjadi lebih lambat.

Studi yang telah dipublikasikan, mengatakan bahwa duduk berefek tidak baik bagi orang yang suka berolahraga, adalah penuh keraguan, karena tidak dibedakan antara orang yang berolahraga sesekali dengan orang yang rutin berolahraga. Tidak seorang pun yang berhasil menunjukkan bahwa berdiri membawa manfaat kesehatan yang lebih baik daripada duduk, dan bahwa berdiri tanpa bergerak bisa menyebabkan masalah lain, seperti varises dan kaki bengkak.

Otot yang sedang berkontraksi mensirkulasikan lebih banyak darah untuk memperkuat jantung dan mengambil gula dari aliran darah untuk menurunkan kadar gula darah. Hal ini tidak terjadi ketika Anda hanya berdiri dalam satu posisi tanpa menggerakkan otot.

Daripada mendorong orang melakukan olahraga kecil disela-sela bekerja, pihak manajemen seharusnya mendorong orang berolahraga dengan lebih intens, dan dilakukan pada fasilitas olahraga yang cukup lengkap di tempat kerja ataupun pada saat waktu senggang mereka.

Alat latihan yang dilengkapi dengan treadmill ataupun pedal seharusnya direkomendasikan hanya untuk orang yang tidak mampu berolahraga dengan sebagaimana mestinya. Bergerak sambil berusaha untuk berkonsentrasi kerja, membaca, atau apa pun yang membuat Anda hanya sedikit menggerakkan otot, dan tidak membuat otot menjadi lebih kuat atau menambah ketahanan. Anda tidak bisa meningkatkan kemampuan untuk mengambil dan menggunakan oksigen kecuali Anda berolahraga dengan cukup keras sampai kehabisan nafas, dan hal ini tidak akan penah terjadi jika Anda berlatih di treadmill.

Duduk lama membahayakan orang yang jarang berolahraga

Orang tua yang senang bergerak, akan hidup lebih lama daripada mereka yang duduk terus, dan orang tua yang jarang bergerak kemudian menjadi lebih aktif, hidup lebih lama daripada yang jarang bergerak. Dalam studi ini, berarti lebih banyak seseorang duduk, lebih banyak mereka akan mengalami hal-hal berikut ini:

• Kadar gula darah tinggi
• Pingang yang besar (sebuah tanda kadar gula darah yang tinggi)
• Berat badan berlebih
• Tekanan darah tinggi
• Peradangan parah (seperti diindikasikan oleh hasil tes darah CRP yang tinggi)
• Sakit jantung
• Diabetes
• Kebiasaan merokok

Permasalahan penelitian tentang duduk

Kebanyakan studi yang menunjukkan lama duduk akan berakibat buruk, hanya berfokus pada satu indikator, seperti duduk membuat laporan, menonton TV dan melihat layar monitor, atau waktu yang dihabiskan untuk bepergian di dalam mobil.

Sebuah studi terbaru telah memperbaiki hal ini dengan menganalisa total waktu latihan. Dr. Richard Pulsford dari Universitas Exeter Inggris, telah meneliti 3.720 pria sehat dan 1.412 wanita sehat selama 16 tahun dan menemukan bahwa total jam duduk (termasuk duduk saat bekerja, sambil menonton TV, dan selama waktu santai dengan atau tanpa TV) tidak berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian selama masa studi tersebut.

Penulis mengoreksi data mereka pada usia, gender, status sosial ekonomi, status perokok, konsumsi alkohol, diet, dan kesehatan umum. Mereka menunjukkan bahwa, jumlah jam duduk yang panjang tidak merusak kesehatan jika Anda rutin berolahraga.

Laporan sebelumnya yang menjadi berita utama, dari Universitas Toronto, meninjau 47 studi dan menemukan bahwa duduk lama delapan jam lebih sehari berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian karena sakit jantung, diabetes, dan kanker, bahkan jika orang tersebut berolahraga. Penulis yakin bahwa orang akan mengalami hal buruk karena menghabiskan waktu empat atau lima jam sehari dengan duduk, termasuk mengemudi mobil, mengunakan komputer, atau menonton televisi.

Satu studi menyebutkan dalam tinjauannya bahwa orang yang duduk kurang dari delapan jam sehari mempunyai risiko 14 persen lebih sedikit mengalami masalah kesehatan. Studi lain juga mengasosiasikan waktu duduk yang lama dengan meningkatnya risiko penambahan berat badan, penyakit, dan kematian dini. Namun, secara virtual bisa dilihat bahwa tidak ada satupun dari orang-orang ini yang cukup berolahraga untuk mencapai kondisi kebugaran yang tinggi, apalagi mencapai kondisi yang cukup untuk berkompetisi dalam sebuah cabang olahraga.

Sebuah studi terbaru lain menunjukkan bahwa waktu duduk yang lama berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit lemak hati dan kanker pada wanita namun tidak pada pria. Kedua studi ini tidak memisahkan antara orang yang berolahraga keras, dengan orang yang sesekali berolahraga atapun orang yang tidak rutin berolahraga.

Kesimpulan

  1. Setiap orang harus menggerakkan otot-ototnya untuk tetap bugar.
  2. Sebuah tingkat kebugaran yang tinggi adalah sebuah indikasi yang jauh lebih baik untuk umur panjang dan kebebasan dari penyakit, daripada pengukuran jumlah waktu duduk dan berdiri.
  3. Jika pekerjaan Anda mengharuskan Anda duduk  lama ataupun berdiri diam, seimbangkan efek dari posisi tidak aktif ini dengan program olahraga yang keras untuk menjaga tubuh Anda tetap bugar. (Epochtimes/Jls/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular