Penelitian baru mempertanyakan nilai mammogram untuk skrining kanker payudara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa seorang wanita lebih sering didiagnosis dengan tumor kecil yang tidak tumbuh menjadi besar daripada tumor yang benar-benar bermasalah di awal.

Apakah bahaya skrining lebih besar daripada manfaatnya? Skrining hanya berharga jika menemukan kanker payudara yang akan membunuh si penderita, dan jika melakukan terapi terhadap kanker payudara sedini mungkin akan meningkatkan kelangsungan hidup dibandingkan melakukan terapi pada saat sudah timbul gejala.

Mammogram mendeteksi beberapa jenis kanker yang mematikan dan menyelamatkan nyawa. Namun, mammogram juga menemukan banyak kanker dini yang tidak ditakdirkan untuk tumbuh atau menyebar dan tidak mengancam jiwa. Begitu banyak wanita melakukan mammogram walau tidak benar-benar perlu. Ini masalah ganda: diagnosis berlebihan dan terapi berlebihan.

Mammogram “adalah suatu nilai penghakiman. Ini adalah pilihan dan sangat penting untuk wanita pahami manfaat dan bahaya mammogram,” kata pemimpin penelitian Dr. H. Gilbert Welch dari Dartmouth Medical School.

Dr. H. Gilbert Welch telah lama berpendapat bahwa mammogram dilakukan secara berlebihan.

Bagaimana studi ini dilakukan

Peneliti menggunakan survei beberapa puluh tahun yang lalu yang dilakukan terhadap mamografi dan regsitri statistik penderita kanker untuk melacak berapa banyak kanker ditemukan ketika kecil — di bawah 2 cm, atau sekitar tiga-perempat inci – ketika besar, ketika lebih cenderung mengancam jiwa.

Peneliti memperkirakan tingkat kematian sesuai dengan ukuran tumor selama dua periode – tahun 1975 hingga tahun 1979, sebelum mammogram secara luas digunakan, dan periode terakhir tahun 2000 hingga tahun 2002.

Pada periode awal, sepertiga kanker ditemukan kecil. Pada periode terakhir, dua-pertiga kanker ditemukan kecil. Tetapi perubahan itu sebagian besar karena skrining mammogram menyebabkan begitu banyak kanker yang terdeteksi secara keseluruhan, dan sebagian besar ditemukan kecil – 162 lebih kasus tumor kecil per 100.000 perempuan, dibandingkan hanya 30 lebih kasus tumor besar per 100.000 perempuan.

Dengan asumsi bahwa jumlah sebenarnya dari kasus kanker pada populasi stabil, ini berarti bahwa 132 kasus per 100.000 wanita telah didiagnosis berlebihan.

“Besarnya ketidakseimbangan menunjukkan bahwa wanita lebih sering menderita tumor yang didiagnosis berlebihan daripada menderita tumor yang dideteksi dini yang ditakdirkan untuk menjadi besar”, tulis para penulis.

Selanjutnya, peneliti memperkirakan berapa banyak penurunan kematian sejak mamografi mulai digunakan untuk deteksi tumor dini dibandingkan untuk mengobati penyakit dengan cara yang lebih baik. Peneliti menyimpulkan bahwa paling sedikit dua-pertiga dari penurunan kematian karena pengobatan yang lebih baik -temuan yang sama juga ditemukan oleh penelitian lain.

“Tentang ukuran, tapi itu bukan keseluruhan cerita, dan bukan merupakan tanda terbukti seberapa agresif tumor secara biologis,” kata Dr. Kathryn Evers, direktur mamografi di Fox Chase Cancer Center di Philadelphia. “Tumor harus ditemukan sebelum tumor diobati, dan mamografi sejauh ini adalah cara terbaik untuk menemukan tumor pada wanita yang tidak merasakannya.”

Sebuah pernyataan dari American College of Radiology and the Society of Breast Imaging mengatakan “Kanker lebih kecil menghasilkan hasil terapi yang lebih baik bagi wanita”.

“Ketika kita menemukan kanker payudara secara dini, wanita memiliki harapan hidup yang jauh, jauh lebih baik,” kata Dr. Robert Smith, ketua skrining Masyarakat Kanker Amerika Serikat.

Pedoman utama setuju bahwa wanita yang berusia di atas 60 tahun mendapatkan manfaat maksimal dari mammogram. Pemerintah menganjurkan skrining kanker payudara setiap tahun dimulai pada wanita berusia 50 tahun, dan wanita yang berusia 40 tahun menimbang pro dan kontra mammogram.

Penelitian ini hanya berlaku untuk skrining mammogram, bukan untuk kasus yang sudah didiagnosis karena ada masalah yang dicurigai, dan hanya untuk wanita yang berisiko, tidak untuk wanita dengan mutasi gen yang membuat ia lebih rentan terhadap kanker.(AP/Vivi/Yant)

Share

Video Popular