11 tahun yang lalu, di sebuah desa sekitar 120 km barat daya kota Calcutta, India, tiba-tiba terdengar isak tangis yang memilukan dari sebuah keluarga. Setelah ditelusuri ternyata seorang bocah keluarga ini digigit ular berbisa.

Orang tua sang bocah yang panik tak berdaya berusaha dengan berbagai cara untuk menyembuhkan anaknya, namun, karena pengaruh adat dan tradisi India, mereka pun menggunakan cara yang kurang ilmiah.

Mereka mengundang orang pintar untuk menyembuhkan anaknya. Meminta ramuan (obat) dari orang pintar dan memberi minum ramuan yang aneh, memanggil-manggil nama sang bocah. Namun semua cara ini gagal mempertahankan hidup sang bocah.

Bocah yang berusia 8 tahun bernama Subhash Boge mulai meronta karena reaksi bisa ular, tapi lama kelamaan semakin lemah, hingga akhirnya diam tak bergeming.

Orang tua Boge yang berduka lalu mendengarkan saran dari para tetua desa, jenazah bocah ini kemudian dibalut dengan kain kanfas dan diletakkan di atas papan kayu kemudian dibiarkan hanyut bersama aliran sungai.

Ritual pemakaman tradisional di India yang disebut water burial (menghanyutkan jenazah mengikuti arus sungai) ini merupakan ritual kuno di desa tertinggal di daerah timur India. Sesuai tradisi disana, seseorang yang sudah meninggal tidak boleh dikubur, tapi dihanyutkan ke sungai mengikuti arus air.

Melihat tubuh kecil anaknya yang mengapung hanyut semakin jauh dari pandangan, perasaan orang tua sang bocah pun semakin pedih. Namun, bocah malang itu sudah meregang nyawa, mereka hanya bisa pasrah dan pulang ke rumah, melanjutkan hari demi hari mereka.

Seiring dengan berlalunya waktu, bayangan Boge semakin redup dalam benak keluarga di rumah. Orang-orang desa juga sudah lupa pernah ada seorang bocah nakal bernama Boge di desa. Namun, 11 tahun kemudian, tiba-tiba terjadi hal yang mengejutkan.

Hari itu, keluarga Subhash tiba-tiba terbenam dalam suasana yang tegang, segenap anggota keluarga ini berkumpul di pintu desa, seakan-akan gelisah menunggu sesuatu. Orang-orang desa juga dibuat heran dengan tingkah laku mereka, lalu bertanya pada apa sebenarnya yang terjadi.

Salah satu anggota keluarga tertua dengan rasa haru mengatakan, “Boge akan segera pulang!”

Orang-orang desa pun terkejut mendengarnya, Boge sudah meninggal puluhan tahun, bagaimana mungkin hidup kembali. Namun, dari kejauhan tampak seseorang yang membuat mereka tercengang. Terlihat seorang pemuda usia 20-an bersama isterinya berjalan ke desa. Segenap keluarga Subhash segera berhamburan keluar dan mencengkram pemuda itu sambl menatap dengan seksama.

Ibu sang pemuda yang sudah senja itu pun menangis terharu, “Inilah Boge kami.”

Orang-orang desa yang mengenal Boge lalu mendekat sambil memandang dengan seksama, tampang pemuda ini memang sangat mirip dengan Boge yang dikenal. Tampang Boge yang sekarang setelah tumbuh dewasa.

Boge yang telah meninggal 11 tahun lalu kini kembali ke desa, dan bagaikan bersayap, berita ini pun tersebar ke seantero desa. Dalam radius puluhan mil orang-orang berbondong-bondong datang untuk melihat apa gerangan yang terjadi. Bukankah Boge sudah meninggal digigit ular berbisa? Kenapa tiba-tiba muncul lagi 11 tahun kemudian?

Bukan saja orang tua Boge ingin mengetahui tanda tanya ini, penduduk desa yang pernah melihat Boge hidup kembali pun ingin tahu. Orang tua Boge menarik tangan salah satu kerabatnya sambil mengatakan, untung ada kerabatnya, kalau tidak putra kandungnya itu akan jadi gelandangan selamanya di luar. Lantas apa yang terjadi sebenarnya?

Subhash Boge, bocah 8 tahun silam yang meninggal karena gigitan ular berbisa. (Internet)
Subhash Boge, bocah 8 tahun silam yang diduga telah meninggal karena gigitan ular berbisa. (Internet)

Tanda tanya terkait Boge yang hidup kembali ini mungkin masih logis seandainya saat setelah dihanyutkan ketika itu Boge masih hidup. Lalu apa sebenarnya yang terjadi selama 11 tahun ini, apa mungkin tertidur selama itu lalu tiba-tiba siuman dari tidur panjangnya? Jawabannya tentu bukan begitu, Boge sudah siuman, hanya saja ia tidak bisa pulang ke rumah.

Hal ini harus diawali dari beberapa minggu lalu. Ketika itu, salah seorang kerabat Subhash berjalan di sekitar kota kecamatan. Saat berjalan di pasar, tiba-tiba ia melihat seraut wajah yang tidak asing di matanya. Wajah bocah ini tampak familiar, sepertinya pernah melihatnya. Ketika akan lewat berlalu dengan bocah ini, tiba-tiba terlintas dalam benaknya, “Kamu Boge, ya ?”

Bocah itu termangu sesaat ketika ditanya seperti itu, dan saat hendak minta maaf  karena mengira salah mengenal orang, tiba-tiba bocah itu terkejut bertanya apakah dia kenal siapa dirinya, dan bertanya siapa sebenarnya Boge yang disebutnya ini.

Kerabat Subhash ini pun tercengang, menyalahkan dirinya terlalu ceroboh. Boge telah meninggal 11 tahun yang lalu, bagimana boleh bertanya sembarangan pada seseorang yang mirip dengan Boge. Tapi tak disangka, kata-kata yang diucapkan pemuda ini membuatnya terkejut, pemuda ini mengatakan bahwa sudah lama ia kehilangan memori dan tidak ingat lagi dengan semua yang terjadi di masal lalu. Karena itu dia tidak tahu siapa dirinya.

Baru-baru ini seorang tua yang menyelamatkannya mengatakan kepadanya, bahwa ia adalah bocah yang diselamatkan dari sebuah rakit yang mengapung di sungai pada 11 tahun silam.

Ternyata pada 11 tahun yang lalu, orang tua yang tinggal di sekitar sungai ketika itu melihat sebuah rakit, dan saat melihat lebih dekat. Ia melihat seorang seorang bocah tergeletak di atasnya, dan sebagai tetua ia tahu kalau itu adalah pemakaman jenazah dengan cara menghanyutkannya ke sungai. Ketika hendak pergi, tiba-tiba ia melahat bocah itu masih bernafas.

Orang tua yang baik hati ini pun kemudian membawa pulang sang bocah dan diobati. Setelah beberapa hari dirawat dengan telaten, bocah itu akhirnya siuman, tapi ia tak ingat apa-apa lagi dengan masa lalunya. Ia tidak tahu lagi siapa dirinya dan tidak tahu dulu tinggal dimana.

Kemudian, bocah ini tinggal di desa itu dan hidup bersama dengan orang tua yang menyelamatkannya. Setelah tumbuh dewasa, ia pun menikah dengan gadis desa setempat. Belakangan, di tengah obrolannya, orang tua itu menceritakan segalanya pada Boge.

Kerabat Subhash yang mendengar itu semua, akhirnya paham kalau sang bocah di hadapannya ini adalah Boge yang dulu dikira telah meninggal. Kerabat Boge ini menceritakan hal yang sebenarnya pada Boge dan akan mempertemukan Boge dengan kedua orang tuanya di desa.

Akhirnya, “anak yang pernah tiada” itu pun kembali ke desa, dan sekeluarga menangis haru sambil berpelukan. Meskipun ingatan Boge belum sepenuhnya pulih, tapi dengan adanya anggota keluarga yang membawanya jalan-jalan di setiap pelosok desa, mungkin bisa membangkitkan kembali ingatannya yang terlelap, mengingat kembali ayah-ibunya dan sebab yang membuatnya berbaring di atas rakit ketika itu.

“Seorang anak yang telah tiada” yang diselamatkan setelah dihanyutkan bersama arus sungai, namun, lupa dengan dirinya setelah siuman. Hal semacam ini persis seperti alur cerita dalam film. Namunbagi orang tua Boge, tidak peduli seberapa aneh dunia ini, ia bersyukur.

“Cukuplah bagi saya bisa mendapatkan kembali anak saya dalam keadaan sehat,” katanya. (Secretchina/jeff/joni/rmat)

Share

Video Popular