Pada bulan Agustus 2016, di Bendahara Australia bernama Scott Morrison terpampang pesan-pesan bahwa “Australia memiliki generasi yang tumbuh yang mengharapkan bantuan pemerintah”.

Peneliti telah memberi label “Me Generation”.  Bahkan beberapa peneliti mengatakan kita menghadapi “Epidemi aku, aku, aku”.

Jadi, mengapa orang muda sekarang ini menjadi lebih narsis? Menurut penelitian, penurunan tingkat empati pada anak muda sebagian diakibatkan oleh perubahan pola asuh yang muncul pada tahun 1980-an.

Di masa lalu, orang tua menganggap anak sebagai sarana memperoleh dukungan praktis dan bahkan dukungan keuangan untuk kelangsungan hidup keluarga dan untuk memajukan keluarga. Namun sekarang, anak dianggap sebagai aset emosional yang harus dicintai. Orang tua sekarang cenderung lebih menekankan pada pengembangan kebahagiaan dan keberhasilan anaknya.

Apa yang menyebabkan perubahan pola ssuh orang tua?

Sejak tahun 1980-an, anak lebih sedikit menghabiskan waktu untuk melakukan pekerjaan rumah karena kondisi hidup dan teknologi—termasuk penemuan mesin cuci baju dan mesin cuci piring—yang semakin membaik.

Saat ini anak tidak lagi dianggap sebagai kontributor penting yang bekerja untuk kelangsungan hidup keluarga dan berkemampuan memajukan keluarga.

Fokus orang tua telah bergeser dari pengembangan tanggungjawab anak terhadap keluarga menjadi pengembangan kebahagiaan dan kesuksesan anak.

Akibatnya, anak lebih mengutamakan haknya, tanpa menghiraukan pengambangan tanggungjawab. Jadi pekerjaan rumah tangga tidak dihargai lagi.

Hal ini terutama terjadi pada orang muda di Tiongkok, yang sering dijuluki “kaisar kecil” dan “putri raja kecil”,  yang lahir di bawah kebijakan satu anak antara tahun 1979 sampai tahun 2015.

Orang tua anak-anak ini, yang sebagian besar telah melalui masa-masa sulit di Tiongkok seperti Kelaparan Besar dan Revolusi Kebudayaan, bersumpah untuk tidak membiarkan apa yang telah mereka derita akan terjadi pada anak tunggalnya. Orangtua ini sangat rela berkorban demi anaknya, yang mengakibatkan banyak anak tidak memikul tanggungjawab keluarga, termasuk pekerjaan rumah tangga.

Hal ini juga terjadi pada anak-anak di dunia Barat. Penelitian telah menunjukkan bahwa kurang dari 30 persen orang tua Amerika Serikat meminta anak-anaknya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

Seperti dikatakan Richard Rende di dalam bukunya berjudul “Raising Can-Do Kids” : “Orangtua sekarang ini ingin anak-anaknya menghabiskan waktu pada hal-hal yang dapat membawa anak-anaknya menuju kesuksesan, tetapi ironisnya, kita sudah berhenti melakukan satu hal yang benar-benar menjadi prediktor kesuksesan yang terbukti manjur—yaitu melakukan pekerjaan rumah tangga”.

Bagaimana tanggungjawab bisa mengembangkan ikatan keluarga

Secara tradisional, pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban keluarga. Pekerjaan rumah tangga sulit dilakukan serta membosankan.

Tetapi penelitian menunjukkan melibatkan anak dalam  melakukan pekerjaan rumah tangga secara rutin akan membantu anak mengembangkan rasa keadilan sosial, karena setiap orang harus melakukannya di dalam kehidupannya, yang menanamkan gagasan keadilan. Pekerjaan rumah tangga juga merupakan sarana bagi anak untuk menumbuhkan ikatan keluarga dan rasa tanggungjawab.

Perkembangan keadilan sosial pada anak berarti bahwa anak  melihat hubungannya dengan orang tua sebagai hubungan dua arah, bukan hubungan sepihak saja.

Sebuah ikatan keluarga memiliki dua dimensi yang saling terkait: yaitu orang tua mengasihi anak dan anak berterima kasih atas pengorbanan orang tuanya.

Sebagai penutup, hanya melalui penalaran moral dan, yang lebih penting, disiplin (melakukan pekerjaan rumah tangga) dapat menerjemahkan cinta orang tua menjadi cinta yang bermutu antara orangtua dan anak sehingga ikatan keluarga menjadi berkembang.( Epcohtimes/Shi Li/Vivi)

Shi Li, dosen bahasa dan kebudayaan Tiongkok di Universitas New England.

Share
Kategori: Headline KELUARGA

Video Popular