Kita sering mengatakan,  “Di angkasa nun jauh di sana….planet-planet di angkasa itu sebenarrnya tidaklah jauh dari kita, karena asteroid, komet pernah menghantam bumi, mungkin di kemudian hari masih akan menghantam bumi, dan sinar kosmik berenergi tinggi kini sedang menerobos bumi bahkan menembusi tubuh kita masing-masing setiap saat.”

Seperti dilansir dari BBC baru-baru ini, umat manusia pernah mengalami berbagai bencana, seperti Zaman Es yang  muncul secara tiba-tiba, wabah dan aktivitas geologi yang intens seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi dan sebagainya.

Saat ini, umat manusia tengah menghadapi era datangnya berbagai bencana, dan perlu diketahui bahwa bencana itu bukan hanya dari Bumi, tapi akan datang dari luar angkasa, yaitu ruang angkasa yang maha luas tempat hunian kita. Karena angkasa sedikit pun tidak jauh jaraknya dengan kita.

 Ilustrasi asteroid menabrak bumi.(Wikipedia)
Ilustrasi asteroid menabrak bumi.(Wikipedia)

Salah satu contoh yang paling sederhana dapat mengingatkan kita untuk merenung adalah kepunahan dinosaurus pada 66 juta tahun silam itu disebabkan oleh sebuah komet raksasa yang menghantam bumi.

Pada 1980 lalu, fisikawan Luis Alvarez dan ilmuwan lainnya menemukan, bahwa iridium dalam batuan berasal dari ruang angkasa, dan di setiap belahan di bumi mengandung batuan yang kaya akan iridium.

Menurut pengukuran kadar dari unsur iridium, para ilmuwan memperkirakan bahwa pada masa dahulu kala, sebuah komet berukuran 10 kilometer menabrak bumi, melepaskan jutaan kali energi yang lebih kuat dari bom hydrogen, bumi menjadi lautan api, kemudian menyisakan puing-puing dan debu yang menutupi matahari, dan dalam beberapa tahun kemudian bumi menjadi dunia yang dingin.

Pada 1991, masa terbentuknya sebuah kawah selebar 160 km di Semenanjung Yucatán, Tenggara Meksiko itu sesuai dengan dugaan Alvarez et dan rekan-rekan. Oleh karena itu, orang-orang bisa dengan lebih jelas menjabarkan suasana bencana komet menabrak bumi yang menyebabkan kepunahan dinosaurus kala itu.

Sementara itu, pada Maret 2016 lalu, peneliti dari Japan Spaceguard Association memperkirakan, bahwa suatu periode tata surya pernah menerosbos awan molekul, menyebabkan matahari tertutup oleh debu, dan segenap bumi mengalami bencana berupa suhu rendah.

Para ilmuwan menyadari, bahwa Bumi akan menghadapi bencana secara berkala. Pada 1984, ilmuwan AS Daniel Whitmire dan ilmuwan lain mengemukakan, bahwa siklus penghancuran kehidupan di atas bumi adalah 26 juta tahun. Pada 2010, astrofisikawan Adrian Mellot dari University of Kansas dan rekannya telah menyelidiki fosil, menyimpulkan masa penghancuran periodic yang serupa-(27 juta tahun).

Banyak faktor yang menyebabkan penghancuran, sinar kosmik energi tinggi adalah salah satu sebabnya. Karena sinar kosmik dapat menghancurkan DNA organisme, dan mengakibatkan kematian. Selain itu, sinar energi tinggi juga dapat merusak lingkungan.

Sinar energi tinggi meliputi sinar gamma, X-ray dan sebagainya, serta particle-beam atau pancaran partikel dari letusan energi surya.

Pada 2012, terjadi letusan ekstrim pada matahari, untungnya badai matahari yang super kuat itu tidak menuju ke Bumi, sehingga tidak mengalami gangguan yang siginifikan seperti yang pernah terjadi pada jaringan listrik di Kanada akibat badai matahari pada tahun 1989 lalu. (Epochtimes/lin yan/joni/rmat)

Share

Video Popular