JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan upaya memanfaatkan massa yang mengelar aksi 212 untuk menduduki gedung DPR/MPR RI gagal total setelah polisi menangkap 11 aktivis pimpinan aksi dugaan makar sebelum aksi berlangsung.

“Intinya dengan langkah ini kegiatan 212 aman tak ada insiden, berarti gerakan upaya aksi kekerasan di DPR yang mana bagian tokoh utamanya kita tangkap waktu subuh, maka yang bagian lapangan jadi bubar, istilahnya gagal total,” kata Kapolri Jenderal Tito saat rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Gedung DPR RI, Senin (5/12/2016).

Pada rapat kerja tersebut, Titi menuturkan pihak kepolisian mengindikasikan adanya kelompok ingin memanfaatkan jumlah massa untuk agenda kepentingan politik mereka.  Agenda yang direncanakan kelompok ini mulai tuntuan kembali kepada UUD 1945 dengan cara menduduki paksa gedung DPR/MPR.

Menurut Tito, upaya yang dilakukan kelompok ini dengan membajak massa demo 212 untuk dibawa ke DPR. Selanjutnya, massa ini dimanfaatkan untuk  melaksanakan sidang umum Istimewa DPR/MPR RI dengan agenda pemakzulan pemerintahan yang sah.

Pada kesempatan itu, Tito menuturkan agenda pemakzulan pemerintah yang sah diperoleh berdasarkan kegiatan intelijen. Oleh karena itu, kepolisian menilai adanya indikasi pemufakatan jahat dengan indikasi makar.

Menurut Tito, kritik kepada pemerintah bukan suatu hal yang tabu untuk dilakukan  dan semua pihak boleh menyampaikan aspirasi mereka berdasarkan koridor hukum. Namun jika kemudian datang ke gedung DPR/MPR dengan menduduki secara paksa maka tindaka demikian dinilai inskonstitusional bagi lembaga polri.

Terkait kejadian, Kapolri mengatakan pihak sudah melakukan pendekatan kepada penggagas aksi massa 212 serta menegaskan aksi mereka murni sebagai tuntutan proses hukum kepada Ahok. Menurut Tito, pesan-pesan yang disampaikan tersebut tak bertujuan kepada masyarakat secara luas. Akan tetapi ditujukan kepada kelompok tersebut agar menghentikan aksi mereka untuk menghentikan pemanfaatan massa aksi 212.

“Pernyataan itu bukan kepada masyarakat atau kelompok untuk tuntutan proses hukum kepada ahok, tapi menyampaikan pesan kepada kelompok lainnya kami minta mereka menghentikan agenda mereka,” kata Tito.

Menjelang aksi 212 sebanyaj 11 orang ditangkap kepolisan dengan jeratan hukum ITE dan pasal makar.  Mereka adalah Eko Suryo Santjojo, Adityawarman Thahar, Kivlan Zein, Firza Huzein, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, Alvin Indra, Ahmad Dhani, Jamran dan Rizal. Semuanya sudah dilepas pihak kepolisan kecuali Sri Bintang Pamungkas. (asr)

Share

Video Popular